PD OPI Aceh

Tidak Ada Kemenangan Tanpa Kekuatan dan Tidak Ada Kekuatan Tanpa Persatuan

Organisasi Pelajar Islam (OPI)

Intelektual, Integritas, Akhlakul Karimah

www.pdopiaceh.com

Dikelola oleh Bidang Informasi dan Komunikasi PD OPI Aceh

Kabid Infokom

Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2018

ANAKKU SEORANG AKTIVIS



Orang bilang anakku seorang aktivis.
Kata mereka namanya tersohor di kampusnya sana.
Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat.
Orang bilang anakku seorang aktivis.
Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak?
Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.

Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis.
Dengan segala kesibukanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.
Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak?

Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak. Tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.
Anakku, kita memang berada di satu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini di manakah rumahmu nak?
Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu di rumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu.
Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.
Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu.

Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu.
Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline.
Padahal, andai kau tahu nak, ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.

Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak.
Tapi bukankah aku ini ibumu, yang 9 bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku.
Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak.
Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu.
Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu.

Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak?
Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu?
Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak?
Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak?
Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.
Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu.

Memang nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan.
Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?
Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu.
Buku agenda sang aktivis.
Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat di sana sini.
Ada jadwal mengkaji, ada juga jadwal untuk bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya.
Di sana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.
Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada di sana.
Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal nak, andai engkau tahu, sejak kau ada di rahim ibu, tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu, selain cita dan agenda untukmu, putra kecilku.

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.
Boleh ibu bertanya nak, di mana profesionalitasmu untuk ibu?
Di mana profesionalitasmu untuk keluarga?
Di mana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat.

Ah, waktumu terlalu mahal nak.
Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu. 

© Infokom PD OPI Aceh

Minggu, 25 Maret 2018

CINTA YANG LUPA RASA*



Cinta selalu sulit dinalar, ia tak berwujud tapi nyata, seperti angin yang tidak bisa dilihat tapi hembusan dan semilirnya begitu terasa.

Sungguh, berbicara cinta, sulit diungkap dengan kata-kata, ia mati tapi bernyawa, pingsan tapi sadar. Tidak sedikit wali-wali Tuhan yang Jadzzab, seperti gila tapi ia sadar akan Tuhan, sebaliknya banyak orang yang bilang cinta Tuhan tapi tak pernah tahu rasa betapa mencintai-Nya adalah sebuah kemesraan.

Seperti hikayat Qais dan Laila, betapa cinta Qais menjadi opus cinta kepada sang kekasih Laila, hingga tak ada ucapan yang pantas untuknya kecuali kegilaan cinta.

Suatu hari Qais melihat Laila, ia pun bergegas membuntuti Laila untuk mengetahui tempat kekasihnya, maka dia melewati sekelompok orang yang sedang melaksanakan sholat, ketika Qais kembali dari membuntuti Laila, dan  melewati sekelompok orang tadi, ia ditanya oleh seseorang; "kau tadi melewati jalan kami, sedangkan kami lagi sholat, mengapa kau tidak sholat bersama kami?". Qais menjawab: " demi Allah aku tidak melihat kalian, dan demi Allah jika kalian cinta kepada Allah sebagaimana cintaku kepada Laila, maka kalian tidak akan melihatku ketika menghadap Allah, namun nyatanya kalian masih melihatku, sedangkan aku menghadap Laila, dan aku tidak melihat kalian..... Ulangilah shalat kalian semoga kalian dirahmati oleh Allah swt"

Sungguh, sebuah nalar cinta, ketika cinta membuat lupa segala rupa di luar dirinya, sebagaimana juga Sayyidina Ali ketika tombak menikamnya, dicabut tak terasa ketika sholat.


Betapa mengaku cinta pada-Nya, terkadang sulit menilainya, karena melupakan-Nya lebih sering dari mengingat-Nya. Ya Allah, jagalah hati tuk selalu terpaut padaMu. 

***


*Penulis: Halimi Zuhdy @halimizuhdi3011

© Infokom PD OPI Aceh

Berbeda Itu Cantik, tapi, tuk Cantik tidak Harus Beda*



Indahnya pelangi, bukan karena menebar wangi, tapi warna-warni yang mengitari

Warna hijau hanyalah pilihan, maka janganlah terlalu fanatik pada hijau, bunga yang indah, warnanya pun jarang yang hijau. Indahnya bunga, merah yang merekah.

Jangan pula terlalu mati-matian membela merah, ia pun rasa hati, manusia takut melihat warna peduh darah yang memerah, perang jadi pilihan. Butuh warna kuning, tuk membau masa tua.

Tapi, janganlah terlalu pongah pada kuning, kebanyakan yang keluar dan membau keluar dari diri manusia dan hewan adalah warna itu, nikmatilah kuning sebagaimana ia menikmati menjadi dedaunan yang akan menua.


Jangan pula kau terlalu bangga, walau biru selalu di atas langit, biru pun kadang menghempaskan perahu di lautan menjadi karam. Biru itu pilihan warna, ia tak indah kalau tak pernah ada awan putih yang mengitarinya.

Putih pun, janganlah kau sombong dan sok suci, putih itu tak pernah indah, jika mata hanya dipenuhi warna itu, seperti kematian yang menjemput, pada nafas terakhir pun warna itu yang membungkusnya. Benar, kau harus suci putih bersih, tapi ingat, kau tak pernah putih, jika hitam tak pernah ada, dan kau dapat melihat dunia, karena dalam matamu hitam yang membayang.
Kau pun jangan terlalu bangga dengan hitam, walau setiap bulu dan rambutmu menghitam, tapi hitam itu selalu dianggap jelek, karena gelap, walau dalam gelap itulah kadang keindahan untuk bersembunyi dari musuh yang menyerang.

Hidup hanyalah pilihan warna, dan warna itu pun adalah dasar dari pemberian Tuhan, lihatlah kulit yang tak sama, ada; hitam, kuning, coklat, sawu matang, dan lainnya.
Selalu nikmatilah perbedaan, walau kadang kita tidak suka tuk berbeda, apakah kau mau hidup sendirian di dunia?.

Berbeda butuh hati yang lapang, karena nafsu lebih suka tuk menyatukan rasa, lupa berbagai rasa itu nikmat yang tak terhingga. 
Berbeda mazhab, partai, haluan. Berbeda negara, kampung, pendidikan, jenis dan lainnya adalah keindahan.

Indah itu tidak harus sama, cantik itu juga tidak harus menyatu, perahu bisa bergerak karena ada yang menjadi nakhoda, gelombang, angin, dan ada pula yang jadi dayungnya.

Kalau Allah Menghendaki, niscaya kamu Dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak Menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”
(Al-Ma’idah 48)

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).”
(Al-Hujurat 11)

Bersatulah walau kadang berbeda, satu bukan sama. seperti, menyatunya lidi yang berbeda. 

Dan janganlah takut berbeda, kelahiran manusiapun sudah tak pernah sama


***



*Penulis: Dr.H. Halimi, M.Pd., M.A.
@halimizuhdy3011
Dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Ketua Redaksi Jurnal LiNGUA Humaniora UIN Malang, 
Khadim Pondok Pesantren Darun Nun Malang







© Infokom PD OPI Aceh

Postingan Populer