PD OPI Aceh

Tidak Ada Kemenangan Tanpa Kekuatan dan Tidak Ada Kekuatan Tanpa Persatuan

Organisasi Pelajar Islam (OPI)

Intelektual, Integritas, Akhlakul Karimah

www.pdopiaceh.com

Dikelola oleh Bidang Informasi dan Komunikasi PD OPI Aceh

Kabid Infokom

Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juli 2020

PD OPI Aceh usul Abuya Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee jadi Pahlawan Nasional


Banda Aceh-Pimpinan Daerah Organisasi Pelajar Islam (PD OPI) Provinsi Aceh mengusulkan agar Tgk.H. Muhammad Waly Al Khalidy (Abuya Muda Waly) dan Tgk.H. Muhammad Hasan Krueng Kalee dijadikan pahlawan nasional. "Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee merupakan tokoh agama, pendidikan,  politik dan pejuang yang sangat berpengaruh dalam upaya memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, bahkan diterimanya Ir. Soekarno sebagai pemimpin Indonesia oleh para ulama juga tidak terlepas dari pengaruh Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee" ujar Wakil Ketua II PD OPI Aceh, Rozal Nawafil (17/7/2020).

"Sejarah mencatat peran dan pengaruh penting Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee terhadap eksistensi kemerdekaan Indonesia. Bahkan kiprah kedua Almarhum telah terbukti dan tidak diragukan lagi dalam upaya pergerakan perjuangan dan pengisi kemerdekaan. Sehingga sudah sewajarnya kita bersama sama mendukung pengusulan Abu Tgk. Muda Waly dan Abu Tgk. Hasan Krueng Kalee sebagai pahlawan nasional  dan sudah sepantasnya hal ini direspon oleh pemerintah pusat," ungkap Rozal Nawafil yang juga merupakan mahasiswa/praja di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee berperan dalam upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam berbagai referensi disebutkan bahwa di masa penjajahan, Abuya Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee bersama ulama-ulama Aceh lainnya terus menggelorakan semangat melawan penjajahan dengan semangat jihad fissabilillah.

Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia,  Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee serta para ulama-ulama Aceh lainnya juga melakukan jihad untuk membela agama dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal itu terbukti pada tanggal 15 Oktober 1945, Abu Hasan Krueng Kalee beserta tiga ulama Aceh lainnya menandatangani deklarasi perjuangan Maklumat Oelama Seloeroeh Atjeh, Pernyataan Jihad yang mewajibkan seluruh rakyat Aceh untuk berjihad membela kemerdekaan Indonesia dan mengusir NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) yang hendak menjajah kembali. Maklumat itu merupakan wujud dukungan ulama Aceh terhadap kemerdekaan Republik Indonesia yang telah diproklamirkan. Inti muatannya, maklumat berisi keyakinan para ulama yang bernilai fatwa: perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah sama dengan perjuangan suci yang disebut perang sabil meneruskan perjuangan Aceh terdahulu seperti perjuangan Tgk Chik Di Tiro dan pahlawan lainnya.

Tak lama setelah keluarnya Maklumat Bersama itu, Pada tanggal 25 Oktober Abu Tgk. Hasan Krueng Kalee mengeluarkan sebuah seruan tersendiri yang sangat penting. Seruan ini ditulis dalam bahasa Arab kemudian dicetak oleh Markas Daerah PRI (Pemuda Republik Indonesia) dengan surat pengantar yang ditandatangani oleh ketua umumnya Ali Hasjmy tertanggal 8 November 1945 Nomor 116/1945 dan dikirim kepada para pemimpin dan ulama diseluruh Aceh. Setelah seruan penting itu tersiar luas, maka berdirilah barisan Mujahidin di seluruh Aceh yang kemudian menjadi Mujahidin Devisi Teungku Chik Di Tiro.

Adanya maklumat itu berdampak positif bagi pemerintahan RI. Berbagai dukungan fisik dan materil rakyat Aceh untuk membiayai perjuangan Negara Kesatuan Republik Indonesia tak terbendung, sehingga saat kunjungan pertama Presiden Soekarno ke Aceh, Juni 1948, dengan lantang Soekarno menyatakan bahwa Aceh dan segenap rakyatnya adalah modal pertama bagi kemerdekaan RI.

Rozal Nawafil menjelaskan Organisasi Pelajar Islam (OPI) selaku organisasi serumpun Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) tidak dapat terpisahkan dari perjuangan Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee. PERTI didirikan di Sumatera Barat pada 5 Mei 1928, berkembang di Aceh sejak tahun 1940-an. Abuya Muda Waly merupakan tokoh pertama yang memperkenalkan PERTI di Aceh. “Abu Tgk. H. M. Hasan Krueng Kalee, Abuya Tgk. H. M. Muda Waly Al Khalidy, Tgk. H. Nyak Diwan, Tgk. H. M. Saleh Aron, dan beberapa ulama memprakarsai lahirnya Organisasi PERTI untuk wilayah Aceh.”

“Kiprah PERTI dalam membina tarbiyah umat islam Aceh sangat besar sebagai wadah organisasi yang berjuang untuk mempertahankan orisinalitas pemahaman agama islam di Aceh yang i’tikadnya  mengacu pada faham Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah dan Maturidiyyah) dan berfiqih dengan Mazhab Syafi’i. Hampir seluruh dayah di Aceh bernaung di bawah organisasi ini dan bersanad kepada Abuya Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee”.

Dalam pemilu 1955, PERTI yang menjadi Partai Islam PERTI berhasil memperoleh 465.359 suara atau 1,23% dari total suara pemilih sehingga berhasil memperoleh 7 buah kursi di Konstituante. Dari 7 kursi tadi, satu jatah kursi diberikan kepada PERTI Aceh yang diwakili oleh Tgk. H. Muhammad Hasan Krueng Kalee.

Pada 14 oktober 1957, Abuya Syeikh Muda Waly Al-Khalidy dan Abu Muhammad Hasan Krueng Kalee, serta beberapa ulama lain dari seluruh Indonesia sekitar 500 orang diundang oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno ke Istana Cipanas untuk membicarakan status Negara RI dan presidennya dalam tinjauan agama Islam, apakah sah atau tidak. Dalam pertemuan itu, itu tidak semua para ulama setuju mengangkat Soekarno menjadi pemimpin negara dikarenakan dianggap tidak memenuhi persyaratan menjadi pemimpin menurut fiqh. Namun, Abuya Muda Waly menjelaskan bahwa kepemimpinan Soekarno adalah sah, dengan merujuk kitab "Tuhfatul Muhtaj". Setelah itu maka para peserta pertemuan membaca kitab tersebut dan juga membaca beberapa kitab yang disarankan oleh Abuya selain kitab Tuhfah. Akhirnya pertemuan itu menghasilkan pengakuan bahwa apa yang diungkapkan oleh Abuya adalah benar. Saat itulah Soekarno dinobatkan sebagai Presiden Pertama RI Dan Abuya Muda Waly menyampaikan Presiden Soekarno adalah Ulil Amri adh-Dharuuriy bisy syaukah. Hasil putusan itulah yang dilaporkan oleh Menteri Agama RI KH. Masykur kepada Presiden, dan Presiden Soekarno berterimakasih kepada Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee.

Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee bersama ulama-ulama kaum tua lainnya yang tergabung dalam PERTI  juga tidak mendukung dan bergabung dengan ulama-ulama kaum muda yang tergabung dalam PUSA dalam pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Aceh.

Mantan Gubernur Aceh, Alm. Prof. Ali Hasjmy menyebut Abuya Muda Waly sebagai sosok yang Nasionalis seperti dikutip dari buku Ayah Kami Abuya Syeikh Muhammad Waly Al-Khalidy: Bapak Pendidikan Aceh. Di Dayah Darussalam yang dipimpinnya, Abuya Muda Waly memformulasikan ulang sistem pendidikan pesantren di Aceh pada masa itu. Di dayah inilah pertama sekali diperkenalkan dua sistem yaitu sistem dayah tradisional dimana siswa yang mengikuti jalur ini diharuskan untuk belajar suatu kitab tertentu hingga tamat. Sistem kedua yang diterapkan di dayah ini adalah sistem madrasah, dimana para siswanya belajar dengan mengikuti pola tertentu dan menggunakan gedung yang telah ditentukan. Sistem ini juga tidak mengharuskan siswa untuk menamatkan suatu kitab tetapi harus aktif dalam diskusi-diskusi yang diselenggarakan di dalam kelas. Sehingga tidak heran jika Gubernur Aceh (2/9/2008) menggelari Abuya Muda Waly sebagai Tokoh Pendidikan Aceh.

Abu Hasan Krueng Kalee juga dikenal sebagai pembaharu sistem pendidikan di Aceh. Abu Tgk.H. M. Hasan Krueng Kalee bersama Tgk H.Hasballah Indrapuri, Tgk H.Abdul Wahab Seulimum, Tgk Muhammad Daud Beureueh, Tgk M.Hasbi Ash-Shiddiqy,Tgk. H.Trienggadeng dll mengadakan Musyawarah Pendidikan Islam di Lubuk, Aceh Besar (1-2/10/1932) yang membahas masalah pembaruan dan perbaikan pendidikan Islam. Dayah Darul Ihsan yang dipimpin Abu Hasan Krueng Kalee saat itu pun mengadopsi sistem pendidikan Islam tradisional moderat.

Abu Muda Waly dan Abu Krueng Kalee menjadi kharismatik bukan karena diagungkan oleh masyarakat Aceh pada waktu itu, melainkan pengorbanannya pada Aceh dan Indonesia yang begitu besar, sehingga ia diberi gelar “Ma’rifaullah” atau “al A’rif billah”. Gelar itu ia terima pada sebuah forum tingkat tinggi ulama se-Aceh, 5 Mei 2007, di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Pada pertemuan itu para ulama Aceh telah sepakat, selain Abu Muda Waly dan Abu Krueng Kalee, ada dua ulama lainnya yaitu Syaikh Abdurrauf Singkil (Syiah Kuala) dan Hamzah Fansuri telah sampai pada tingkat Ma’rifatullah.

“Jika melihat syarat-syarat pahlawan nasional, saya rasa tidak ada alasan untuk tidak dapat menjadikan Abu Tgk.H. Muhammad Muda Waly dan Abu Tgk. H. Muhammad Hasan Krueng Kalee menjadi pahlawan nasional Indonesia.” ujar Wakil Ketua II PD OPI Provinsi Aceh tersebut. []

© Infokom PD OPI Aceh

Selasa, 24 April 2018

Ustadz Abdul Somad Ceramah Isra' Mi'raj di Dayah Bustanul Huda

Ceramah Fantastis Ustaz Somad di Abdya, Diusung Tandu, Diguyur Hujan Hingga Dipayungi Kapolres

SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF Sabtu, 21 April 2018 20:44
Ustaz Abdul Somad diberi kehormatan, yaitu diusung dengan tandu melewati Jalan Cot Seutui atau lintasan menuju Dayah Bustanul Huda, Keude Siblah, Blangpidie, Abdya dalam acara penyambutan tabliq akbar di lokasi dayah setempat, Sabtu (21/4/2018). Tugas mengusung ustaz dilaksanakan pemuda yang tergabung dalam Ikatan Pemuda Mata Ie, Blangpidie.

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Ustaz Abdul Somad, Lc., MA. menyampaikan ceramah akbar di Kompleks Dayah Bustanul Huda, Desa Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Sabtu (21/4/2018) sore.

Tabliq akbar dimulai sekitar pukul 15.00 WIB itu sangat fantastis, karena selain jumlah warga yang hadir sangat luar biasa, sampai-sampai kompleks dayah berubah jadi lautan manusia, dan ceramah disampaikan dai kondang asal Pekan Baru, Riau yang dikenal dengan sebutan dai sejuta viewer ini berlangsung di bawah guyuran hujan.

Salam Ta'dzim Ustadz H. Abdul Somad, Lc, MA dengan Tgk. H. Muhammad Qudusi Syam Marfaly

Malah ketika melihat Ustaz Somad mulai basah disiram hujan, Kapolres Abdya, AKBP Andy Hermawan bangkit dari deretan tempat duduk Anggota Forkopimkab di atas pentas utama untuk mengambil payung warna kuning.

Kemudian memayungi Ustaz Abdul Somad sampai ceramah usai yang berlangsung sekitar 50 menit.

“Tak tanggung-tangung yang memayunngi saya ternyata Kapolres,” kata Abdul Somad ketika menoleh ke belakang untuk mengenali siapa gerangan yang memayungi dirinya diguyur hujan.

Ustaz Abdul Somad dalam ceramahnya mengupas soal isra’ mi’raj dengan susunan kata enak didengar dan diselingi humor segar sehingga sangat menarik jamaah yang memadati di lokasi.

Abu Muda Muhammad Qudusi
menyambut Ustaz Abdul Somad
di Kubah Makam
Alm. Abuya Syam Marfaly
Ustaz yang semakin terkenal di media sosial ini mengaku diperlakukan sangat mulia dan dihormati ketika berkunjung ke Dayah Bustanul Huda, Blangpidie, Abdya.       

“Sudah jauh kaki melangkah, jauh melangkah banyak dilihat dan dirasa, tapi baru kali ini, di Dayah Bustanul Huda ini, saya ditandu. Begini  rupanya cara memuliakan ulama, begini rupanya cara menghormati dan memuliakan ustaz ,” kata Abdul Somad dengan intonasi kata khasnya disambut gegap gempita para jamaah.

Sebelum tabliq akbar dari atas pentas utama di kompeks Dayah Bustanul Huda, Ustaz Abdul Somad menerima cendera mata berupa rencong Aceh, diserahkan Bupati Akmal Ibrahim.

Pimpinan Dayah,  Tgk H Muhammad Qudusi Syam Marfaly menyerahkan surban (ridak) yang sudah dipasang lambang dayah dan Ketua Panitia, Tgk Nasruddin AR  menyerahkan cendera mata berupa baju seragam panitia.


Buku "37 Masalah Populer" dan
"99 Tanya Jawab seputar Shalat"
Tulisan Ustaz Abdul Somad
Sementara Ustaz Abdul Somad memberikan sejumlah kitab yang ia ditulis sendiri kepada Pimpinan Dayah Bustanul Huda, Tgk H Muhammad Qudusi Syam Marfaly.

Dai kondang asal Pekanbaru, Riau tiba mulut Jalan Cot Seutui, lintasan menuju dayah sekitar pukul 13.30 WIB, Sabtu siang, disambut Tgk Zarkasyi (Abon), unsur pimpinan dayah dan Ketua Panitia, Tgk Nasruddin AR bersama ulama pimpinan dayah dan tokoh masyaarakat.

Ustaz Abdul Somad tiba di mulut jalan tersebut, didampingi Bupati Akmal Ibrahim, Wakil Bupati, Muslizar MT, Ketua DPRK, Zaman Akli, Dandim 0110, Letkol Arm Iwan Aprianto, Kapolres, AKBP Andy Hermawan yang sebelumnya menyambutnya di Bandara Kuala Batu, Pulau Kayu, Susoh.

Ustaz Abdul Somad dan rombongan terbang dari Bandara Kuala Namu, Medan menuju Abdya dengan pesawat Susi Air yang disewa Bupati Akmal Ibrahim.          

Rencong Hadiah untuk Ustadz Abdul Somad
Disisi Rencong Tertulis Nama Ustadz Abdul Somad

Setelah disambut di pintu masuk Jalan Cot Seutui, ustaz lulusan S2 Dar Al-Hadits Al-Hassania Institute, Kerajaan Maroko, ini mendapat kehormatan dan kemuliaan, yaitu diusung dengan tandu  menuju Dayah Bustanul Huda, jarak 300 meter dan diiringi salawat badar.

Tugas mengusung dengan sigap dilaksanakan sekitar 60 pemuda yang tergabung dalam Ikatan Pemuda Mata Ie, Blangpidie, kemudian turun di  tepat di pintu gerbang dayah, Ustaz Abdul Somad disambut Tgk Ahmad Azhar Hasan (Abati), unsur pimpinan dayah.

Lalu, masih diiringi salawat badar dan tepung tawar, Ustaz Abdul Somad berjalan melewati pengamanan pagar betis ratusan santri menuju kubah untuk ziarah makam alm M Syam Marfaly, pendiri Dayah Bustanul Huda.

Di pintu kubah, disambut Pimpinan Dayah Bustanul Huda, Tgk H Muhammad Qudusi Syam Marfaly.

Ustaz Somad usai ziarah, Ustaz Abdul Somad melakukan prosesi mengijazahkan ilmu hadist kepada ratusan santri Dayah Bustanul Huda, didampingi Tgk H Muhammad Qudusi Syam Marfaly.

Ustaz Abdul Somad bersama
Dewan Penasehat PD OPI Aceh,
Tgk.H. Muhammad Qudusi Syam Marfaly
Warga yang sudah memadati kompleks dayah sejak pagi tetap setia menunggu Ustaz Abdul Somad  menyampaikan cerah akbar dimulai setelah jamuan makan siang dan shalat duhur, meskipun cuaca panas sejak pagi. (*)
 
Ustadz Abdul Somad bersama Keluarga Besar Alm. Abuya Syaikh
Tgk. H. Muhammad Syam Marfaly / Abu Syam / Abu di Blang
(Ulama Kharismatik dan Tokoh PERTI Aceh Barat Daya)

***


Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Ceramah Fantastis Ustaz Somad di Abdya, Diusung Tandu, Diguyur Hujan Hingga Dipayungi Kapolres, 
Penulis: Zainun Yusuf    

Editor: Yusmadi

© Infokom PD OPI Aceh

Selasa, 06 Maret 2018

Tgk. H. Nashiruddin Daud; Berjuang, Belajar, Berbakti

Tgk. H. Nashiruddin Daud
  • Nama : Tgk. H. Nashiruddin Daud
  • Tempat / Tanggal Lahir : Padang Keuneuleh, Manggeng, Aceh Barat Daya / 31 Desember 1942
  • Wafat : Pancor Batu, Deli Serdang, Sumatera Utara / 25 Januari 2000
  • Agama : Islam
  • Alamat :
    1. Jl Puda 5 Kuta Alam, Banda Aceh
    2. Komplek DPR-RI Blok A6-98 Kalibata Jakarta Selatan
  • Istri : Rosniar
  • Anak :
    1. Abdul Rauf, 1974
    2. Qushairi, 1975
    3. Nuriati, 1978
    4. Husna, 1980
    5. Yusra, 1982
    6. Sahrati, 1984
    7. Muhammad Fadhil, 1989
    8. Nurbaiti, 1992
  • Pendidikan:
    1. Sekolah Rakjat, Manggeng, 1958.
    2. Ibtidaiyah Darussalam, Labuhan Haji, 1961
    3. Tsanawiyah Darussalam, Labuhan Haji, 1964
    4. Aliyah Darussalam, Labuhan Haji, 1967
    5. Aliyah Banda Aceh, 1969
  • Organisasi:
    1. 1970-1972, Pengurus Partai Islam PERTI, Aceh
    2. 1974-2000: Imam Masjid Baitul ‘Alam, Kuta Alam Banda Aceh
    3. 1980-1994-Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Alam Jaya, Kuta Alam
    4. 1981-1990, Ketua Perti Kodya Banda Aceh
    5. 1982-1987: Anggota DPRD Banda Aceh
    6. 1985-1990, Wakil ketua DPC PPP Banda Aceh
    7. 1988-1993, Wakil ketua DPD PERTI, Aceh
    8. 1990-1995, Wakil Sekretaris DPW PPP Aceh
    9. 1995-2001: Wakil ketua Inshafuddin, Aceh
    10. 1998-2001: Pimpinan Daya Inshafuddin
    11. 1999-2004: Wakil ketua DPW PPP Aceh
    12. 1999-2001: Anggota DPR/MPR-RI

A. Prolog Kehidupan 


Dikalangan pengurus dan warga Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Aceh khususnya, serta masyarakat Aceh pada umumnya, nama Tgk. H. Nashiruddin Daud sudah tidak asing lagi bagi mereka.

Dikeluarganya beliau dipanggil “Abu” oleh anak-anak dan istrinya, suatu sebutan anak terhadap orang tua. Suatu yang sudah menjadi tradisi ditengah dan dikalangan keluarga masyarakat Aceh yang banyak menyerap istilah arab dalam kehidupan, kemudian diadopsi menjadi narasi komunikatif antara anak dan orang tua. Selain panggilan Abu, padanan kata lainnya yang juga dipakai oleh masyarakat Aceh yaitu “Abon”, dsb.

Tgk. Nash dilahirkan di Padang Kelileu, Manggeng Kabupaten Aceh Selatan (sekarang kabupaten Aceh Barat Daya setelah pemekaran wilayah) pada tanggal 31 Desember 1942. Jalur pendidikannya ditempuh pada Sekolah Rakjat Manggeng pada tahun 1958. Sebagai keluarga yang masih sangat kuat menanamkan nilai-nilai ajaran Islam dan sangat mementingkan pendidikan agama, setelah menamatkan pendidikan Sekolah Ra'jat, Tgk. Nash mengenyam dan menimba ilmu-ilmu agama Islam di Pesantren Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan sejak tahun 1958-1967.

Pesantren Darussalam pada waktu itu dipimpin oleh Abuya Syeikh Haji Muhammad Muda Waly al-Khalidy, seorang ulama yang sangat masyhur, luas ilmunya dan pemahaman keagamaanya. Selama 9 (sembilan) tahun menimba ilmu di dayah Darussalam, jenjang tsanawiyah , Aliyah dan Bustanul Muhaqqiqien (setingkat perguruan tinggi).

Dikalangan teman-teman yang seangkatan dengannya di pesantren, Tgk. Nash dikenal sebagai figur santri yang cerdas dan kepiawaiannya dalam menyelesaikan dan menjawab setiap pertanyaan dari teman-teman Beliau.

Kebiasannya mengangkat-ngangkat kopiah yang melekat pada kepalannya bila beliau sedang memikirkan setiap persoalan dan permasalahan seputar pengetahuan yang berkembang dalam forum diskusi maupun ketika mempersiapkan argumentasi-argumentasi yang akan disampaikan dalam forum diskusi menjadi karakter beliau, dikalangan santri-santri dayah mengatakan hal tersebut mengindikasikan bahwa Tgk. Nash sedang berfikir serius tentang argumen, dalil-dalil apa yang akan disampaikan di diskusi (drah kitab).

Pada tahun 1971, Tgk. Nash menikah dengan Rosniar, anak dari H. Hanafiah Sanany (abang kandung Kol.H. Nukum Sanany) yang bersebelahan dengan desa tempat tinggalnya, yaitu desa Kayee Aceh, Manggeng (sekarang Kecamatan Lembah Sabil setelah pemekaran). Dari perkawinannya dengan Rosniar, mereka telah dikaruniai oleh Allah SWT 3 (tiga) orang putra dan 5 (lima) putri, yaitu Abdurrauf (1973), Qusyairi (1975), Kurniati (1977), Husna (1980), Yusra (1983), Syahrati (1985), Muhammad Fadhil (1988) dan Nurbaiti (1991).

Walaupun pendidikan beliau berlatar belakang dayah namun Tgk. Nash tidak pernah bersikap otoritarian terhadap arah pendidikan anak-anaknya. Mereka diberikan kebebasan dan keluwesan untuk memilih sekolah apa yang diinginkannya, tidak mesti harus di Dayah/pesantren dan madrasah seperti jalur pendidikan yang beliau tempuh namun beliau dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Tgk. Nash mengajarkan langsung pendidikan agama untuk anak-anaknya sejak mereka berumur 7 tahun, seperti mendidik anak-anaknya untuk bisa membaca al-Qur`an dan mengajurkan dan membiasakan shalat dengan mengajak mereka berjamaah di Mesjid. Mesjid bagi beliau adalah tempat paling pertama dan utama, tak ada yang lebih penting bagi beliau selain Mesjid. Bahkan dengan santun beliau meninggalkan tamunya bila suara azan terdengar walaupun tamu terhormat sekalipun.

Beliau adalah sosok pendidik yang luar biasa, mendidik dengan ketaladanan. Hari-hari beliau, aktifitas beliau selalu dihiasi dengan sunnah Rasul, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Taka ada malam yang terlewatkan oleh beliau kecuali dalam sujud panjangnya, tak ada senin kamis yang beliau tinggalkan selain menahan rasa haus dan lapar, tak ada dhuha yang beliau lewatkan kecuali dengan bertadarus dan menghayati ayat-ayat cinta-Nya.

Beliau juga dikenal sebagai sosok yang dermawan, walaupun hidup dengan kehidupan yang pas pas an namun tidak menyurut keinginannya untuk terus memberi dan berbagi. Jadi tak heran bila beliau rela berjalan kaki dari pasar aceh kekediaman beliau dikarenakan seluruh uangnya diberikan kepada peminta minta. Hingga akhir hayatnya beliau hanya memiliki rumah yang sangat sangat sederhana, rumah yang mungkin tak layak bagi seorang anggota DPR RI.

***

B. Hijrah Ke Banda Aceh.

Perpindahan (hijrah) dari suatu tempat, daerah dan dari suatu kondisi ke tempat dan kondisi lainnya, merupakan peristiwa yang pernah dilakukan Nabi Muhammada Saw. Makna hakiki dari proses hijarah adalah harapan untuk terwujudnya perubahan-perubahan dan cita-cita yang pada setiap manusia. Demikian juga halnya dengan sosok Tgk. Nash, pada tahun 1971 beliau hijrah ke Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh

Banda Aceh sebagai pusat kota, tentunya Tgk.Nash seringkali bersentuhan dengan nilai-nilai dan pandangan yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan dalam lembaga pendidikan dayah yang sarat dengan nilai-nilai religius. Peran dan fungsi sosial keagamaan yang pertama kali ia dapatkan adalah menjadi imam mesjid Baitul `Allam-Masjid dimana Tgk. Nash berdomisili, yaitu di desa Kuta Alam. Suatu tanggung jawab yang besar tentunya, yang tidak hanya sekedar menjadi imam ketika shalat lima waktu, namun menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan yang timbul ditengah-tengah masyarakatnya dan bagaimana membentuk karakter manusia untuk selalu patuh dan melaksanakan ajaran Islam.

Mesjid yang mempunyai fungsi ganda sebagai tempat ibadah, dan aktivitas sosial keagamaan yang lain, termasuk didalamnya aktivitas pendidikan. Momentum hijrah ini, dimanfaatkan Tgk.Nash di Mesjid untuk mentransfer pengetahuan agama yang diperolehnya itu kepada masyarakat luas. Sudah menjadi semacam tradisi dan cita-cita bagi setiap orang untuk menjadi pengajar (guru, dosen). Karena itu bagi ulama/Kiai semua manusia harus belajar menjadi guru dalam madrasah, sekolah, pesantren atau dayah, atau di lapangan, pasar, dan di jalan-jalan. Mereka yang ilmunya tinggi atau sedikit, wajib menyebarluaskan ilmu yang dimilikinya.

Halaqah sebagai pola pengajaran yang digunakannya untuk mengajarkan akan masyarakat pengetahuan agama. Mesjid Baitul `Allam menjadi basis awal bagi gerakan pendidikan yang dilakukannya. Materi-materi ajarannya (subject matter) lebih didominasi oleh corak fiqih-sufistik. Literatur yang dipakai sebagai bahan referensi adalah; untuk kajian fiqh yaitu al-Bajuri, I`anah al-thalibin, Tuhfatul muhtaj Mazahibul Arba`ah dan Bidayatul Mujtahid. Sedangkan kajian tasawuf, rujukan yang digunakan Tgk.Nash hanya Ihya `Ulumuddin, karangan Imam Al-Ghazali.

Tidak hanya masyarakat yang ada dilingkungannya yang datang untuk memperoleh ilmu darinya, tapi juga masyarakat lainnya yang berdomisili di Banda Aceh. “Ulama yang tidak memiliki dayah”, demikian sebutan yang cocok bagi Tgk.Nas. Karena memang dia tidak memiliki dan mewarisi dayah dan santri sebagaimana lazimnya ulama-ulama lainnya sekaliber Tgk. Nash. Hanya mesjid dan rumahnya digunakan untuk mengajarkan apa saja ilmu yang dia miliki. Pernah juga mahasiswa IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry asal Malaysia dan mahasiswa setempat yang belajar di rumahnya. Biasanya mahasiswa-mahasiswa itu belajar berkaitan dengan mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi tersebut. 

Tidak hanya sebagai seorang ulama yang hanya menyebarkan ilmunya melalui ceramah dan mengajar, tapi Tgk. Nash juga sebagai wartawan surat kabar Peristiwa pada tahun 1976, ilmu jurnalistik diperolehnya melalui pelatihan jurnalis yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Medan. Melalui pengalaman menulis yang diperolehnya, ia menyebarkan apa yang diketahui dan ilmunya melalui artikel di koran.

***

C. Berpolitik Praktis

Untuk bisa mewujudkan ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat Aceh, maka kita harus berada dalam sistem yang ada. Prinsip tersebut yang mendorong Tgk.Nash untuk terlibat langsung dalam dunia politik Keterlibatan dan kiprahnya dalam politik praktis berawal setelah dia bergabung dan menjadi pengurus partai Islam Perti Aceh pada tahun 1970-1972. Setelah Perti kembali pada khittahnya (tidak lagi ikut serta keterlibatan dalam politik) sebagai organisasi masyarakat yang concern pada wilayah sosial kemasyarakatan dan pengembangan pendidikan, kemudian Tgk. Nash bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan Aceh (PPP)-mewakili unsur PERTI yang berfusi ke PPP tanggal 5 Januari 1973. 

Keseriusan dan keterlibatannya di panggung politik menjadikannya sebagai salah satu politisi yang berasal dari kelompok ulama. Kehidupan politik menjadi bahagian dari kehidupannya yang tidak bisa dipisahkan dengan konsep hidupnya “amar ma`ruf nahi mungkar”. Tgk. Nash tidak hanya menerapkan strategi kultural (cuktural strategies) dalam menjalankan konsep tersebut, tapi juga strategi struktural dilakukannya. Kedua strategi itu, satu dengan lainnya bersifat saling melengkapi (komplementer), bukannya bersifat mutually exlusive.

Strategi kultural digunakannya sebagai tujuan untuk mempengaruhi perilaku sosial (cara berfikir masyarakat) kearah penerapan kehidupan keberagamaan yang lebih baik dan tertata rapi. Dakwah dan pengajian merupakan cara dari strategi kultural yang menitik beratkan penekanan pada agama sebagai moral force atau inspirational. Cara inilah yang paling sering dilakukan Tgk. Nash. Disisi lain, dia menerapkan pula strategi struktural, dimana peran politik sangat dominan. Karena itu keterlibatan langsung Tgk. Nash dalam perpolitikan merupakan kesadaran kritisnya bahwa perilaku-perilaku dan tatanan kehidupan dapat berubah kearah yang lebih baik, dapat dilakukan dengan mempengaruhi struktur politik (legislatif, eksekutif).

Amar ma`ruf nahi mungkar, sudah menjadi prinsip hidup Tgk. Nash, bahwa hidup ini harus sejalan dan didasarkan pada tatanan kehidupan Islami-agama menjadi petunjuk untuk perilaku, misalnya perilaku politik, birokrasi dan industru budaya. Prinsip tersebut kemudian diwujudkannya ketika dia terpilih sebagai wakil rakyat (DPRD Kodya Banda Aceh periode 1982-1987) pada pemilu 1982. Tgk. Nash berpandangan bahwa fungsi pemerintah memberikan jaminan layanan bagi masyarakatnya secara baik dan memuaskan quality ensure, serta bagaimana menjamin kesejahteraan mereka. 

Konsep tersebut, selama ini juga diusung dan menjadi jargon bagi gerakan-gerakan mahasiswa dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Perbedaan bahasa dan term yang menjadikannya seolah-olah berbeda antara apa yang diperjuangkan kelompok ulama dengan aktivis LSM-yang dalam setiap gerakan-gerakan mereka menggunakan tema-tema dan issu penindasan terhadap rakyat. 

Subtansi arah dan tujuan kedua kelompok masyarakat itu sebenarnya bermuara pada satu visi, yaitu sama-sama mengkritik kebijakan pemerintah yang telah kehilangan arah bagi pemihakan terhadap rakyat. Demonstrasi dan aksi-aksi di jalan merupakan media yang sangat dominan yang dilakukan oleh aktivis mahasisw dan LSM untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Sedangkan kelompok ulama memanfaatkan khutbah dan ceramah, baik di mesjid maupun tempat lainnya sebagai momentum untuk melakukan kritik-kritik berbagai persoalan kehidupan masyarkat. Kalau aktivis mahasiswa dan LSM dalam setiap gerakannya sudah terorganisir dengan baik, dan memeliki agenda secara kolektif, maka pada kelompok ulama, kritik itu sering muncul pada personal ulama yang bersangkutan.

Keprihatinanya terhadap dekandensi moral generasi muda Aceh yang disebabkan oleh faktor penanyangan film yang berbau pornografi di Bioskop dan di panggung hiburan rakyat (PHR) dan poster-poster porno. Kritik dan protes keras yang dilakukan Tgk.Nash dengan merobek poster-poster porno di PHR Puda Kuta Alam Banda Aceh (berdekatan dengan tempat tinggalnya) membuat dia ditangkap dan harus berurusan dengan pihak kepolisian karena adanya laporan keberatan dari pemilik dan pengelola PHR Puda. 

Kritik tajam terhadap kebobrokan pemerintah kerap kali disampaikannya pada setiap ada kesempatan. Ketika Tgk. Nash berkampanye untuk Partai Islam Perti tahun 1970 di kabupaten Pidie , materi kampanye yang disampaikannya membuat pemerintah Aceh tersinggung, dan beliau ditahan selama dua bulan. 

Kritik yang disampaikannya terhadap Golkar sebagai penguasa Orde Baru saat itu pada sidang-sidang di DPRD Kodya Banda Aceh (pada Tahun 1982-1987 sebagai anggota DPRD Kodya Banda Aceh), banyak pihak yang merasa kebakaran jenggot karena kritikan itu dan mengharuskan pemerintah membuat catatan-catatan khusus dan track record jelek atas diri Tgk.Nash (“tinta merah”, istilah yang biasa digunakan pemerintah Orba, ditujukan terhadap personal dan institusional yang mengkritik dan melawan kebijakan pemerintah serta orang yang dianggap ekstrem).

***

D. Fitnah Politik dan Akhir Perjalanan Hidupnya



“Politik itu kejam atawa jahat”, “tidak ada lawan yang abadi, tidak ada kawan yang sejati”, suatu kamus dan kitab suci yang sering berlaku dikalangan politisi.

Tgk. Nash sebagai salah satu dari sekian ulama di Aceh yang berkiprah dalam dunia politik praktis. Sulit memang bagi figur ulama untuk menggeluti dunia politik, karena opini dan asumsi-asumsi yang terbangun tentang politik selama ini sebagai sesuatu yang jahat. Kita tidak dapat menyalahkan pernyataan itu, karena bukti empirik telah mengindikasikannya.

Persoalan sebenarnya adalah bagaimana seseorang memposisikan dan memperlakukan politik pada dirinya. Demikian juga halnya dengan ilmuwan yang terjun dalam pilitik, dia akan terkoptasi dengan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan kelompok.

Salah satu bias-bias politik, yang secara langsung dapat dirasakan, diamati dan dibaca adalah pada saat berlangsungnya suksesi kepemimpinan daerah. Dukung mendukung merupakan fenomena yang sudah lumrah terjadi. Bila kandidat lawan yang terpilih, maka sang politikus itu akan mendapati rintangan, dan boleh jadi karir politiknya akan kandas di tengah jalan dan akan berakhir. Tahun 1986 merupakan suksesi gubernur dari kepemimpinan Teuku Hadi Thayeb untuk periode 1986-1993.

Kandidat yang muncul saat itu dan merupakan titipan pemerintah pusat melalui Golkar adalah Ibrahim Hasan. Dikalangan ulama dayah Aceh yang dimotori oleh Tgk. Nash, menginginkan Teuku Hadi Thayeb menjabat kembali sebagai gubernur Aceh untuk periode selanjutnya. Bulan Februari 1986, Tgk. Nash berinisiasi mengumpulkan tanda tangan ulama dayah yang ada di Aceh (persetujuan dalam mendukung kembali Hadi thayeb sebagai gubernur Aceh). Selanjutnya dukungan tersebut disampaikan kepada presiden Soeharto di Jakarta.

Delegasi yang hadir saat itu salah satunya Tgk. Nash, tapi mereka ditolak untuk bertemu Soeharto dan hanya diterima oleh Mensekneg-Soedharmono (Ketua Umum DPP Golkar) dan hanya menyampaikan surat yang berisi aspirasi ulama dayah Aceh tentang penolakan terhadap pencalonan Ibrahim Hasan dan mempertahankan Teuku Hadi Thayeb sebagai gubernur Aceh periode untuk kedua kalinya. Surat itu tidak pernah direspon oleh pemerintah pusat, dan bulan Mei 1986 Ibrahim Hasan terpilih sebagai Gubernur Aceh periode 1986-1993.

Menjelang pemilu 1987, beberapa bulan pasca suksesi gubernur selesai, Tgk. Nash menghadapi berbagai rintangan dalam karir politiknya di PPP. Pada saat penyusunan Calon legislatif sementara (Caleg) DPRD Tk.I Aceh, namanya dicoret dari daftar Caleg asal PPP. Alasan Panitia Pemilu saat itu, karena adanya surat dari Dinas Sosial Politik Aceh yang menyatakan bahwa Tgk. Nash terlibat salah satu dari ormas PKI. Bagi masyarakat Aceh pernyataan itu merupakan sesuatu yang tidak logis, tidak masuk akal sehat tentunya, hanya orang-orang yang sudah rusak pikirannya-tidak untuk menyatakan sudah gila, menuduh seorang ulama sebagai PKI.

Bagaimana mungkin Tgk. Nash yang idiologinya mengakui akan adanya Tuhan, kemudian dituduh PKI yang sama sekali tidak mengakui Tuhan, berideologi komunis? Suatu hal yang absurd.

Tgk. Nash sudah mulai menuai hasil dari kritik-kritik tajam dan ketidak senangannya pada pemerintah Orde Baru.-yang sedang gencar-gencarnya ingin memenangkan dan mengibarkan bendera kuning (Golkar) di Aceh. Tugas inilah yang pertama kali dipikul Ibrahim Hasan sebagai gubernur Aceh pada pemilu 1987.

Sejak pemilu 1977 dan 1982 Aceh merupakan basis dan menjadi milik Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Yang menjadi hambatan bagi kemenangan Golkar di Aceh, salah satunya adalah karena adanya fatwa dan sikap secara terang-terangan dari beberapa ulama mengharamkan Golkar untuk dipilih oleh kelompok pengikutnya.

Pada pemilu 1999, Tgk. Nash kembali lagi dalam percaturan politik setelah 12 (dua belas tahun) tidak aktif lagi. Kepercayaan rakyak memilihnya, menghantarkannya menjadi Anggota DPR/MPR-RI di senayan Jakarta (Wakil ketua Fraksi PPP DPR-RI) asal pemilihan Aceh Selatan.

Dengan berbagai amanah yang dipikulnya dan belum sempat dilaksanakannya serta diperjuangkannya, pada tanggal 25 Januari 2000 Allah Swt mentakdirkan Tgk. Nash menghadap Sang Khaliknya setelah jenazahnya ditemukan meninggal di Pancor Batu Sumatera Utara.

Tgk. Nash diculik oleh sekelompok orang yang tak dikenal di Medan pada tanggal 25 Januari 2000 setelah kembali dari tugas bersama Tim Forka di Banda Aceh. Jenazah yang sudah sempat dikuburkan di pemakaman umum Delitua itu yang sudah berumur tiga hari, pada tanggal 1 Februari 2000 digali kembali, setelah anak kandung dan kerabat almarhum serta kolega almarhum diantaranya Abdullah Saleh, SH yang datang ke Medan, memastikan bukti-bukti (antara lain baju) yang ada pada pihak rumah sakit dan polisi adalah milik Tgk Nashiruddin Daud.

Saat kondisi Aceh sedang tidak menentu, pembunuhan dan penculikan terjadi dimana-mana serta eskalasi politik Aceh yang kian memanas. Hasil visum dari rumah sakit Adam Malik Medan menunjukan bahwa dia meninggal akibat lehernya dijerat tali dan pendarahan yang serius di kepalanya akibat benturan benda tumpul.

Seperti diketahui, Tgk Nashiruddin Daud yang juga Wakil Ketua DPW-PPP Aceh termasuk Wakil Ketua Pansus Aceh DPR-RI yang independen mempertanyakan berbagai kasus yang terjadi di Aceh pada masa DOM lalu. Ketika Pansus (Panitia Khusus) DPR-RI memanggil para dan mantan jenderal yang diduga kuat terlibat dalam kasus Aceh, Tgk. Nash sempat mengintrupsi seorang purnawirawan jenderal.

Saat itu, seorang purnawirawan Jenderal sedang memaparkan berbagai masalah kerusuhan di Indonesia. Tiba-tiba Tgk Nashiruddin melakukan interupsi, karena yang dijelaskan oknum purnawirawan jenderal itu sudah keluar dari permasalahan yang sedang dipertanyakan.

“Saudara jangan ceramahi kami di sini dan tolong saudara jawab apa yang ditanyakan wakil rakyat tentang masalah Aceh yang sebenarnya.”

Saat kondisi Aceh sedang tidak menentu di tahun 2000, pembunuhan dan penculikan terjadi dimana-mana serta eskalasi politik Aceh yang kian memanas.

Disela-sela kunjungan kerjanya ke Banda Aceh (dua puluh hari sebelum meninggal), Tgk. Nash memberikan ceramah sebagai khutbah terakhirnya di Mesjid Baitul `Allam tentang kondisi dan situasi Aceh saat ini. Dalam ceramah dan khutbahnya, ia mengungkapkan bahwa nyawa manusia sekarang ini di Aceh sudah tidak berharga, tidak bernilai sama sekali, dan kita sangat gampang membunuh orang karena perbedaan dan berlainan persepsi, tanpa adanya perasaan dosa dan takut akan ancaman Allah SWT.

Apa yang disampaikan dalam khutbah terakhirnya, pun terjadi pada dirinya.Ini merupakan takdir Allah atas dirinya. “Seorang kamu tidak satupun mengetahui di bumi, daerah manakah kamu akan meninggal” Tgk. Nash terlahir di Manggeng Aceh Barat Daya, dan akhir hidupnya Allah menakdirkan di Medan Sumatera Utara. Semoga segala amal ibadah sosialnya diterima disisi Allah Swt.dan dia memperoleh pahala syahid dari kematiannya yang dizhalimi oleh orang.

Selamat jalan Abu kehidupan di alam sana jelas lebih membahagiakan dan jauh dari kepura-puraan. Kami anak-anak mu sudah mengikhlaskan kepergianmu menghadap sang Khaliq dan kami sudah menyampaikan kepada pemerintah dan IPU (Organisasi Parlemen Dunia) untuk menghentikan penyedikan kasus ini, kami yakin Allah Swt sudah memilih jalan yang terbaik untukmu Abu.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu yang mengridhai hambanya," Lahu Al-Fatihah....

**Penulis:  Qusyairi dan Syahrati (Anak almarhum Tgk Nashiruddin Daud) 

Minggu, 11 Februari 2018

Kisah Kecerdikan Al Imam Abu Bakr Al Baqilaniy

Al imam Abu Bakr Al Baqillani Mosque

Pernah suatu ketika Al-Imam Abu Bakr Al-Baqilaniy رحمه  (Beliau terkenal sebagai ahlul kalam dan ahlul munazharah {pandai mendebat}) bertemu dengan seorang pendeta Nasrani.
"Kalian orang-orang Islam! Kalian memiliki sifat rasis" kata si Nasrani.
"Kenapa bisa begitu?" Jawab Al-Baqilaniy رحمه 
"Kalian membolehkan untuk diri kalian menikahi ahlul kitab (baik Yahudi maupun Nasrani), namun kalian tidak membolehkan yang selain kalian untuk menikahi anak-anak perempuan kalian" kata si Nasrani.
Maka dijawab oleh Al-Imam رحمه , "Kami (boleh) menikahi seorang Yahudi karena kami mengimani Nabi Musa عليه السلام; kami (boleh) menikahi seorang Nasrani karena kami mengimani Nabi Isa عليه السلام. Dan kalian! Kapan saja kalian mau mengimani Nabi Muhammad ﷺ maka kami akan nikahkan kalian dengan anak-anak perempuan kami"
Maka terbungkamlah orang yang kafir.

Hikmah Dalam Berucap, Cerdik Dalam Menjawab


Abu Bakr Al-Baqilaniy رحمه  adalah ulama kibar di masanya. Maka pada tahun 371 Hijriah raja Irak memilih dan mengirimnya untuk mendebat kaum Nasrani di Kostantinopel (Romawi).
Ketika sang raja Romawi mendengar akan kedatangan Abu Bakr Al-Baqilaniy رحمه  dia memerintahkan prajuritnya untuk memendekkan tinggi pintunya, yang ini agar Al-Baqilaniy ketika masuk butuh untuk menundukkan kepala dan tubuhnya seperti posisi ruku' sehingga dia pun (seakan) merendah untuk sang raja Romawi dan prajuritnya.
Ketika Al-Baqilaniy رحمه  sampai (di istana sang raja), dia pun mengetahui muslihat ini, maka dia membalikkan tubuhnya ke belalang dan menunduk kemudian memasuki pintu dengan berjalan mundur ke belakang menjadikan bagian belakang kepalanya menghadap sang raja Romawi sebagai ganti dari wajahnya. Di sini tahulah sang raja kalau dia berhadapan dengan orang cerdik.
Al-Baqilaniy رحمه  masuk dengan mempermalukan mereka. Dan dia tidak mengucapkan salam kepada mereka (karena larangan Rasul  untuk memulai salam kepada ahlul kitab). Kemudian Dia menoleh kepada pendeta yang paling besar dan berkata padanya, "Bagaimana keadaan kalian? Dan bagaimana keadaan keluarga serta anak-anak?"
Raja pun marah dan berkata, "Tidakkah kau tahu kalau pendeta-pendeta kami mereka tidak menikah dan tidak dikaruniai anak?!!"
"Allah Maha Besar!! Kalian sucikan pendeta-pendeta kalian dari menikah dan dikaruniai anak, kemudian kalian menuduh Tuhan kalian kalau Dia menikahi Maryam dan dikaruniai Isa?!" Kata Al-Baqilaniy رحمه 
 Sang raja pun semakin marah, kemudian berkata dengan sangat keras, "Lalu Apa Ucapanmu Pada Apa Yang Dilakukan Oleh Aisyah??!!!"
"Kalau Aisyah رضي  عنها telah tertuduh (dituduh berzina oleh kaum munafik) Maryam juga tertuduh (dituduh berzina oleh orang Yahudi). Dan keduanya itu bersih (dari tuduhan). Akan tetapi, Aisyah menikah dan tidak dikaruniai anak, sedangkan Maryam dikaruniai anak namun tidak menikah, maka mana dari keduanya yang lebih pantas untuk tertuduh dengan tuduhan bathil itu? Dan keduanya itu suci (terbebas dari tuduhan zina) رضي ﷲ عنهما "
Maka semakin bertambah gilalah sang raja.
"Apakah Nabi Kalian dahulu berperang?" Tanya sang raja.
"Ya" jawab Abu Bakr رحمه 
 "Apakah dahulu dia maju untuk berperang (terjun langsung)?"
"Ya"
"Apakah dia pernah menang?"
"Ya"
"Apakah dahulu dia pernah kalah?"
"Ya"
"Sungguh mengherankan! Ada seorang Nabi kok kalah (perang)"
"Apakah ada Tuhan yang disalib?"
Maka terbungkamlah orang yang kafir.
============


Sumber: Tarikh Baghdad karya Al-Khatib Al-Baghdadi, Jilid 5, Halaman 379, cetakan Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah | Alih bahasa: Syabab Anwarussunnah
© Infokom PD OPI Aceh

Sabtu, 10 Februari 2018

Keberkahan Ludah Gadis Kecil



Suatu siang, Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli singgah di sebuah desa. Ketika itu waktu dhuhur hampir habis, namun beliau tak menjumpai seorang pun yang dapat ia tanyai untuk mendapatkan air wudhu.

Akhirnya, setelah lama mencari kesana-kemari, Syaikh Sulaiman al-Jazuli mendapati sebuah sumur. Ia bergegas untuk mengambil air wudhu, akan tetapi beliau tak mendapati sesuatu pun yang dapat digunakan untuk mengambil air dari sumur tersebut. Tak ada timba yang tersedia disana. Sehingga ia pun berputar-putar di sekeliling tempat itu untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menimba air.

Dalam keadaan bingung seperti itu, tiba-tiba dari tempat yang lebih tinggi seorang gadis kecil (Usianya kira-kira tujuh tahun) yang sedang memperhatikan beliau, berkata:

“Ya Syaikh, siapa anda? Dari tadi anda tampak kebingungan, berputar-putar di sekitar sumur ini?”, tanya anak kecil itu.

“Aku Muhammad bin Sulaiman. Aku mencari timba untuk mengambil air. Waktu dhuhur sudah sempit, sementara aku harus segera mengambil air wudhu guna melaksanakan shalat,” jelas Syaikh Sulaiman al-Jazuli.

“Engkaulah pria yang dipuji-puji dan disebut sebagai orang sholeh akan tetapi bingung bagaimana mengeluarkan air wudhu dari dalam sumur ini?”, tanyanya.

“Baiklah, tunggulah sebentar,” ujarnya kemudian.

Gadis kecil itu bergegas mendekat ke bibir sumur, lalu meniupnya sekali. (Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa gadis kecil itu meludahinya). Maka seketika itu air dari dalam sumur itu mengalir deras dan naik ke atas hingga menyerupai sungai sungai. Syaikh Sulaiman pun takjub, namun ia tak memiliki banyak waktu. Ia harus segera berwudhu untuk kemudian menunaikan shalat dhuhur yang waktunya sudah hampir habis. Padahal ia ingin tahu lebih banyak tentang anak itu, yang segera pulang ke rumah setelah melakukan hal yang membuat Syaikh Sulaiman terkagum-kagum.

Begitu selesai menunaikan shalat dhuhur, Syaikh Sulaiman bergegas mendatangi rumah gadis kecil itu.“Siapa itu?”, anak perempuan itu bertanya dari dalam rumah begitu terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu.

Maka Syekh berterus terang, “Wahai anak perempuan, demi Allah dan Kemahaagungan-Nya yang menciptakan kamu, saya mau tanya tentang suatu hal.”

“Aku angkat tangan padamu. Demi kemahaagungan Allah, aku mohon kamu bersedia menceritakan kepadaku dengan amal apakah engkau memperoleh kedudukan yang demikian tinggi?”, tanya Syaikh Sulaiman.

Gadis kecil itu terdiam, lalu menjawab:“Kalaulah tidak karena nama Allah yang engkau bersumpah dengan asma-Nya itu wahai Syaikh, tentulah aku tidak akan menceritakannya.

”Syaikh Sulaiman menatapnya penuh perhatian.

“Dengan memperbanyak membaca shalawat untuk orang yang apabila ia berjalan di padang belantara, binatang buas akan mengibas-ibaskan ekornya. (Memperbanyak bershalawat kepada Rasulullah Muhammad ),” katanya polos.

Setelah peristiwa itu Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli r.a menyusun sebuah kitab shalawat (Dalailul Khairat) di kota Fas, sebelum beliau pulang kembali ke desanya di tepi daerah Jazulah. Kitab ini di revisi kembali oleh beliau setelah beliau berkhalwat untuk beribadah selama 14 tahun, yaitu pada hari Jum’at, 6 Rabi’ul Awal 862 H, delapan tahun sebelum hari wafatnya, 16 Rabi’ul Awal 870 H.

Dikutip dari Buku Rahasia Shalawat Rasulullah SAW (M. Syukron Maksum & Ahmad Fathoni el-Kaysi) dan Buku Manusia Langit (Habib Novel bin Muhammad Al'Aydrus). Diedit kembali oleh Rozal Nawafil.


 Allahumma shalli wa salim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in

© Infokom PD OPI Aceh

Rabu, 23 Agustus 2017

“Syaikh Masyaikh Asyi (Guru Para Ulama di Aceh)” ABUYA TEUNGKU SYECH TEUKU MAHMUD (1899 -1966)

Makam Abu Syekh Mahmud dan Abu Abdul Hamid Kamal
Dok. PC OPI Aceh Barat Daya

Abuya Syaikh Tgk. Teuku Mahmud bin Tgk. Teuku Ahmad (Abu Syech Mud) lahir di Lampu’uk, Lhoknga, Aceh Besar pada tahun 1899, Beliau merupakan alumni Dayah Krueng Kalee, Aceh Besar dan Dayah Yan, Kedah, Malaysia.

Beliau pertama kali mengenyam pendidikan formal di SR (Sekolah Ra’jat) Lhoknga selama tiga tahun hingga tahun 1907 kemudian oleh kolonial Belanda karena beliau termasuk keturunan ulee balang (hulubalang) di kampung Lampu’uk dan dinilai cerdas, beliau difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan di Lhoknga hingga 1914.


T. Mahmud Tertarik Belajar Agama

Dalam melanjutkan pendidikan agama, pertama ia belajar dasar-dasar agama Islam dan al-Quran di desanya Lampuuk Lhoknga, kemudian melanjutkan ke Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee pada tahun 1915. Dayah Darul Ihsan yang merupakan dayah yang dibangun oleh Abu Teungku Muhammad Hasan Krueng Kalee dan sangat masyhur saat itu. Santrinya bukan saja dari berbagai pelosok Aceh, tetapi juga berbagai daerah lain bahkan dari luar negeri.

Sesungguhnya, Abu Teungku Syech T. Mahmud sudah cukup alim saat selesai belajar di Dayah Darul Ihsan pada tahun 1920, tetapi karena keinginan belajar masih kuat beliau melanjutkan pendidikannya ke negeri Yan di Semananjung Malaysia pada tahun 1921 sampai 1925. Selama lima tahun beliau berada di negeri Yan, beliau lebih banyak bertindak sebagai guru dibandingkan sebagai santri. Walaupun demikian, banyak pula pengetahuan yang diperolehnya di negeri itu.


Membelot ke Semenanjung

Melanjutkan pendidikan ke negeri Yan tersebut sebenarnya merupakan pembelotan (pelarian) dari penugasan kolonial untuk melanjutkan pendidikan ke Nederland atau ke Batavia (Betawi). Anak-anak ulee balang saat itu yang dinilai memiliki kecerdasan perlu diberikan fasilitas untuk melanjutkan pendidikan. Mungkin tujuan kolonial setelah tugas belajar selesai, dapat dijadikan kaki tangan atau pegawai mereka nantinya di Aceh. Jika kerani atau pemimpin dijadikan orang-orang Aceh sendiri mungkin saja pergolakan yang terjadi setiap saat di Aceh dapat dihentikan atau sekurang-kurangnya dapat reda.

Belanda menerapkan strategi itu menjalankan nasehat Snouck Hugrounje seorang ahli strategi Belanda yang khusus dikirim ke Aceh dalam rangka mendapatkan strategi memadamkan perlawan rakyat Aceh. Mungkin dengan diterapkan strategi ini pergolakan rakyat Aceh yang masih berlangsung sampai awal abad 19 dapat dihentikan. Strategi itulah yang akan digunakan oleh Belanda. Karena itu pada tahun 1915/1916,kolonial di Aceh membuat program pemberian fasiltas beasiswa kepada anak-anak ulee balang yang berbakat untuk melanjutkan pendidikan. Tapi beda dengan Abu Teungku Syech Teuku Mahmud. Beliau tidak menyukai tawaran tersebut, dan beliaupun tidak ingin untuk melanjutkan pendidikan ke tempat lain, apalagi ke Nederland.

Tapi, karena beliau telah terdata dan didaftarkan untuk ikut pendidikan, maka beliau diperintahkan juga bersiap-siap untuk berangkat bersama dengan rombongan anak-anak ulee balang lainnya yang sudah siap berangkat. Pada akhir tahun 1920/1921, Abu Teungku Syech T. Mahmud yang baru pulang dari Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee, terpaksa ikut juga dalam rombongan itu. Rombongan berangkat dengan menumpang kapal Belanda dari Ulee Lheue tujuan Betawi dan Nedherland. Kapal tersebut dalam perjalanannya singgah di Pulau Penang Malaysia. Saat kapal singgah itu, Tgk. Syech T. Mahmud turun dari kapal meninggalkan rombongan dan menyeberang ke daratan Malaysia, selanjutnya menetap di Lembaga Pendidikan Agama Islam (mungkin sejenis perguruan tinggi) yang saat itu tergolong besar di negeri Yan dan semenanjung Malaysia.

Lembaga pendidikan itu juga yang merupakan sejenis dayah salafiyah syafi’iyah dan tergolong sangat besar saat itu. Muridnya disamping dari Malaysia juga banyak pula dari Sumatera, Aceh, Jawa, Sulawesi dan negeri Pattani di Thailand.


Memasak Kuah Batu

Pembelotan beliau ke negeri Yan Malaysia dengan turun dari kapal di Penang, tidak diketahui oleh seorangpun termasuk oleh ayah beliau dan seluruh keluarga di Lampuuk, Lhoknga. Para keluarga di kampung mengira T. Mahmud sudah berangkat dan sekolah ke Betawi atau Nederland. Lama tidak ada berita dan setahun sudah berlalu. T. Mahmud hidup dan belajar di negeri Yan tidak didukung oleh dana beasiswa dan tidak dapat kiriman dari orang tua di kampung.

Dalam keadaan sempit seperti itu, T. Mahmud mendapat informasi bahwa di negeri Yan ada beberapa keluarga Aceh dan telah bermukim lama di situ dan bahwa telah menjadi warga anak negeri. T. Mahmud sering berkunjung ke keluarga tersebut bahkan telah dijadikan anak angkat oleh mereka, sehingga kebutuhan bahan makanan sering dibantu oleh beberapa keluarga itu.

Biasanya kebutuhan bahan makanan dalam bentuk beras sering diberikan mereka dan tidak jarang pula keluarga angkat itu memberikan uang. Karena ia hidup sendiri maka kekurangan bahan pangan (beras) tidak terjadi. Akan tetapi ia juga kadang-kadang juga kekurangan uang. T. Mahmud sangat membatasi untuk menggantungkan hidupnya pada keluarga angkatnya itu. Ia menyelesaikan kebutuhan hidupnya sendiri.

Setahun sudah berlalu, uang yang dibawa sebagai persiapan untuk bekal tugas belajar sudah habis dan untuk makan nasi putih dengan diberi kuah air sudah tidak selera lagi. Saat itu, beliau teringat tentang masakan gampong. Ada kuah ikan Masam Keu’eung (asam pedas), tumeh dhek, dan sebagainya. Apa daya untuk membeli ikan tidak ada uang, Menunggu kiriman dari kampong juga tidak mungkin datang, karena mereka tidak tahu bahwa T. Mahmud ada di negeri Yan. Mau minta ke keluarga angkat terasa malu karena mereka sudah sangat banyak dibantu. Maka keinginan selera itu ditahan saja.

Suatu waktu. Muncul ide untuk memasak kuah masam keu’eung tetapi yang dimakan kuahnya saja. Memang untuk masakan asam keu’eung atau tumeh dhek, memerlukan ada amis (anyie) ikan. Pergilah T, Mahmud ke sungai. Dicarinya beberapa buah batu yang telah ditumbuhi lumut, batu itu digunakan untuk mendapatkan amis (anyie) ikan, kemudian dicuci dan dibawa pulang ke bilik di dayah.

Soal kepandaian memasak memang sudah terlatih saat ia belajar di Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee dulu. Maka digunakanlah batu berlumut itu sebagai pengganti bau amisnya ikan. Selanjutnya batu diberi bumbu dan dimasak untuk menghasilkan kuah. Makanan kuah batu tulah penebus “hawa selerah kuwah masam keu’eng” yang lama diidamkannya.


Ayah Di Kampung Terkejut

Sudah lebih setahun T. Mahmud belajar dan sekaligus menjadi guru di negeri Yan tidak diketahui oleh keluarga di kampung Lampuuk. Mungkin juga kolonialpun tidak mengetahuinya bahwa T, Mahmud sudah membelot. Keluarga di Lampuuk mengira T. Mahmud belajar di Betawi atau Nederland. Tapi anehnya, kenapa sudah lebih setahun T. Mahmud tidak mengirim surat memberi tahu tentang keadaannya. Komunikasi sama sekali tidak terjadi. Walaupun demikian, keluarga di gampong tenang saja, karena dalam pikiran mereka T. Mahmud sudah sibuk dalam beajar di Betawi atau Nederland.

T. Mahmud di negeri Yan enggan mengirimkan surat ke kampung karena ia merasa khawatir jika pembelotannya diketahui oleh kolonial dan takut ia akan disuruh pulang atau bahkan dipaksa pulang dan diambil tindakan-tindakan lainnya. Untuk menghindari keadaan itu ia tidak mengirim surat ke kampungnya.

Sampailah pada suatu ketika, datanglah murid baru dari Aceh dan secara kebetulan berasal dari Lhoknga juga. Murid baru itu bernama Muhammad Yusuf. Ia berasal dari kampung Seubun Lhoknga melanjutkan pendidikan ke negeri Yan. Bertemulah mereka di sana. Sejak itu, misteri T. Mahmud telah diketahui kelarga di Lampuuk. Mulai saat itu masalah dana kehidupan telah teratasi sampai ia kembali pulang ke Aceh.


Keadaan Nanggroe


Pada Akhir abad ke 18 sampai awal abad 19 di Kerajaan Aceh Darussalam terjadi pergolakan yang sangat panjang. Pada akhir abad 18, Belanda sudah menguasai pantai barat dan selatan aceh. Marchose (serdadu) Belanda sudah berdomisili di beberapa tempat di pantai barat dan selatan Aceh. Di Blangpidie misalnya, telah dibangun tangsie atau saat itu sering disebut dengan bivak yang diisi oleh serdadu (marsose) Belanda. Karena itu, pada tanggal 13 Juni 1899, seorang controller Belanda di Tapak Tuan mengirim surat ke Kutaraja dan Batavia menyebutkan bahwa ada daerah sepanjang pantai barat dan selatan Aceh, daerah itu tergolong makmur menghasilkan banyak rempah-rempah yang bermutu baik, menghasilkan bahan pangan lebih dari cukup. Daerah itu terletak di bagian barat daya Aceh dengan pelabuhan singgah dilakukan di Teluk Surin dan di Susoh. Daerah yang makmur itu telah dikuasai oleh Belanda.


Walaupun dalam laporan controlleur Belanda menyebutkan bahwa daerah di barat daya Aceh telah dikuasai, tetapi pergolakan secara sporadic terus terjadi. Sejak Belanda masuk ke pantai barat selatan Aceh, T. Ben Mahmud, Ulee Balang wilayah Blangpidie waktu itu tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Beliau bukan saja tidak mau bekerja sama tetapi juga melakukan perlawanan. Berbagai peperangan terjadi, sehingga beliau menyingkir dan bergerilya di hutan-hutan sepanjang bukit barisan mulai dari hutan Blangpidie sampai ke Bakongan dan bahkan ada keterangan wilayah gerilya itu sampai ke perbatasan Sumatera Utara.

Pada tahun 1905, T. Ben Mahmud dan pasukannya menyusun strategi penyergapan pasukan Belanda yang sering berkunjung dari Tapak Tuan atau Blangpidie ke beberapa daerah untuk melakukan patroli. Saat pasukan Belanda berada di Meukek, pasukan T. Ben Mahmud yang saat itu dipimpin oleh T. Idris melakukan penyerangan, menyebabkan pasukan Belanda kucar kacir dan beberapa tewas. Belanda marah dan melakukan sweeping secara ketat, sehingga T. Idris dapat ditangkap, kemudian dibuang ke Ternate, Maluku.



Pasukan T. Ben Mahmud tidak patah semangat dengan tertangkapnya T. Idris, malah  terus melakukan penyerangan. Karena gangguan keamanan yang terjadi terus-menerus yang digerakkan oleh T. Ben Mahmud, maka Belanda mengintensifkan pencarian terhadap beliau. Begitulah, beberapa lama kemudian T. Ben Mahmud dapat ditangkap, kemudian dibawa ke Kutaraja dan kemudian diasingkan ke Batavia (Jakarta). Karena dianggap dan dicurigai masih berpengaruh, maka selanjutnya dibuang ke Maluku.


Semula Belanda menganggap dengan ditangkapnya T. Ben Mahmud dan T. Idris perjuangan dari pihak Ulee Balang dapat dipatahkan dan keadaan dapat dikuasai. Hal ini ditandai dengan telah terjalin kerjasama antara ulee balang pengganti beliau dengan Belanda. Tetapi nyatanya, perjuangan yang digerakkan oleh ulee balang sudah redup, muncul pula gerakan yang lebih dahsyat yang digerakkan oleh “kelompok teungku”. Gerakan perjuangan dikumandangkan itu memiliki semboyan “hudeep saree matee syahid” (hidup mulia bersama, atau mati syahid). Gerakan yang dilakukan oleh kelompok teungku ini semula berupa gerakan senyap di bawah tanah. Orang Aceh menyebutnya “gerakan apui lam seukeuem” (api dalam sekam). Gerakan diam-diam yang mengganggu pergerakan Belanda itu sangat mengkhawatirkan keselamatan, dan pergerakan inilah yang sangat ditakuti oleh Belanda.

Gerakan senyap inilah yang dipimpin oleh Teungku Peukan. Teungku Peukan adalah seorang guru mengaji yang sangat dihormati di kampungnya, dan ia terlahir dalam keluarga teungku. Ayahnya bernama Teungku Padang Geunteng dan ibunya bernama Zulaikha. Teungku Peukan lahir di salah satu gampong di Manggeng (mungkin sekarang Lembah Sabil) pada tahun 1886. Ia memang lahir dan dibesarkan pada saat Aceh dalam pergolakan melawan Belanda. Aceh mulai berperang melawan Belanda pada tanggal 18 April 1873. Mulai saat itu Aceh menyatakan perang dan tidak pernah menyerah.

Penyebab Aceh berperang karena Belanda melakukan perjanjian sepihak dengan Inggris yang menghasilkan “Traktat Sumatera” yaitu yang menyatakan Belanda menguasai Sumatera sedangkan Inggris menguasai semenajung Malaya. Sebelumnya Kerajaan Aceh telah mengikat perjanjian dengan Inggris yang disebut dengan “Traktat London” yang menyatakan Aceh secara merdeka dan bebas melakukan perdagangan dengan berbagai negara di dunia terutama dengan Turki, Inggris dan berbagai negara lainnya. Karena Belanda memaksa keinginannya untuk menguasai negeri, maka Aceh melawan dan menyatakan perang yang tercatat dalam sejarah sebuah peperangan yang sangat panjang.

Dalam keadaan Aceh seperti itulah Teukue Peukan lahir. Setelah T. Idris dan T. Ben Mahmud tertangkap dan dibuang, gerakan rakyat mulai meredup. Seiring dengan itu, Belanda sudah mulai bebas memasuki berbagai wilayah di daerah Selatan Aceh. Marsose dari Tapak Tuan sering datang ke Blangpidie, demikian juga sebaliknya. Mereka datang untuk melakukan patroli.

Tentara Belanda yang makin bebas menjelajahi wilayah menyesakkan dada para teungku. Mereka menyusun strategi untuk melakukan penyerangan. Secara senyap (diam-diam) berbagai pihak yang dipimpin oleh Teungku Peukan menyusun kekuatan dengan menyampaikan semboyan “isy kariman au mut syahidan / hudeep saree matee syahid” (hidup mulia bersama atau mati syahid). Berbagai kelompok dalam masyarakat terdiri dari kelompok silek, kelompok dabouh (debus), pemuda gampong dan rakyat biasa mulai mengasahkan parang, pedang dan rencong bersiap-siap kapan diperintahkan langsung menyerang.


Pada hari Kamis, informasi sudah disampaikan bahwa pasukan sudah bersiap untuk melakukan penyerangan. Teungku Peukan telah menginstruksikan bahwa semua pasukan menggunakan pakaian hitam dengan celana di atas mata kaki atau lebih singkat lagi untuk memperlincah gerakan saat menyerang. Setiap panglima memakai “selempang kuning” yang diikat dari bahu sampai ke pinggang, sedangkan anggota pasukan memakai tali lilitan kain kuning di pinggang. Ini hanya memberi tanda saja antara panglima dan anggota pasukan.

Sebelum maghrib pasukan sudah mulai berkumpul di “Balai Gadeng”, sebuah balai yang digunakan untuk shalat berjamaah dan juga tempat dilaksanakan pengajian agama oleh Teungku Peukan. Setelah shalat maghrib, Teungku Peukan menyampaikan beberapa instruksi tentang strategi penyerangan dengan membagi beberapa kelompok yang dipimpin oleh seorang panglima. Teungku Peukan juga menyatakan sasaran penyerangan malam itu adalah tangsi (bivak) Belanda di Blangpidie. Jarak antara Manggeng dan Blangpidie sekitar 20 Km. 

Pada malam Jum’at 11 September 1926, setelah Isya, Teungku Peukan melaksanakan zikir bersama dengan seluruh pasukannya. Tujuan zikir itu adalah untuk membersihkan hati dari riya, takabur dan tsum’a serta perjuangan yang dilakukan itu semata-mata karena Allah swt. Zikir juga menambah semangat pasukan sehingga mereka merasa tidak sabar lagi untuk langsung berperang. Alat perang mereka memang sederhana, hanya terdiri dari rencong, pedang, parang dan tombak. Hanya itu. Senjata api yang saat itu disebut “beudee” mereka tidak punya. Dan, Belanda punya senjata Beudee itu.


Sebelum tengah malam, Teungku Peukan memerintahkan pasukannya bergerak menuju Blangpidie, beliau juga memerintahkan anaknya bernama Thalhah untuk memegang bendera komando. Sepanjang jalan pasukan larut dalam zikir yang dapat memacu semangat juang.


Pada sepertiga akhir malam, pasukan Teuku Peukan sudah tiba di Balai Pengajian Teungku Di Lhoong di Lam Sijieum (sekarang Geulumpang Payong). Pasukan beristirahat, menyusun dan mempertegas strategis penyerangan. Sekitar pukul empat pagi pasukan bergerak untuk melakukan penyerangan dan marsose di bivak sedang nyenyak dalam tidurnya. Pasukan Teuku Peukan masuk ke asrama melakukan penyerangan menyebabkan porak-poranda para marsose saat itu. Di kabarkan banyak serdadu Belanda yang mati akibat penyerangan itu. Selesai penyerangan pasukan Teungku Peukan mundur ke Mesjid Jamik yang letaknya tidak jauh dari bivak Belanda itu.

Saat berkumpul di masjid (masjid saat itu merupakan bangunan panggung terbuat dari kayu dan hanya digunakan untuk shalat saja). Selanjutnya waktu shubuhpun tiba, maka Teungku Peukan mengumandangkan azan dan melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Sementara itu, serdadu Belanda di bivak yang selamat segera mengambil senjata dan menyusun barisan untuk melakukan penyerangan balasan. Para serdadu Belanda sangat tahu bahwa pasukan Teungku Peukan berada di masjid dan melaksanakan shalat. Saat itulah Belanda menyerang, sehingga banyak pula pasukan Teungku Peukan yang syahid termasuk Teungku Peukan sendiri syahid.

Melihat suasana yang kacau itu dan Teungku Peukan sudah syahid, bergerak pula anak Teungku Peukan bernama Muhammad Kasim menghimpun kekuatan pasukan untuk melakukan serangan pembalasan. Dalam perlawanan itu banyak pula pasukannya syahid termasuk Muhammad Kasim. Seluruh korban syahid dalam penyerangan itu dikuburkan di sekitar Masjid Jamik termasuk Teungku Peukan. Saat ini kubur beliau diberi tanda yang jelas dan dikunjungi pada setiap peringatan hari pahlawan.


Setelah suasana pagi dan telah terang pasukan tersisa menyingkir ke Lam Sijieum, dan selanjutnya kembali ke Manggeng. Setelah Syahidnya Teungku Peukan perjuangan dilanjutkan oleh Pang Paneuk, Sidi Rajab, Waki Ali, Nyak Walad dan Umar. Penyerangan-penyerangan secara sporadic dilakukan sampai beberapa waktu kemudian. Belanda memperketat melakukan sweeping untuk mencari pejuang yang tersisa.


Pada bulan Maret 1927 sisa pasukan Teungku Peukan menyerang marsose Belanda yang sedang melakukan patroli. Serangan ini menyebabkan Belanda mengambil tindakan dengan memberhentikan Ulee Balang Manggeng (T. Nana) dan menggantinya dengan Ulee Balang lain. Bukan hanya itu, tetapi juga menangkap beberapa panglima perjuangan, diantaranya Waki Ali dan Nyak Walad dibuang ke Jawa (Betawi), sedangkan Umar dibuang ke Makasar. Begitulah keadaan nanggroe saat itu. Dalam suasana seperti itulah, pada tahun 1927 Abuya Tungku Syech T. Mahmud di tugaskan ke Blangpidie.


Kembali ke Aceh dan ditugaskan ke Blangpidie

Setiba kembali di Aceh pada tahun 1926, ia langsung pulang ke Lampuuk. Tapi kepulangan beliau diketahui oleh controller Belanda di Lhoknga dan seterusnya diketahui oleh pemimpin Belanda di Kutaraja (Banda Aceh). Bersamaan dengan itu, di Blangpidie terjadi pula penyerangan tangsi (bivak) Belanda oleh Teungku Peukan. Serangan itu menimbulkan korban jiwa. Korban jiwa dari pihak mujahidin (pejuang) berdasarkan fatwa Teungku Muhammad Yunus yang lebih dikenal dengan Teungku di Lhoong (saat itu teungku yang ditugaskan di Blangpidie) tidak perlu dimandikan, dikafankan dan dishalatkan, tetapi langsung dikebumikan karena dianggap syahid. Jasad para syuhada tersebut dikebumikan di sekitar Mesjid Jamik Blangpidie.

Tindakan Teungku Di Lhoong tersebut menimbulkan kemarahan Belanda karena secara tidak langsung Teungku Di Lhoong telah memihak pejuang yang oleh Belanda dianggap ekstrimis. Karena itu, pihak Belanda mengusulkan agar Teungku Di Lhoong segera diganti dengan teungku yang lain. Belanda memanggil T. Sabi dari Kuta Sabi (Dusun I) Gampong Keude Siblah Ulee Balang Blangpidie waktu itu untuk meminta agar Tgk Di Lhoong segera diganti.

T. Sabi bermusyawarah dengan berbagai pihak menyepakati untuk menganti Teungku yang mengajari agama di wilayah Blangpidie dan sekitarnya. Usulan penggantian itu akan dilakukan bersama yaitu pihak controller Belanda menyampaikan permintaannya ke Kutaraja, dan ulee balang akan mengusulkan permintaan penggantian tersebut ke Kutaraja pula. Karena itu, pihak Belanda bermusyawarah dengan pihak pemerintahan sipil Aceh (mungkin yang mewakili kerajaan) menunjuk Teungku Syech T. Mahmud bin T. Ahmad dari Lampuuk untuk menggantikan teungku di wilayah Blangpidie terdahulu. Pada tahun 1927, Teungku Syech T. Mahmud sudah berada di Blangpidie dan pada tahun 1928 mendirikan Dayah Bustanul Huda.


Mendirikan Bustanul Huda

Abu Teungku Syech Teuku Mahmud seorang ulama sufi yang sangat saleh. Beliau setelah ditugaskan oleh Kerajaan Aceh menjadi teungku di Blangpidie pada tahun 1927 (karena diminta oleh T. Sabi ulee balang mukim Kuta Batee ke Kuta Raja), setahun kemudian pada tahun 1928 beliau mendirikan Dayah Bustanul Huda Blangpidie. Kala itu Dayah Bustanul Huda merupakan satu-satunya Dayah terbesar di wilayah itu yang santrinya berdatangan dari berbagai pelosok daerah dan banyak menghasilkan ulama masyhur di Aceh maupun luar Aceh.

Dayah Bustanul Huda merupakan salah satu Dayah tertua dipantai barat selatan Aceh yang saat itu lokasinya berada di Masjid Jami’ Baitul Adhim Blangpidie (Saat ini lokasi Dayah Bustanul Huda berada di Jalan Cot Seutui Desa Keude Siblah, Blangpidie).

Menurut Abuya Syaikh Muhammad Syam Marfaly, sebelum pendirian Dayah Bustanul Huda oleh Abu Syech Mud memang sudah ada aktivitas belajar mengajar di Masjid Jami’ Blangpidie, dengan nama pengajian (belum Dayah) “Jamiatul Muslimin” yang dipimpin pertama kali oleh Tgk. Syech Ismail yang berasal dari Desa Lhueng Tarok, Blangpidie setelah Tgk. Syech Ismail berpulang ke Rahmatullah, maka pengajian dipimpin oleh Tgk. Yunus Lhong seorang ulama dari Lhong, Aceh Besar.

Pada saat perjuangan Tgk. Peukan di Blangpidie yang disaat itu Tgk. Peukan syahid, Tgk. Yunus Lhong mengubur jasad Tgk. Peukan di halaman Masjid Jami’ Baitul Adhim Blangpidie sebagaimana meninggalnya seorang syuhada yaitu tanpa dimandikan dan dikafani.

Hal tersebut mengakibatkan pemerintah Hindia Belanda pada saat itu mencap Tgk. Yunus Lhong sebagai orang yang memihak pemberontak sehingga Belanda tidak mengizinkan Tgk. Yunus Lhong untuk memimpin pengajian Jamiatul Muslimin.

Sepeninggal Tgk. Yunus Lhong maka dengan sendirinya aktivitas pengajian terhenti. Maka pada tahun 1928 atas inisiatif tokoh masyarakat memohon Kerajaan untuk mendatangkan Ulama lain ke Blangpidie. Menurut Tgk.H. Muhammad Qudusi Syam Marfaly, Raja Aceh pada saat itu mengirim 2 ulama ke daerah selatan Aceh yaitu Abuya Tgk. T. Syeh Mahmud Bin T. Ahmad (Abu Syeh Mud) berasal dari Lampu'uk, Lhoknga, Aceh Besar beliau merupakan lulusan dari Dayah Yan, Kedah, Malaysia, Abu Syeh Mud dikirim ke Blangpidie. Dan satu lagi, Abu Syeh Muhammad Ali Lampisang dikirim ke Labuhan Haji, dan beliau merupakan guru awal Syeh Muda Waly sebelum belajar di Blangpidie.

Pada saat itulah Abu Syech Mud mendirikan Dayah Bustanul Huda., dan pada saat itu banyak santri-santri yang berdatangan ke Dayah Bustanul Huda untuk belajar ilmu Agama.

Murid- murid Abu Syech Mud banyak yang berhasil menjadi ulama besar di Aceh. Diantaranya Syaikhul Islam Al Mursyid Abuya Tgk. Syech H. Muhammad Waly Al Khalidy (Abu Muda Waly/Pendiri Dayah Darussalam Labuhan Haji Barat Aceh Selatan), Abuya. Tgk. H. Adnan Mahmud Bakongan ( Nek Abu/Pendiri Dayah Ashabul Yamin Bakongan ) Abuya. Tgk. Syech H. Ja’far Lailon, Abuya. Tgk. Syech H. Jailani Musa, Abuya Tgk. Syech. H. Abdul Hamid Kamal, Abuya Syech H. Muhammad Bilal Yatim Bin Murabby Al Khalidy, Abuya Tgk. Syech H. Muhammad Syam Marfaly,  Abu Ibrahim Woyla, Tgk. Salem Samadua dan lain-lain.


Pendidik Ulama di Pantai barat-selatan Aceh

Sebagaimana diuraikan bahwa Teungku yang mengajari agama di Blangpidie telah ada saat itu yaitu Teungku Muhammad Yunus atau Teungku Di Lhoong seorang ulama alim dan zuhud. Di wilayah Ulee Balang T. Ben Mahmud yaitu wilayah Kuta Batee dan sekitarnya, saat itu, sebelum datangnya Teungku Yunus Lhoong dari daerah Lhoong Aceh Besar ada teungku-teungku yang mengajar anak-anak mengaji al-quran dan mampu mengajar kitab-kitab rendah, misalnya, kitab yang bertuliskan arab jawo. Di samping itu, di kemukiman Kuta Batee (Keude Siblah, Kuta Bahagia, Kuta Tuha, Meudang Ara dan Pasar Blang Pidie) dan sekitarnya saat itu banyak tumbuh perkumpulan silek (silat), tob dabouh (debus), dan beberapa kelompok kesenian tradisional aceh seperti tarian seudati, tarian saman, geudeu-geudeu, peulheih geulayang, atau pupok keubeu.

Di kalangan orang Aceh, jika seseorang mampu mengajar silek (silat), atau tob dabouh (debus) maka masyarakat menggelarnya sebagai “kalipah”. Jika seseorang memimpin tari seudati atau saman orang menyebutnya sebagai “syeh”. Sebutan “kalipah” bukan karena ia ahli Tarekat. Gelar seseorang yang menguasai tarekat disebut “khalifah”. Hal yang sama juga dalam sebutan “syeh”, ia bukan ahli agama, tetapi ia hanya sebagai pimpinan tarian seudati atau Saman saja. Adapun gelar yang disangkutkan kepada guru agama karena ia memiliki kealiman maka disebut “Syech/Syaikh” (guru). Kedua gelar dan tabalan nama gelar ini saling berbeda.

Di daerah Blangpidie dan wilayah Kuta Batee serta wilayah-wilayah lain di sekitarnya saat itu, orang banyak bergelar “syeh” dan “kalipah” karena ia ahli dalam bidang itu, bukan memiliki kemampuan dalam bidang agama. Adapun orang yang ahli agama, misalnya, teungku yang alim atau seseorang yang mampu digelar “Syekh atau Syeikhuna” tidak seorangpun ada di wilayah keuleebalangan T. Ben Mahmud. Karena tidak ada teungku yang alim yang dapat mengajarkan secara mendalam masalah agama, maka oleh ulee balang meminta ke pusat pemerintahan di Kutaraja untuk mendatangkan teungku yang alim ke wilayah Blangpidie. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pada tahun 1921 didatangkanlah Teungku Muhammad Yunus yang lebih dikenal dengan sebutan Teungku Di Lhoong, seorang lulusan dayah di Aceh Besar yang sudah dinilai alim dan sangat zuhud.

Teungku Di Lhoong setelah datang ke Blangpidie bertempat tinggal di gampong Lam Siejiem (sekarang Geulumpang Payong) dan bersama masyarakat mendirikan mushalla sebagai tempat melaksanakan shalat berjamaah dan juga Balai Pengajian. Sebelum itu di wilayah Kuta Batee dan sekitarnya tidak dijumpai tempat-tempat mengajian yang seperti itu. Yang ada hanya rumah-rumah tempat diajarkan anak-anak membaca al-quran, dan jika teungku punya kemampuan yang lebih, misalnya pernah belajar ke kampong lain yang ada teungku lebih alim seperti ke Peulumat, maka dilanjutkan dengan belajar kitab-kitab tulisan arab jawo berupa kitab Perukunan atau kitab Masailal Muhtadi dan yang sejenisnya.


Karena ulee balang melihat bahwa masyarakat harus mendapat ilmu agama yang baik dan bahwa sistem belajar agama seperti itu tidak memadai, maka perlu meminta ke Kutaraja untuk didatangkan guru yang dapat mengajar agama yang lebih mendalam dan lebih luas. Teuku Ben Mahmud dan kemudian dilanjutkan oleh Teuku Sabi sebagai ulee balang saat itu sangat mengkhawatirkan bahwa jika Belanda telah bermarkas di daerahnya, maka masyarakat harus segera di ajari ilmu agama yang baik. Kalau tidak, beliau mengkhawatirkan bahwa adat kafir dan cara hidup kafir, akan segera diikuti bahkan agama kafir juga akan dianut. Kekhawatiran inilah yang menyebabkan Teungku Di Lhoong didatangkan ke wilayah Blangpidie.

Karena Teungku Di Lhoong bertempat tinggal di Lam Siejiem, maka beliau jarang ke pusat kota di Blangpidie. Beliau ke Blangpidie hanya pada hari Jumat untuk melaksanakan shalat Jumat dan sekaligus menjadi khatib. Di Masjid Jami’ hanya dilaksanakan shalat rawatib saja selebihnya tidak ada kegiatan.

Dipilihnya tempat tinggal Teungku Di lhoong di gampong Lam Siejiem setelah sampai ke Blangpidie, karena beliau tidak suka bertempat tinggal berdekatan dengan bivak Belanda (Masjid Jamik terletak di pusat kota dan sangat berdekatan dengan bivak tempat tinggal marsose Belanda). Ketidaksukaan beliau terhadap Belanda sehingga tawaran untuk dibangun rumah oleh masyarakat di dekat masjid ditolaknya, sehingga beliau lebih suka memilih tinggal agak jauh dari pusat kota.

Sebelum Teungku Di Lhoong ditugaskan ke Blangpidie, di daerah itu tidak dijumpai seorang teungkupun yang tergolong alim dan dapat dijadikan ikutan dan panutan oleh masyarakat.

Setelah Teungku Di Lhoong diberhentikan dan diganti dengan Teungku Syech T. Mahmud, beliau memilih tempat tinggal berdekatan dengan masjid walaupun dekat dengan bivak marsose Belanda. Oleh masyarakat dibangun rumah sekitar 100 m dari masjid, dengan demikian aktifitas beliau dilakukan di masjid. Untuk mengoptimalkan pendidikan yang dilakukan untuk masyarakat Abu Teungku Syech T. mahmud membangun pesantren “Dayah Bustanul Huda”, dan dayah itupun berada di sekitar masjid.

Dayah Bustanul Huda merupakan satu-satunya dayah yang sistem pengajarannya telah tertata dengan baik di pantai barat-selatan aceh. Teungku-teungku terdahulu misalnya, yang ada di Peulumat atau di beberapa tempat lain hanya mengajar di rumah atau di balai pengajian yang dibuat seperti meunasah (seperti pengajian Jamiatul Muslimin yang dipimpin oleh Tgk. Syech Ismail kemudian dilanjutkan oleh Tgk.Yunus Lhoong~red). Akan tetapi setelah datangnya Abuya Syech T, Mahmud ke Blangpidie, untuk memenuhi kebutuhan belajar masyarakat dibangunlah pesantren yang diberi nama Bustanul Huda.

Pesantren ini mengkombinasikan pola pendidikan yang berkembang di Aceh, misalnya, pola pendidikan di Darul Ihsan Krueng Kalee atau di beberapa tempat lain dengan pola pendidikan yang dilakukan di negeri Yan Malaysia. Karena itu, sistem pendidikan yang dikembangkan Abu Teungku Syech T. Mahmud sangat disukai dan sangat banyak murid-murid yang ikut belajar. Anak-anak umur sekolah di wilayah Blangpidie hampir seluruhnya ikut menjadi santri di Bustanul Huda, demikian juga santri-santri dari berbagai daerah lain di pantai barat-selatan Aceh.

Semula karena pola pendidikan agama yang dikembangkan Abu Syech Mud (begitu beliau sering disapa) sangat disukai saat itu dan karena transportasi yang amat sulit, maka santri sebahagian besar hanya berasal dari daerah-daerah pantai barat selatan aceh. Banyak santri berasal dari Aceh Selatan dan Aceh Barat. Tetapi kemudian setelah transportasi lancar, maka berdatanganlah santri dari berbagai pelosok daerah. Pada tahun 1950-1960-an santri dari luar daerah sangat banyak belajar di Bustanul Huda. Ada yang berasal dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumatra Selatan dan beberapa daerah lain. Dari Aceh hampir seluruh daerah ada santri yang belajar. Setelah Bustanul Huda dibangun pada tahun 1928, banyak santri dididik d idayah itu dan berhasil menjadi ulama atau berkiprah di birokrasi atau berbagai bidang usaha lainnya.

Alumni Bustanul Huda periode awal adalah Abuya Teungku Haji Muda Wali al-Khalidy, Abuya Syech. H. Adnan Mahmud Bakongan, Abuya Syech H. Jailani Musa Kuta Fajar, Abuya Syech H. Abdul Hamid Kamal Blangpidie. Abu Teungku H. Syamsuddin Sangkalan, Abu Teungku H. Abdul Gaffar Lhoknga, Abu Teungku Ibrahim Woyla dan banyak ulama lain yang tidak disebut seluruhnya di sini yang tersebar di berbagai pelosok daerah Aceh maupun di berbagai daerah di luar Aceh. Begitu juga alumni Bustanul Huda yang bergerak dibirokrasi misalnya Ustaz Teungku H. Mahdi Muhammad, Teungku H. Ainul Amin, Teungku Saleh Kapha, dan masih banyak lain. Setelah tahun 1950-an banyak pula alumni yang bertugas di berbagai lembaga daerah baik di lembaga edukasi maupun birokrasi, misalnya Teungku H. Drs. Tarmizi Dahmi, Teungku H. Drs. Usman Nuris, dan masih banyak yang lain yang bertugas di berbagai bidang. Sebahagian besar anak-anak dan remaja Aceh selatan saat itu pernah belajar di Dayah Bustanul Huda. 

Begitulah saat itu, sehingga sesungguhnya Abuya Teungku Syech T. Mahmud sangat besar jasanya dalam mengembangkan pola pendidikan di pantai barat dan selatan Aceh. Dan itu merupakan amal beliau sebagai ilmun yan tafa’u bihi…. Amin.


Murid Termasyhur

Di Pesantren Bustanul Huda pimpinan Abu Syech Mud, Abu Muda Waly (Mursyid Thariqat Naqsabandiyah Khalidiyah/Murid Abu Syech Mud) mempelajari kitab-kitab yang masyhur dikalangan ulama Syafi`iyah seperti I`anatut Thalibin, Tahrir dan Mahally dalam ilmu Fiqh, Alfiyah dan Ibn `Aqil dalam ilmu Nahwu dan Sharaf.

Setelah beberapa tahun di Pesantren Bustanul Huda, di tahun 1930 terjadi satu masalah antara beberapa santri dengan Teungku Syaikh Mahmud yaitu perbedaan pendapat antara santri dengan gurunya (Abu Syaikh Mud) tentang masalah zikir jihar Thariqat Syathariyah oleh Tgk. Salem Samadua dan rekan-rekannya.

Karena masalah tersebut, Abu Syech Mud memerintahkan mereka meninggalkan Dayah Bustanul Huda dan berangkat ke dayah lain guna menambah ilmu pengetahuan. Maka pindahlah murid-murid Abu Syech Mud diantaranya:

1. Abuya Syech H. M. Muda Waly Al Khalidy ke Dayah Tgk. H. M. Hasan Krung Kalee Kuta Raja. 
2. Abuya Syech H. M. Yatim Al Khalidy ke Pesantren Darul Irfan di Samakurok, Pantonlabu, Aceh Utara yang berada dibawah pimpinan. Tgk. H. Ibrahim Arif. 
3. Tgk. H. Adnan Mahmud berangkat ke Padang kemudian beberapa tahun kemudian kembali ke Bakongan dan membuka Pesantren Ashabul Yamin sampai sekarang. 
4. Sedangkan Tgk. M. Salem kembali ke Samadua tanah airnya membuka Pesantren disana dan akhirnya pada tahun 1941, beliau mati syahid dalam perjuangan mengusir penjajah Belanda dari tanah air Indonesia. Beliau terkena tembakan peluru di Gunong Alue Klit dan dikebumikan di Samadua, Aceh Selatan.

Ketika Syaikh Muda Waly ingin melanjutkan pendidikan ke Dayah Krueng Kalee di Aceh Besar, Ayah beliau Tgk. H. Muhammad Salim meminta izin kepada Syaikh Mahmud, meminta doanya untuk dapat melanjutkan pendidikan ke pesantren lainya dan yang terpenting meminta maaf atas kelancangan Syaikh Muda Waly berbeda pendapat dengan gurunya dalam masalah tersebut. Berkali kali beliau dan ayahnya meminta maaf kepada Syaikh Mahmud tetapi beliau tidak menjawabnya.

Pada tahun 1940 di kecamatan Susoh Ada seorang ulama dari kaum muda dari PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang bernama Teungku Sufi dari Pidie, mendirikan Madrasah Islahul Umum di Susoh berda`wah bersama Habib Usman Quraisy (Said Quraisy Susoh) dengan membangkitkan masalah-masalah khilafiyah.
Atas kebijaksanaan T. R. Sabil Blangpidie memberi kesempatan kepada kaum muda untuk berdiskusi dengan ulama jumhurul muslimun Ahlussunnah wal Jama’ah Asysyafi’iyah di halaman Masjid Jami’ Baitul Adhim Blangpidie (Halaman Kantor Bank Aceh Cab. Blangpidie sekarang) di bawah pengawasan serdadu Belanda dan disaksikan oleh ribuan umat manusia.

Tgk. Sufi dalam majelis debat tersebut mengungkapkan dalil dan alasannya sehingga hampir hujjah kebanyakan ulama termasuk Tgk. H. Muhammad Bilal Yatim dapat dipatahkan. Namun, pada waktu giliran Tgk. Sufi berdebat dengan Abuya Muda Waly semua dalil dan alasan kaum muda beliau bantah, beliau hancurkan tembok-tembok alasannya sehingga kalah total didepan umum.

Tak lama setelah itu barulah Syaikh Mahmud memaafkan kesalahan Syaikh Muda Waly yang berani berbeda pendapat dengannya pada waktu masih belajar di Bustanul Huda.


Beristerikan Cut Nyak Maryam

Teungku Syech T. Mahmud bin T. Ahmad memperisterikan Cut Nyak Maryam binti T. Mamad, anak Ulee Balang Lamlhom, Lhoknga pada tahun 1928. Karena Cut Nyak Maryam saat itu masih kecil (sekitar 12 tahun), maka mereka tidak tinggal bersama. Teungku Syech T. Mahmud, berangkat ke Blangpidie sedangkan istri beliau tetap tinggal di Lam Lhom, Lhoknga. Pasangan ini memiliki tiga orang anak yaitu, seorang anak laki-laki lahir 1933, kemudian meninggal dunia beberapa hari setelah dilahirkan. Selanjutnya lahir pula anak perempuan Cut Ridhwan Mahmud pada tahun 1935, dan Cut Asmanidar pada tahun 1941. 

Cut Nyak Maryam adalah anak ulee balang Lam Seukee, Lamlhom, Lhoknga. Ia lahir pada tahun 1918 di Lamlhom. Sejak kecil ia tidak mengecap pendidikan formal, tetapi walaupun demikian ia dapat membaca dan menulis tulisan arab jawi dengan chad yang baik. Pendidikan Cut Nyak Maryam ditempuhnya melalui pendidikan teungku gampong di desa Lamlhom. Saat itu anak perempuan hanya belajar kitab agama dan tulisan arab jawi saja dan sangat jarang yang menempuh pendidikan formal.

Pada usia 13 tahun diperisterikan oleh Tgk Syech T. Mahmud yang saat itu telah tinggal di Blangpidie. Cut Nyak Maryam tidak langsung pindah ke Blangpidie tetapi tetap tinggal di Lhamlhom sampai tahun 1937. Selanjutnya tinggal di Blangpidie sampai tahun 1986. Kemudian beliau kembali menetap di Lamlhom dan meninggal serta dikebumikan di Meunasah Manyang, Lamlhom, Lhoknga, Aceh Besar pada tahun 2006.


Meninggal Dunia

Pada tahun 1966 Abu Syech Mud meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri yang bernama Hj. Cut Maryam dan dua orang anak yaitu : Hj. Cut Rizwan Mahmud dan Hj. Asmanidar Mahmud. Abu Teungku Syech T. Mahmud adalah mertua dari Teungku Syech H. Abdul Hamid Kamal karena memperistrikan Cut Ridhwan putri tertua Abu Teungku Syech T. Mahmud.

Abu Teungku Syech T. Mahmud wafat di Blangpidie pada 1 Ramadhan 1385 H atau tahun 1966 M dan dikebumikan di depan rumah beliau di Blangpidie (Tidak jauh dari Masjid Jami' Baitul Adhim) di bawah kubah yang dibuat masyarakat untuk beliau. Makam beliau sering dikunjungi oleh murid-murid beliau dari berbagai daerah, dan sering juga dikunjungi oleh orang-orang dari Malaysia yang mengenal beliau sebagai “Asy-syaikhuna Gurunya Para Ulama”.

Dan kemudian Dayah Bustanul Huda Blangpidie dipimpin oleh menantu beliau yaitu Abu Syech Tgk. H. Abdul Hamid Kamal sampai tahun 1980.



***

Sebagian besar tulisan dikutip dari Biografi Abuya Teungku Syech Teuku Mahmud “Gurunya Para Ulama” tulisan Tgk. H. Ir. Silman Haridhy, Msi. (Mudir ’Aam Dayah Raudhatul Ulum, Tinggal di Blangpidie Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh). Sebagian lain bersumber dari 1. tulisan Profil Dayah Bustanul Huda oleh Pimpinan Dayah (Abu Muda Tgk. H. M. Qudusi dari Abuya M. Syam Marfaly) dan 2. tulisan Riwayat Hidup Abuya Prof. Dr. Sy. H. M. Yatim bin Murabby oleh Tgk. M. Yunus. NIL. pada 1 Agustus 1992. Disyarah kembali oleh Rozal Nawafil.
© Infokom PD OPI Aceh


Postingan Populer