PD OPI Aceh

Tidak Ada Kemenangan Tanpa Kekuatan dan Tidak Ada Kekuatan Tanpa Persatuan

Organisasi Pelajar Islam (OPI)

Intelektual, Integritas, Akhlakul Karimah

www.pdopiaceh.com

Dikelola oleh Bidang Informasi dan Komunikasi PD OPI Aceh

Kabid Infokom

Sabtu, 10 Maret 2018

EMPAT ETIKA PERSAHABATAN MENURUT IMAM AL-GHAZALI



Manusia tidak dapat hidup sendiri dan butuh orang lain untuk tetap bertahan hidup. Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politicon, yaitu makhluk sosial. Dikatakan makhluk sosial karena tanpa teman dan berinteraksi dengan orang lain mustahil manusia betah hidup di dunia. Oleh sebab itulah, Allah SWT  menciptakan Adam beserta Hawa agar manusia terus berkembang dan hidup bersama-sama.

Untuk mememuhi kebutuhan sosial tersebut, manusia butuh pertemanan atau persahabatan. Imam al-Ghazali mengibaratkan pertemanan ibarat akad nikah. Konsekuensi dari akad tersebut adalah seseorang diharuskan untuk memenuhi hak-hak pasangannya. Imam al-Ghazali mengatakan:

اعلم أن عقد الأخوة رابطة بين الشخصين كعقد النكاح بين الزوجين وكما يقتضي النكاح حقوقا يجب الوفاء بها قيام بحق النكاح كما سبق ذكره في كتاب النكاح فكذا عقد الأخوة فلأخيك عليك حق في المال والنفس وفي اللسان والقلب بالعفو والدعاء وبالإخلاص والوفاء وبالتخفيف وترك التكلف
“Jalinan tali persahabatan antara dua orang seperti halnya akad nikah suami-istri. Dalam pernikahan terdapat hak yang harus dipenuhi sebagaimana disebutkan sebelumnya pada pembahasan nikah. Demikian pula dalam persahabatan ada kewajibanmu untuk memenuhi hak saudaramu, baik yang berkaitan dengan harta, jiwa, tutur kata, dan hati: dengan memberikan maaf, keikhlasan, pemenuhan janji, dan meringankan beban.”

Dalam persahabatan terdapat etika dan hak yang harus kita jaga. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan banyak hal terkait hal ini. Setidaknya terdapat empat hal yang harus diperhatikan dalam menjaga hubungan persahabatan. Keempat hal itu sebagai berikut:

Pertama, seyogyanya seseorang memberikan sebagian hartanya kepada temannya. Dalam hal ini, Imam al-Ghazali membagi persahabatan dalam tiga tingkatan: tingkatan paling rendah adalah orang yang memposisikan sahabatnya seperti seorang pembantu. Dia akan memberikan harta kepada sahabatnya bila terdapat kelebihan; tingkatan menengah adalah orang yang memperlakukan sahabatnya seperti dia memperlakukan dirinya sendiri. Mereka tidak membedakan sahabat dengan dirinya sendiri; sementara tingkatan paling tinggi adalah orang yang memposisikan sahabatnya di atas dirinya sendiri. Dia rela mengorbankan hartanya untuk sahabatnya.

Kedua, membantu sahabat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebelum dia meminta bantuan. Seseorang mesti mengetahui bagaimana kondisi temannya, terutama kondisi ekonomi keluarga  atau dirinya sendiri. Supaya bila terdapat kesusahan kita dapat membantu mereka tanpa harus diminta terlebih dahulu.

Ketiga, tidak melakukan sesuatu yang dibencinya. Tentu tidak semua orang suka dengan perilaku dan karakter kita. Alangkah baiknya pada saat bertemu teman, kita tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai teman. Keempat, bertutur kata sopan dan memujinya. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak suka pujian. Karenanya untuk memperkuat persahabatan, sering-seringlah memujinya. 


Keempat hal di atas hanyalah sebagian dari etika persahabatan yang disebutkan Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Semoga keempat etika tersebut dapat diamalkan pada saat bergaul sesama manusia. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

© Infokom PD OPI Aceh

Selasa, 06 Maret 2018

Tgk. H. Nashiruddin Daud; Berjuang, Belajar, Berbakti

Tgk. H. Nashiruddin Daud
  • Nama : Tgk. H. Nashiruddin Daud
  • Tempat / Tanggal Lahir : Padang Keuneuleh, Manggeng, Aceh Barat Daya / 31 Desember 1942
  • Wafat : Pancor Batu, Deli Serdang, Sumatera Utara / 25 Januari 2000
  • Agama : Islam
  • Alamat :
    1. Jl Puda 5 Kuta Alam, Banda Aceh
    2. Komplek DPR-RI Blok A6-98 Kalibata Jakarta Selatan
  • Istri : Rosniar
  • Anak :
    1. Abdul Rauf, 1974
    2. Qushairi, 1975
    3. Nuriati, 1978
    4. Husna, 1980
    5. Yusra, 1982
    6. Sahrati, 1984
    7. Muhammad Fadhil, 1989
    8. Nurbaiti, 1992
  • Pendidikan:
    1. Sekolah Rakjat, Manggeng, 1958.
    2. Ibtidaiyah Darussalam, Labuhan Haji, 1961
    3. Tsanawiyah Darussalam, Labuhan Haji, 1964
    4. Aliyah Darussalam, Labuhan Haji, 1967
    5. Aliyah Banda Aceh, 1969
  • Organisasi:
    1. 1970-1972, Pengurus Partai Islam PERTI, Aceh
    2. 1974-2000: Imam Masjid Baitul ‘Alam, Kuta Alam Banda Aceh
    3. 1980-1994-Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Alam Jaya, Kuta Alam
    4. 1981-1990, Ketua Perti Kodya Banda Aceh
    5. 1982-1987: Anggota DPRD Banda Aceh
    6. 1985-1990, Wakil ketua DPC PPP Banda Aceh
    7. 1988-1993, Wakil ketua DPD PERTI, Aceh
    8. 1990-1995, Wakil Sekretaris DPW PPP Aceh
    9. 1995-2001: Wakil ketua Inshafuddin, Aceh
    10. 1998-2001: Pimpinan Daya Inshafuddin
    11. 1999-2004: Wakil ketua DPW PPP Aceh
    12. 1999-2001: Anggota DPR/MPR-RI

A. Prolog Kehidupan 


Dikalangan pengurus dan warga Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Aceh khususnya, serta masyarakat Aceh pada umumnya, nama Tgk. H. Nashiruddin Daud sudah tidak asing lagi bagi mereka.

Dikeluarganya beliau dipanggil “Abu” oleh anak-anak dan istrinya, suatu sebutan anak terhadap orang tua. Suatu yang sudah menjadi tradisi ditengah dan dikalangan keluarga masyarakat Aceh yang banyak menyerap istilah arab dalam kehidupan, kemudian diadopsi menjadi narasi komunikatif antara anak dan orang tua. Selain panggilan Abu, padanan kata lainnya yang juga dipakai oleh masyarakat Aceh yaitu “Abon”, dsb.

Tgk. Nash dilahirkan di Padang Kelileu, Manggeng Kabupaten Aceh Selatan (sekarang kabupaten Aceh Barat Daya setelah pemekaran wilayah) pada tanggal 31 Desember 1942. Jalur pendidikannya ditempuh pada Sekolah Rakjat Manggeng pada tahun 1958. Sebagai keluarga yang masih sangat kuat menanamkan nilai-nilai ajaran Islam dan sangat mementingkan pendidikan agama, setelah menamatkan pendidikan Sekolah Ra'jat, Tgk. Nash mengenyam dan menimba ilmu-ilmu agama Islam di Pesantren Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan sejak tahun 1958-1967.

Pesantren Darussalam pada waktu itu dipimpin oleh Abuya Syeikh Haji Muhammad Muda Waly al-Khalidy, seorang ulama yang sangat masyhur, luas ilmunya dan pemahaman keagamaanya. Selama 9 (sembilan) tahun menimba ilmu di dayah Darussalam, jenjang tsanawiyah , Aliyah dan Bustanul Muhaqqiqien (setingkat perguruan tinggi).

Dikalangan teman-teman yang seangkatan dengannya di pesantren, Tgk. Nash dikenal sebagai figur santri yang cerdas dan kepiawaiannya dalam menyelesaikan dan menjawab setiap pertanyaan dari teman-teman Beliau.

Kebiasannya mengangkat-ngangkat kopiah yang melekat pada kepalannya bila beliau sedang memikirkan setiap persoalan dan permasalahan seputar pengetahuan yang berkembang dalam forum diskusi maupun ketika mempersiapkan argumentasi-argumentasi yang akan disampaikan dalam forum diskusi menjadi karakter beliau, dikalangan santri-santri dayah mengatakan hal tersebut mengindikasikan bahwa Tgk. Nash sedang berfikir serius tentang argumen, dalil-dalil apa yang akan disampaikan di diskusi (drah kitab).

Pada tahun 1971, Tgk. Nash menikah dengan Rosniar, anak dari H. Hanafiah Sanany (abang kandung Kol.H. Nukum Sanany) yang bersebelahan dengan desa tempat tinggalnya, yaitu desa Kayee Aceh, Manggeng (sekarang Kecamatan Lembah Sabil setelah pemekaran). Dari perkawinannya dengan Rosniar, mereka telah dikaruniai oleh Allah SWT 3 (tiga) orang putra dan 5 (lima) putri, yaitu Abdurrauf (1973), Qusyairi (1975), Kurniati (1977), Husna (1980), Yusra (1983), Syahrati (1985), Muhammad Fadhil (1988) dan Nurbaiti (1991).

Walaupun pendidikan beliau berlatar belakang dayah namun Tgk. Nash tidak pernah bersikap otoritarian terhadap arah pendidikan anak-anaknya. Mereka diberikan kebebasan dan keluwesan untuk memilih sekolah apa yang diinginkannya, tidak mesti harus di Dayah/pesantren dan madrasah seperti jalur pendidikan yang beliau tempuh namun beliau dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Tgk. Nash mengajarkan langsung pendidikan agama untuk anak-anaknya sejak mereka berumur 7 tahun, seperti mendidik anak-anaknya untuk bisa membaca al-Qur`an dan mengajurkan dan membiasakan shalat dengan mengajak mereka berjamaah di Mesjid. Mesjid bagi beliau adalah tempat paling pertama dan utama, tak ada yang lebih penting bagi beliau selain Mesjid. Bahkan dengan santun beliau meninggalkan tamunya bila suara azan terdengar walaupun tamu terhormat sekalipun.

Beliau adalah sosok pendidik yang luar biasa, mendidik dengan ketaladanan. Hari-hari beliau, aktifitas beliau selalu dihiasi dengan sunnah Rasul, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Taka ada malam yang terlewatkan oleh beliau kecuali dalam sujud panjangnya, tak ada senin kamis yang beliau tinggalkan selain menahan rasa haus dan lapar, tak ada dhuha yang beliau lewatkan kecuali dengan bertadarus dan menghayati ayat-ayat cinta-Nya.

Beliau juga dikenal sebagai sosok yang dermawan, walaupun hidup dengan kehidupan yang pas pas an namun tidak menyurut keinginannya untuk terus memberi dan berbagi. Jadi tak heran bila beliau rela berjalan kaki dari pasar aceh kekediaman beliau dikarenakan seluruh uangnya diberikan kepada peminta minta. Hingga akhir hayatnya beliau hanya memiliki rumah yang sangat sangat sederhana, rumah yang mungkin tak layak bagi seorang anggota DPR RI.

***

B. Hijrah Ke Banda Aceh.

Perpindahan (hijrah) dari suatu tempat, daerah dan dari suatu kondisi ke tempat dan kondisi lainnya, merupakan peristiwa yang pernah dilakukan Nabi Muhammada Saw. Makna hakiki dari proses hijarah adalah harapan untuk terwujudnya perubahan-perubahan dan cita-cita yang pada setiap manusia. Demikian juga halnya dengan sosok Tgk. Nash, pada tahun 1971 beliau hijrah ke Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh

Banda Aceh sebagai pusat kota, tentunya Tgk.Nash seringkali bersentuhan dengan nilai-nilai dan pandangan yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan dalam lembaga pendidikan dayah yang sarat dengan nilai-nilai religius. Peran dan fungsi sosial keagamaan yang pertama kali ia dapatkan adalah menjadi imam mesjid Baitul `Allam-Masjid dimana Tgk. Nash berdomisili, yaitu di desa Kuta Alam. Suatu tanggung jawab yang besar tentunya, yang tidak hanya sekedar menjadi imam ketika shalat lima waktu, namun menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan yang timbul ditengah-tengah masyarakatnya dan bagaimana membentuk karakter manusia untuk selalu patuh dan melaksanakan ajaran Islam.

Mesjid yang mempunyai fungsi ganda sebagai tempat ibadah, dan aktivitas sosial keagamaan yang lain, termasuk didalamnya aktivitas pendidikan. Momentum hijrah ini, dimanfaatkan Tgk.Nash di Mesjid untuk mentransfer pengetahuan agama yang diperolehnya itu kepada masyarakat luas. Sudah menjadi semacam tradisi dan cita-cita bagi setiap orang untuk menjadi pengajar (guru, dosen). Karena itu bagi ulama/Kiai semua manusia harus belajar menjadi guru dalam madrasah, sekolah, pesantren atau dayah, atau di lapangan, pasar, dan di jalan-jalan. Mereka yang ilmunya tinggi atau sedikit, wajib menyebarluaskan ilmu yang dimilikinya.

Halaqah sebagai pola pengajaran yang digunakannya untuk mengajarkan akan masyarakat pengetahuan agama. Mesjid Baitul `Allam menjadi basis awal bagi gerakan pendidikan yang dilakukannya. Materi-materi ajarannya (subject matter) lebih didominasi oleh corak fiqih-sufistik. Literatur yang dipakai sebagai bahan referensi adalah; untuk kajian fiqh yaitu al-Bajuri, I`anah al-thalibin, Tuhfatul muhtaj Mazahibul Arba`ah dan Bidayatul Mujtahid. Sedangkan kajian tasawuf, rujukan yang digunakan Tgk.Nash hanya Ihya `Ulumuddin, karangan Imam Al-Ghazali.

Tidak hanya masyarakat yang ada dilingkungannya yang datang untuk memperoleh ilmu darinya, tapi juga masyarakat lainnya yang berdomisili di Banda Aceh. “Ulama yang tidak memiliki dayah”, demikian sebutan yang cocok bagi Tgk.Nas. Karena memang dia tidak memiliki dan mewarisi dayah dan santri sebagaimana lazimnya ulama-ulama lainnya sekaliber Tgk. Nash. Hanya mesjid dan rumahnya digunakan untuk mengajarkan apa saja ilmu yang dia miliki. Pernah juga mahasiswa IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry asal Malaysia dan mahasiswa setempat yang belajar di rumahnya. Biasanya mahasiswa-mahasiswa itu belajar berkaitan dengan mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi tersebut. 

Tidak hanya sebagai seorang ulama yang hanya menyebarkan ilmunya melalui ceramah dan mengajar, tapi Tgk. Nash juga sebagai wartawan surat kabar Peristiwa pada tahun 1976, ilmu jurnalistik diperolehnya melalui pelatihan jurnalis yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Medan. Melalui pengalaman menulis yang diperolehnya, ia menyebarkan apa yang diketahui dan ilmunya melalui artikel di koran.

***

C. Berpolitik Praktis

Untuk bisa mewujudkan ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat Aceh, maka kita harus berada dalam sistem yang ada. Prinsip tersebut yang mendorong Tgk.Nash untuk terlibat langsung dalam dunia politik Keterlibatan dan kiprahnya dalam politik praktis berawal setelah dia bergabung dan menjadi pengurus partai Islam Perti Aceh pada tahun 1970-1972. Setelah Perti kembali pada khittahnya (tidak lagi ikut serta keterlibatan dalam politik) sebagai organisasi masyarakat yang concern pada wilayah sosial kemasyarakatan dan pengembangan pendidikan, kemudian Tgk. Nash bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan Aceh (PPP)-mewakili unsur PERTI yang berfusi ke PPP tanggal 5 Januari 1973. 

Keseriusan dan keterlibatannya di panggung politik menjadikannya sebagai salah satu politisi yang berasal dari kelompok ulama. Kehidupan politik menjadi bahagian dari kehidupannya yang tidak bisa dipisahkan dengan konsep hidupnya “amar ma`ruf nahi mungkar”. Tgk. Nash tidak hanya menerapkan strategi kultural (cuktural strategies) dalam menjalankan konsep tersebut, tapi juga strategi struktural dilakukannya. Kedua strategi itu, satu dengan lainnya bersifat saling melengkapi (komplementer), bukannya bersifat mutually exlusive.

Strategi kultural digunakannya sebagai tujuan untuk mempengaruhi perilaku sosial (cara berfikir masyarakat) kearah penerapan kehidupan keberagamaan yang lebih baik dan tertata rapi. Dakwah dan pengajian merupakan cara dari strategi kultural yang menitik beratkan penekanan pada agama sebagai moral force atau inspirational. Cara inilah yang paling sering dilakukan Tgk. Nash. Disisi lain, dia menerapkan pula strategi struktural, dimana peran politik sangat dominan. Karena itu keterlibatan langsung Tgk. Nash dalam perpolitikan merupakan kesadaran kritisnya bahwa perilaku-perilaku dan tatanan kehidupan dapat berubah kearah yang lebih baik, dapat dilakukan dengan mempengaruhi struktur politik (legislatif, eksekutif).

Amar ma`ruf nahi mungkar, sudah menjadi prinsip hidup Tgk. Nash, bahwa hidup ini harus sejalan dan didasarkan pada tatanan kehidupan Islami-agama menjadi petunjuk untuk perilaku, misalnya perilaku politik, birokrasi dan industru budaya. Prinsip tersebut kemudian diwujudkannya ketika dia terpilih sebagai wakil rakyat (DPRD Kodya Banda Aceh periode 1982-1987) pada pemilu 1982. Tgk. Nash berpandangan bahwa fungsi pemerintah memberikan jaminan layanan bagi masyarakatnya secara baik dan memuaskan quality ensure, serta bagaimana menjamin kesejahteraan mereka. 

Konsep tersebut, selama ini juga diusung dan menjadi jargon bagi gerakan-gerakan mahasiswa dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Perbedaan bahasa dan term yang menjadikannya seolah-olah berbeda antara apa yang diperjuangkan kelompok ulama dengan aktivis LSM-yang dalam setiap gerakan-gerakan mereka menggunakan tema-tema dan issu penindasan terhadap rakyat. 

Subtansi arah dan tujuan kedua kelompok masyarakat itu sebenarnya bermuara pada satu visi, yaitu sama-sama mengkritik kebijakan pemerintah yang telah kehilangan arah bagi pemihakan terhadap rakyat. Demonstrasi dan aksi-aksi di jalan merupakan media yang sangat dominan yang dilakukan oleh aktivis mahasisw dan LSM untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Sedangkan kelompok ulama memanfaatkan khutbah dan ceramah, baik di mesjid maupun tempat lainnya sebagai momentum untuk melakukan kritik-kritik berbagai persoalan kehidupan masyarkat. Kalau aktivis mahasiswa dan LSM dalam setiap gerakannya sudah terorganisir dengan baik, dan memeliki agenda secara kolektif, maka pada kelompok ulama, kritik itu sering muncul pada personal ulama yang bersangkutan.

Keprihatinanya terhadap dekandensi moral generasi muda Aceh yang disebabkan oleh faktor penanyangan film yang berbau pornografi di Bioskop dan di panggung hiburan rakyat (PHR) dan poster-poster porno. Kritik dan protes keras yang dilakukan Tgk.Nash dengan merobek poster-poster porno di PHR Puda Kuta Alam Banda Aceh (berdekatan dengan tempat tinggalnya) membuat dia ditangkap dan harus berurusan dengan pihak kepolisian karena adanya laporan keberatan dari pemilik dan pengelola PHR Puda. 

Kritik tajam terhadap kebobrokan pemerintah kerap kali disampaikannya pada setiap ada kesempatan. Ketika Tgk. Nash berkampanye untuk Partai Islam Perti tahun 1970 di kabupaten Pidie , materi kampanye yang disampaikannya membuat pemerintah Aceh tersinggung, dan beliau ditahan selama dua bulan. 

Kritik yang disampaikannya terhadap Golkar sebagai penguasa Orde Baru saat itu pada sidang-sidang di DPRD Kodya Banda Aceh (pada Tahun 1982-1987 sebagai anggota DPRD Kodya Banda Aceh), banyak pihak yang merasa kebakaran jenggot karena kritikan itu dan mengharuskan pemerintah membuat catatan-catatan khusus dan track record jelek atas diri Tgk.Nash (“tinta merah”, istilah yang biasa digunakan pemerintah Orba, ditujukan terhadap personal dan institusional yang mengkritik dan melawan kebijakan pemerintah serta orang yang dianggap ekstrem).

***

D. Fitnah Politik dan Akhir Perjalanan Hidupnya



“Politik itu kejam atawa jahat”, “tidak ada lawan yang abadi, tidak ada kawan yang sejati”, suatu kamus dan kitab suci yang sering berlaku dikalangan politisi.

Tgk. Nash sebagai salah satu dari sekian ulama di Aceh yang berkiprah dalam dunia politik praktis. Sulit memang bagi figur ulama untuk menggeluti dunia politik, karena opini dan asumsi-asumsi yang terbangun tentang politik selama ini sebagai sesuatu yang jahat. Kita tidak dapat menyalahkan pernyataan itu, karena bukti empirik telah mengindikasikannya.

Persoalan sebenarnya adalah bagaimana seseorang memposisikan dan memperlakukan politik pada dirinya. Demikian juga halnya dengan ilmuwan yang terjun dalam pilitik, dia akan terkoptasi dengan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan kelompok.

Salah satu bias-bias politik, yang secara langsung dapat dirasakan, diamati dan dibaca adalah pada saat berlangsungnya suksesi kepemimpinan daerah. Dukung mendukung merupakan fenomena yang sudah lumrah terjadi. Bila kandidat lawan yang terpilih, maka sang politikus itu akan mendapati rintangan, dan boleh jadi karir politiknya akan kandas di tengah jalan dan akan berakhir. Tahun 1986 merupakan suksesi gubernur dari kepemimpinan Teuku Hadi Thayeb untuk periode 1986-1993.

Kandidat yang muncul saat itu dan merupakan titipan pemerintah pusat melalui Golkar adalah Ibrahim Hasan. Dikalangan ulama dayah Aceh yang dimotori oleh Tgk. Nash, menginginkan Teuku Hadi Thayeb menjabat kembali sebagai gubernur Aceh untuk periode selanjutnya. Bulan Februari 1986, Tgk. Nash berinisiasi mengumpulkan tanda tangan ulama dayah yang ada di Aceh (persetujuan dalam mendukung kembali Hadi thayeb sebagai gubernur Aceh). Selanjutnya dukungan tersebut disampaikan kepada presiden Soeharto di Jakarta.

Delegasi yang hadir saat itu salah satunya Tgk. Nash, tapi mereka ditolak untuk bertemu Soeharto dan hanya diterima oleh Mensekneg-Soedharmono (Ketua Umum DPP Golkar) dan hanya menyampaikan surat yang berisi aspirasi ulama dayah Aceh tentang penolakan terhadap pencalonan Ibrahim Hasan dan mempertahankan Teuku Hadi Thayeb sebagai gubernur Aceh periode untuk kedua kalinya. Surat itu tidak pernah direspon oleh pemerintah pusat, dan bulan Mei 1986 Ibrahim Hasan terpilih sebagai Gubernur Aceh periode 1986-1993.

Menjelang pemilu 1987, beberapa bulan pasca suksesi gubernur selesai, Tgk. Nash menghadapi berbagai rintangan dalam karir politiknya di PPP. Pada saat penyusunan Calon legislatif sementara (Caleg) DPRD Tk.I Aceh, namanya dicoret dari daftar Caleg asal PPP. Alasan Panitia Pemilu saat itu, karena adanya surat dari Dinas Sosial Politik Aceh yang menyatakan bahwa Tgk. Nash terlibat salah satu dari ormas PKI. Bagi masyarakat Aceh pernyataan itu merupakan sesuatu yang tidak logis, tidak masuk akal sehat tentunya, hanya orang-orang yang sudah rusak pikirannya-tidak untuk menyatakan sudah gila, menuduh seorang ulama sebagai PKI.

Bagaimana mungkin Tgk. Nash yang idiologinya mengakui akan adanya Tuhan, kemudian dituduh PKI yang sama sekali tidak mengakui Tuhan, berideologi komunis? Suatu hal yang absurd.

Tgk. Nash sudah mulai menuai hasil dari kritik-kritik tajam dan ketidak senangannya pada pemerintah Orde Baru.-yang sedang gencar-gencarnya ingin memenangkan dan mengibarkan bendera kuning (Golkar) di Aceh. Tugas inilah yang pertama kali dipikul Ibrahim Hasan sebagai gubernur Aceh pada pemilu 1987.

Sejak pemilu 1977 dan 1982 Aceh merupakan basis dan menjadi milik Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Yang menjadi hambatan bagi kemenangan Golkar di Aceh, salah satunya adalah karena adanya fatwa dan sikap secara terang-terangan dari beberapa ulama mengharamkan Golkar untuk dipilih oleh kelompok pengikutnya.

Pada pemilu 1999, Tgk. Nash kembali lagi dalam percaturan politik setelah 12 (dua belas tahun) tidak aktif lagi. Kepercayaan rakyak memilihnya, menghantarkannya menjadi Anggota DPR/MPR-RI di senayan Jakarta (Wakil ketua Fraksi PPP DPR-RI) asal pemilihan Aceh Selatan.

Dengan berbagai amanah yang dipikulnya dan belum sempat dilaksanakannya serta diperjuangkannya, pada tanggal 25 Januari 2000 Allah Swt mentakdirkan Tgk. Nash menghadap Sang Khaliknya setelah jenazahnya ditemukan meninggal di Pancor Batu Sumatera Utara.

Tgk. Nash diculik oleh sekelompok orang yang tak dikenal di Medan pada tanggal 25 Januari 2000 setelah kembali dari tugas bersama Tim Forka di Banda Aceh. Jenazah yang sudah sempat dikuburkan di pemakaman umum Delitua itu yang sudah berumur tiga hari, pada tanggal 1 Februari 2000 digali kembali, setelah anak kandung dan kerabat almarhum serta kolega almarhum diantaranya Abdullah Saleh, SH yang datang ke Medan, memastikan bukti-bukti (antara lain baju) yang ada pada pihak rumah sakit dan polisi adalah milik Tgk Nashiruddin Daud.

Saat kondisi Aceh sedang tidak menentu, pembunuhan dan penculikan terjadi dimana-mana serta eskalasi politik Aceh yang kian memanas. Hasil visum dari rumah sakit Adam Malik Medan menunjukan bahwa dia meninggal akibat lehernya dijerat tali dan pendarahan yang serius di kepalanya akibat benturan benda tumpul.

Seperti diketahui, Tgk Nashiruddin Daud yang juga Wakil Ketua DPW-PPP Aceh termasuk Wakil Ketua Pansus Aceh DPR-RI yang independen mempertanyakan berbagai kasus yang terjadi di Aceh pada masa DOM lalu. Ketika Pansus (Panitia Khusus) DPR-RI memanggil para dan mantan jenderal yang diduga kuat terlibat dalam kasus Aceh, Tgk. Nash sempat mengintrupsi seorang purnawirawan jenderal.

Saat itu, seorang purnawirawan Jenderal sedang memaparkan berbagai masalah kerusuhan di Indonesia. Tiba-tiba Tgk Nashiruddin melakukan interupsi, karena yang dijelaskan oknum purnawirawan jenderal itu sudah keluar dari permasalahan yang sedang dipertanyakan.

“Saudara jangan ceramahi kami di sini dan tolong saudara jawab apa yang ditanyakan wakil rakyat tentang masalah Aceh yang sebenarnya.”

Saat kondisi Aceh sedang tidak menentu di tahun 2000, pembunuhan dan penculikan terjadi dimana-mana serta eskalasi politik Aceh yang kian memanas.

Disela-sela kunjungan kerjanya ke Banda Aceh (dua puluh hari sebelum meninggal), Tgk. Nash memberikan ceramah sebagai khutbah terakhirnya di Mesjid Baitul `Allam tentang kondisi dan situasi Aceh saat ini. Dalam ceramah dan khutbahnya, ia mengungkapkan bahwa nyawa manusia sekarang ini di Aceh sudah tidak berharga, tidak bernilai sama sekali, dan kita sangat gampang membunuh orang karena perbedaan dan berlainan persepsi, tanpa adanya perasaan dosa dan takut akan ancaman Allah SWT.

Apa yang disampaikan dalam khutbah terakhirnya, pun terjadi pada dirinya.Ini merupakan takdir Allah atas dirinya. “Seorang kamu tidak satupun mengetahui di bumi, daerah manakah kamu akan meninggal” Tgk. Nash terlahir di Manggeng Aceh Barat Daya, dan akhir hidupnya Allah menakdirkan di Medan Sumatera Utara. Semoga segala amal ibadah sosialnya diterima disisi Allah Swt.dan dia memperoleh pahala syahid dari kematiannya yang dizhalimi oleh orang.

Selamat jalan Abu kehidupan di alam sana jelas lebih membahagiakan dan jauh dari kepura-puraan. Kami anak-anak mu sudah mengikhlaskan kepergianmu menghadap sang Khaliq dan kami sudah menyampaikan kepada pemerintah dan IPU (Organisasi Parlemen Dunia) untuk menghentikan penyedikan kasus ini, kami yakin Allah Swt sudah memilih jalan yang terbaik untukmu Abu.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu yang mengridhai hambanya," Lahu Al-Fatihah....

**Penulis:  Qusyairi dan Syahrati (Anak almarhum Tgk Nashiruddin Daud) 

Selasa, 13 Februari 2018

JODOHMU, CERMINAN PRIBADIMU

Oleh:Ki Dedeng Juheri, S.ST, M.Pd
(Penulis buku Ketika Kebelet Nikah, Kupilih Engkau Karena Allah dll)
.


Yang baik untuk yang baik pula. Ini benar, ada semacam keserasian antara yang satu dengan yang lainnya.

Ketika mengharapkan yang baik, harus pula berproses dalam kebaikan, kebersihan, dan kesucian.

Bagaimana akan memperoleh suami sekualitas Fahri, bila diri tak sebobot Aisha?

Yang shalih berjodoh yang shalihah. Tampan, cantik, baik, serasi, indah, dan harmonis. Yang baik berpadu dengan yang baik.

Bila Ayat-Ayat Cinta kisah romantisme Fahri dan Aisha itu fiksi, silakan tanya pada hatimu..

Bagaimana akan memperoleh istri sekualitas Fatimah, bila diri tak sebobot Ali?

Bagaimana akan memperoleh istri sekualitas Sulistina, bila diri tak sekelas Bung Tomo?

Bagaimana akan memperoleh istri sebaik Zainatun Nahar, bila diri tak sekualitas KH Agus Salim?

Bagaimana kan memperoleh istri sekualitas Siti Raham, bila diri tak sebaik Buya Hamka?

Bagaimana akan memperoleh istri semantap Putri Nurnahar, bila diri tak sebaik M. Natsir?

Bagaimana akan memperoleh istri setangguh Suharsikin, bila diri tak sekualitas HOS Tjokroamonoto?

Bagaimana akan memperoleh  istri sekelas Hajar, bila diri tak setegar Ibrahim?

Bagaimana akan memperoleh istri selayak Rasya Rantisi, bila diri tak setangguh Abdul Aziz Rantisi?

Bagaimana akan memperoleh suami semacam Abdullah Azzam, bila diri tak seikhlas Ummu Muhammad?

Bagaiana akan memperoleh suami sekualitas Suraih al-Qadhi, bila diri tak semantap Zainab binti Hadhir?

Bagsimana akan memperoleh suami segagah Teuku Umar, bila diri tak setegar Cut Nyak Dien?

Bagaimana akan memperoleh suami sehebat Musa, bila diri tak seperti Syafura?

Bagaimana akan memperoleh suami sebaik Yusuf, bila tak menginsafi diri seperti Zulaikha?

Bagaimana akan memperoleh suami seunggul Sulaiman, bila diri tak sehebat Biqis?

Di sini kita menginsafi diri, bahwa jodoh kita adalah cermin diri kita. Bila kita baik, insyaAllah memperoleh yang baik pula.


“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).”(Q.s. an-Nûr [24]: 26)


@dedengjuheri / Jauhar al-Zanki

© Infokom PD OPI Aceh

Minggu, 11 Februari 2018

Kisah Kecerdikan Al Imam Abu Bakr Al Baqilaniy

Al imam Abu Bakr Al Baqillani Mosque

Pernah suatu ketika Al-Imam Abu Bakr Al-Baqilaniy رحمه  (Beliau terkenal sebagai ahlul kalam dan ahlul munazharah {pandai mendebat}) bertemu dengan seorang pendeta Nasrani.
"Kalian orang-orang Islam! Kalian memiliki sifat rasis" kata si Nasrani.
"Kenapa bisa begitu?" Jawab Al-Baqilaniy رحمه 
"Kalian membolehkan untuk diri kalian menikahi ahlul kitab (baik Yahudi maupun Nasrani), namun kalian tidak membolehkan yang selain kalian untuk menikahi anak-anak perempuan kalian" kata si Nasrani.
Maka dijawab oleh Al-Imam رحمه , "Kami (boleh) menikahi seorang Yahudi karena kami mengimani Nabi Musa عليه السلام; kami (boleh) menikahi seorang Nasrani karena kami mengimani Nabi Isa عليه السلام. Dan kalian! Kapan saja kalian mau mengimani Nabi Muhammad ﷺ maka kami akan nikahkan kalian dengan anak-anak perempuan kami"
Maka terbungkamlah orang yang kafir.

Hikmah Dalam Berucap, Cerdik Dalam Menjawab


Abu Bakr Al-Baqilaniy رحمه  adalah ulama kibar di masanya. Maka pada tahun 371 Hijriah raja Irak memilih dan mengirimnya untuk mendebat kaum Nasrani di Kostantinopel (Romawi).
Ketika sang raja Romawi mendengar akan kedatangan Abu Bakr Al-Baqilaniy رحمه  dia memerintahkan prajuritnya untuk memendekkan tinggi pintunya, yang ini agar Al-Baqilaniy ketika masuk butuh untuk menundukkan kepala dan tubuhnya seperti posisi ruku' sehingga dia pun (seakan) merendah untuk sang raja Romawi dan prajuritnya.
Ketika Al-Baqilaniy رحمه  sampai (di istana sang raja), dia pun mengetahui muslihat ini, maka dia membalikkan tubuhnya ke belalang dan menunduk kemudian memasuki pintu dengan berjalan mundur ke belakang menjadikan bagian belakang kepalanya menghadap sang raja Romawi sebagai ganti dari wajahnya. Di sini tahulah sang raja kalau dia berhadapan dengan orang cerdik.
Al-Baqilaniy رحمه  masuk dengan mempermalukan mereka. Dan dia tidak mengucapkan salam kepada mereka (karena larangan Rasul  untuk memulai salam kepada ahlul kitab). Kemudian Dia menoleh kepada pendeta yang paling besar dan berkata padanya, "Bagaimana keadaan kalian? Dan bagaimana keadaan keluarga serta anak-anak?"
Raja pun marah dan berkata, "Tidakkah kau tahu kalau pendeta-pendeta kami mereka tidak menikah dan tidak dikaruniai anak?!!"
"Allah Maha Besar!! Kalian sucikan pendeta-pendeta kalian dari menikah dan dikaruniai anak, kemudian kalian menuduh Tuhan kalian kalau Dia menikahi Maryam dan dikaruniai Isa?!" Kata Al-Baqilaniy رحمه 
 Sang raja pun semakin marah, kemudian berkata dengan sangat keras, "Lalu Apa Ucapanmu Pada Apa Yang Dilakukan Oleh Aisyah??!!!"
"Kalau Aisyah رضي  عنها telah tertuduh (dituduh berzina oleh kaum munafik) Maryam juga tertuduh (dituduh berzina oleh orang Yahudi). Dan keduanya itu bersih (dari tuduhan). Akan tetapi, Aisyah menikah dan tidak dikaruniai anak, sedangkan Maryam dikaruniai anak namun tidak menikah, maka mana dari keduanya yang lebih pantas untuk tertuduh dengan tuduhan bathil itu? Dan keduanya itu suci (terbebas dari tuduhan zina) رضي ﷲ عنهما "
Maka semakin bertambah gilalah sang raja.
"Apakah Nabi Kalian dahulu berperang?" Tanya sang raja.
"Ya" jawab Abu Bakr رحمه 
 "Apakah dahulu dia maju untuk berperang (terjun langsung)?"
"Ya"
"Apakah dia pernah menang?"
"Ya"
"Apakah dahulu dia pernah kalah?"
"Ya"
"Sungguh mengherankan! Ada seorang Nabi kok kalah (perang)"
"Apakah ada Tuhan yang disalib?"
Maka terbungkamlah orang yang kafir.
============


Sumber: Tarikh Baghdad karya Al-Khatib Al-Baghdadi, Jilid 5, Halaman 379, cetakan Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah | Alih bahasa: Syabab Anwarussunnah
© Infokom PD OPI Aceh

Betapa Agungnya Kalian Wahai Wanita

Oleh : Rozal Nawafil




Sebagian muslimah saat ini acapkali berkata bahwa “Susah jadi wanita”, dengan alasan :

  1. Wanita itu auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
  2. Wanita itu perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
  3. Wanita itu menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
  4. Wanita itu perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
  5. Wanita itu wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
  6. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
  7. Wanita itu kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak Ada pada lelaki.

Namun, pernahkah kita melihat dari sudut pandang yang lain (kenyataannya).. ?

  1. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah engkau lelaki wajib taat kepada ibunya tiga kali lebih utama daripada kepada bapaknya..?
  2. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu  menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.
  3. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan ditanyakan pertanggungjawabannya terhadap empat wanita :
    • Isterinya,
    • Ibunya,
    • Anak perempuannya
    • Saudara perempuannya.
  4. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki:
    • Suaminya,
    • Ayahnya,
    • Anak lelakinya
    • Saudara lelakinya.
  5. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja:
    • Shalat 5 waktu
    • Puasa di bulan Ramadhan
    • Taat kepada suaminya
    • Menjaga kehormatannya.

Masya Allah.. ! Demikian Rahman dan Rahim-Nya Allah  pada wanita..!!
Kelemahan wanita itu sendiri adalah: “Wanita terkadang lupa betapa berharga dirinya”

Al Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid dalam tausiyahnya pernah menyampaikan:

" Suatu hari ada wanita muslimah datang ke Pasar Bani Qainuqa’ untuk suatu keperluan yang ia perlukan. Ia menghampiri salah satu pedagang Yahudi, kemudian melakukan transaksi jual beli dengannya. Namun orang Yahudi tadi ingin membuka niqab (cadar) yang dipakai muslimah tersebut, karena ingin melihat wajahnya. Muslimah itu berusaha mencegah apa yang akan dilakukan si Yahudi. Tanpa sepengetahuan wanita itu, datang lagi lelaki Yahudi dari sisi lainnya, lalu ia tarik ujung niqab (cadar) sehingga tampaklah wajah perempuan muslimah tersebut.

Wanita ini pun berteriak. Lalu datanglah seorang laki-laki muslim membelanya. Terjadilah perkelahian antara muslim dan Yahudi, dan terbunuhlah Yahudi yang mengganggu muslimah tadi.
Melihat hal itu, orang-orang Yahudi tidak tinggal diam. Mereka memukul laki-laki muslim tadi hingga ia pun terbunuh.

Ini adalah pelanggaran yang sangat besar. Mereka menganggu wanita muslimah, kemudian laki-laki Bani Qainuqa’ bersekutu membunuh laki-laki dari umat Islam.

Sampailah kabar peristiwa ini kepada Rasulullah ﷺ. Segera beliau mengumpulkan para sahabat dan mempersiapkan pasukan.

Lalu, orang-orang munafik dengan pasukan mereka Abdullah bin Ubai bin Salul, memainkan peranannya. Ia berusaha melobi Rasulullah ﷺ agar menghentikan niat mengepung Yahudi Bani Qainuqa’. Namun Rasulullah ﷺ tidak memperdulikan saran Abdullah bin Ubai.


Tidak menunggu waktu lama, pasukan pun mengepung perkampungan Bani Qainuqa’.

Ya, Rasulullah ﷺ memimpin pasukan untuk membela seorang wanita muslimah yang tersingkap auratnya, dan membela darah seorang muslim yang tertumpah.

Begitu besarnya arti kehormatan wanita muslimah dan harga darah seorang muslim di sisi Rasulullah ﷺ.

Beliau siap menanggung resiko, kehilangan nyawa para sahabatnya demi membela kehormatan muslimah.

Selain itu, Bani Qainuqa’ bukanlah orang-orang yang lemah, mereka memiliki persenjataan, pasukan, benteng, dan kemampuan pasukan yang kuat. Tapi tetap Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya menghadapi mereka demi seorang wanita muslimah.


Namun hari ini, kita lihat banyak wanita muslimah suka rela membukakan auratnya dan suka rela merendahkan kehormatan mereka sendiri. Bahkan lebih aneh lagi, mereka marah apabila ada orang yang menghalangi mereka membuka aurat. Kata mereka menghalangi kebebasan, melanggar hak asasi, dan menghambat kemajuan, wal ‘iyadzubillah.

Dari sini, kita mengetahui betapa agungnya kedudukan wanita dalam Islam. "

“When she is a daughter she opens a door of Jannah for her father, when she is a wife she completes half of Dien with her husband, when she is a mother Jannah lies under her feet. If everyone knew the true status of a muslim women. Even the men would want to be women.” 
"Ketika dia anak perempuan, dia menjadi pembuka pintu Syurga untuk ayahnya, saat ia menjadi istri ia menyempurnakan setengah dari agama suaminya, saat ia menjadi ibu Syurga ada di bawah telapak kakinya. Jika semua orang tahu status sesungguhnya seorang wanita Muslimah dalam Islam, pria pun pasti ingin menjadi wanita." 
(Syakh Akram Nadawi)

© Infokom PD OPI Aceh

Sabtu, 10 Februari 2018

Gelar Kehormatan

Oleh: @dedengjuheri
.

Orang yang gila hormat, biasanya tidak terhormat.  Orang yang rindu pujian, biasanya kurang terpuji.

Sementara orang shalih bila dipuji, ia bersyukur, merenung, bahkan menangis mengingat dosa dan aibnya. Merasa diri belum pantas dan hina dihadapan Allah Swt.

Apakah mesti seperti itu?
...
Adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, atau yang kita kenal Imam Hanafi. Suatu hari ia berjumpa bocah kecil yang berjalan mengenakan sepatu kayu.

”Hati-hati Nak, dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai tergelincir."

Bocah itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

”Boleh saya tahu namamu, Tuan?” tanya sang bocah.

”Nu’man.”

”Jadi, Tuan yang selama ini terkenal dengan gelar Al-Imam Al-A‘dham (imam agung) itu?”

”Bukan aku yang menyematkan gelar itu. Masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu padaku.”

"Wahai Imam," kata sang bocah, "hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara dia."

"Sepatu kayuku ini," lanjut sang bocah, "mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”

Imam Hanafi menunduk, kelopak matanya terasa panas. Napasnya nemburu, tak kuat menahan haru. Hingga beliau tersungkur dalam tangis dan beraian air mata.

Betapa Imam Hanafi takut pada Allah, khawatir bila gelarnya menumbuhkan benih kesombongan. Yang pada akhirnya menyeretnya ke neraka. Naudzubillahi mindzalik.

Tapi apa yang terjadi hari ini?

Betapa banyak di antara kita yang suka menggelari dirinya dengan gelar yang hebat. Berbangga-bangga dengan sesuatu yang disandangnya. Mengaku sebagai trainer penebar virus motivasi, master memori, ahli hipnotis, motivator terlaris nasinal, dan sebagainya.

Ada yang mengaku sebagai pembicara sukses kelas benua, Trainer Terhebat Benua Asia, atau level internasional lainnya.

Ada pula yang mengaku sebagai Trainer Termuda Sedunia (TTS) yang memengaruhi jutaan manusia, padahal baru beberapa kali saja diundang jadi pembicara. Juga belum banyak berbuat untuk masyarakat.

Terkadang kita lebih suka dengan pujian, menggelari diri dengan titel hebat, keren dan wah. Mengundang decak kagum, riuh sanjungan, dan meriah tepuk tangan kekaguman.

Sungguh amat jauh sikap kita dari para ulama, mereka begitu santun, rendah hati, dan tak silau oleh kelebihannya sendiri. Tapi hari ini kita menemukan banyak orang bangga menyematkan gelar dibelakang nama, terbaik, termuda, terhebat, motivator kelas nasional, bahkan tingkat dunia. Astaghfirullahal'adzim.

Di antara takutnya para ulama, orang-orang shalih, dan para mulia terdahulu terhadap gelar yang tersemat pada namanya adalah surat ad-Dukhaan ayat 49.

ذُقْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ
Rasakanlah; sesungguhnya engkau orang yang perkasa lagi mulia!” (QS Ad Dukhaan [44]:49)

Ayat ini tertuju untuk Abu Jahal. Gelar Maha Perkasa sengaja Allah sematkan pada dirinya kelak ketika disiksa di neraka. Bukan sebagai kehormatan, melainkan sebagai penghinaan. Sebab dulu ketika hidup di dunia ia menggelari dirinya dengan gelar yang mulia  ini, Azizul Karim atau Maha Perkasa.

Lantas bagaimana kalau masyarakat menggelari kita? Misalnya Si Dermawan, Penulis Brilian, Inspirator Peradaban, Tokoh Pembaharu, Penemu Listrik Angin dan sebagainya?

Semoga  baik  sangka ini membawa kebaikan, menundukan nafsu , dan menjadikan kita bertambah syukur. Insyaallah beda antara menggelari diri sendiri dan gelar yang disematkan oleh orang lain, masyarakat, atau lembaga pendidikan. Kuncinya, kembalikan pujian pada Allah yang Maha Terpuji.

Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan yang disadari dan tidak disadari. Ya Rabbi, ampuni dosa kami. Wallahu’alam.

Salam orang awam tak berilmu.


***

@dedengjuheri / Jauhar al-Zanki
Penulis
Buku Kupilih Engkau Karena Allah, Ketika Kebelet Nikah, dll.
Pengasuh acara Bincang Pra-Nikah di 100.2 FM Elshifa Radio




© Infokom PD OPI Aceh

Keberkahan Ludah Gadis Kecil



Suatu siang, Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli singgah di sebuah desa. Ketika itu waktu dhuhur hampir habis, namun beliau tak menjumpai seorang pun yang dapat ia tanyai untuk mendapatkan air wudhu.

Akhirnya, setelah lama mencari kesana-kemari, Syaikh Sulaiman al-Jazuli mendapati sebuah sumur. Ia bergegas untuk mengambil air wudhu, akan tetapi beliau tak mendapati sesuatu pun yang dapat digunakan untuk mengambil air dari sumur tersebut. Tak ada timba yang tersedia disana. Sehingga ia pun berputar-putar di sekeliling tempat itu untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menimba air.

Dalam keadaan bingung seperti itu, tiba-tiba dari tempat yang lebih tinggi seorang gadis kecil (Usianya kira-kira tujuh tahun) yang sedang memperhatikan beliau, berkata:

“Ya Syaikh, siapa anda? Dari tadi anda tampak kebingungan, berputar-putar di sekitar sumur ini?”, tanya anak kecil itu.

“Aku Muhammad bin Sulaiman. Aku mencari timba untuk mengambil air. Waktu dhuhur sudah sempit, sementara aku harus segera mengambil air wudhu guna melaksanakan shalat,” jelas Syaikh Sulaiman al-Jazuli.

“Engkaulah pria yang dipuji-puji dan disebut sebagai orang sholeh akan tetapi bingung bagaimana mengeluarkan air wudhu dari dalam sumur ini?”, tanyanya.

“Baiklah, tunggulah sebentar,” ujarnya kemudian.

Gadis kecil itu bergegas mendekat ke bibir sumur, lalu meniupnya sekali. (Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa gadis kecil itu meludahinya). Maka seketika itu air dari dalam sumur itu mengalir deras dan naik ke atas hingga menyerupai sungai sungai. Syaikh Sulaiman pun takjub, namun ia tak memiliki banyak waktu. Ia harus segera berwudhu untuk kemudian menunaikan shalat dhuhur yang waktunya sudah hampir habis. Padahal ia ingin tahu lebih banyak tentang anak itu, yang segera pulang ke rumah setelah melakukan hal yang membuat Syaikh Sulaiman terkagum-kagum.

Begitu selesai menunaikan shalat dhuhur, Syaikh Sulaiman bergegas mendatangi rumah gadis kecil itu.“Siapa itu?”, anak perempuan itu bertanya dari dalam rumah begitu terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu.

Maka Syekh berterus terang, “Wahai anak perempuan, demi Allah dan Kemahaagungan-Nya yang menciptakan kamu, saya mau tanya tentang suatu hal.”

“Aku angkat tangan padamu. Demi kemahaagungan Allah, aku mohon kamu bersedia menceritakan kepadaku dengan amal apakah engkau memperoleh kedudukan yang demikian tinggi?”, tanya Syaikh Sulaiman.

Gadis kecil itu terdiam, lalu menjawab:“Kalaulah tidak karena nama Allah yang engkau bersumpah dengan asma-Nya itu wahai Syaikh, tentulah aku tidak akan menceritakannya.

”Syaikh Sulaiman menatapnya penuh perhatian.

“Dengan memperbanyak membaca shalawat untuk orang yang apabila ia berjalan di padang belantara, binatang buas akan mengibas-ibaskan ekornya. (Memperbanyak bershalawat kepada Rasulullah Muhammad ),” katanya polos.

Setelah peristiwa itu Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli r.a menyusun sebuah kitab shalawat (Dalailul Khairat) di kota Fas, sebelum beliau pulang kembali ke desanya di tepi daerah Jazulah. Kitab ini di revisi kembali oleh beliau setelah beliau berkhalwat untuk beribadah selama 14 tahun, yaitu pada hari Jum’at, 6 Rabi’ul Awal 862 H, delapan tahun sebelum hari wafatnya, 16 Rabi’ul Awal 870 H.

Dikutip dari Buku Rahasia Shalawat Rasulullah SAW (M. Syukron Maksum & Ahmad Fathoni el-Kaysi) dan Buku Manusia Langit (Habib Novel bin Muhammad Al'Aydrus). Diedit kembali oleh Rozal Nawafil.


 Allahumma shalli wa salim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in

© Infokom PD OPI Aceh

Postingan Populer