PD OPI Aceh

Tidak Ada Kemenangan Tanpa Kekuatan dan Tidak Ada Kekuatan Tanpa Persatuan

Organisasi Pelajar Islam (OPI)

Intelektual, Integritas, Akhlakul Karimah

www.pdopiaceh.com

Dikelola oleh Bidang Informasi dan Komunikasi PD OPI Aceh

Kabid Infokom

Tampilkan postingan dengan label PERTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERTI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juli 2020

PD OPI Aceh usul Abuya Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee jadi Pahlawan Nasional


Banda Aceh-Pimpinan Daerah Organisasi Pelajar Islam (PD OPI) Provinsi Aceh mengusulkan agar Tgk.H. Muhammad Waly Al Khalidy (Abuya Muda Waly) dan Tgk.H. Muhammad Hasan Krueng Kalee dijadikan pahlawan nasional. "Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee merupakan tokoh agama, pendidikan,  politik dan pejuang yang sangat berpengaruh dalam upaya memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, bahkan diterimanya Ir. Soekarno sebagai pemimpin Indonesia oleh para ulama juga tidak terlepas dari pengaruh Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee" ujar Wakil Ketua II PD OPI Aceh, Rozal Nawafil (17/7/2020).

"Sejarah mencatat peran dan pengaruh penting Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee terhadap eksistensi kemerdekaan Indonesia. Bahkan kiprah kedua Almarhum telah terbukti dan tidak diragukan lagi dalam upaya pergerakan perjuangan dan pengisi kemerdekaan. Sehingga sudah sewajarnya kita bersama sama mendukung pengusulan Abu Tgk. Muda Waly dan Abu Tgk. Hasan Krueng Kalee sebagai pahlawan nasional  dan sudah sepantasnya hal ini direspon oleh pemerintah pusat," ungkap Rozal Nawafil yang juga merupakan mahasiswa/praja di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee berperan dalam upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam berbagai referensi disebutkan bahwa di masa penjajahan, Abuya Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee bersama ulama-ulama Aceh lainnya terus menggelorakan semangat melawan penjajahan dengan semangat jihad fissabilillah.

Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia,  Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee serta para ulama-ulama Aceh lainnya juga melakukan jihad untuk membela agama dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal itu terbukti pada tanggal 15 Oktober 1945, Abu Hasan Krueng Kalee beserta tiga ulama Aceh lainnya menandatangani deklarasi perjuangan Maklumat Oelama Seloeroeh Atjeh, Pernyataan Jihad yang mewajibkan seluruh rakyat Aceh untuk berjihad membela kemerdekaan Indonesia dan mengusir NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) yang hendak menjajah kembali. Maklumat itu merupakan wujud dukungan ulama Aceh terhadap kemerdekaan Republik Indonesia yang telah diproklamirkan. Inti muatannya, maklumat berisi keyakinan para ulama yang bernilai fatwa: perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah sama dengan perjuangan suci yang disebut perang sabil meneruskan perjuangan Aceh terdahulu seperti perjuangan Tgk Chik Di Tiro dan pahlawan lainnya.

Tak lama setelah keluarnya Maklumat Bersama itu, Pada tanggal 25 Oktober Abu Tgk. Hasan Krueng Kalee mengeluarkan sebuah seruan tersendiri yang sangat penting. Seruan ini ditulis dalam bahasa Arab kemudian dicetak oleh Markas Daerah PRI (Pemuda Republik Indonesia) dengan surat pengantar yang ditandatangani oleh ketua umumnya Ali Hasjmy tertanggal 8 November 1945 Nomor 116/1945 dan dikirim kepada para pemimpin dan ulama diseluruh Aceh. Setelah seruan penting itu tersiar luas, maka berdirilah barisan Mujahidin di seluruh Aceh yang kemudian menjadi Mujahidin Devisi Teungku Chik Di Tiro.

Adanya maklumat itu berdampak positif bagi pemerintahan RI. Berbagai dukungan fisik dan materil rakyat Aceh untuk membiayai perjuangan Negara Kesatuan Republik Indonesia tak terbendung, sehingga saat kunjungan pertama Presiden Soekarno ke Aceh, Juni 1948, dengan lantang Soekarno menyatakan bahwa Aceh dan segenap rakyatnya adalah modal pertama bagi kemerdekaan RI.

Rozal Nawafil menjelaskan Organisasi Pelajar Islam (OPI) selaku organisasi serumpun Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) tidak dapat terpisahkan dari perjuangan Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee. PERTI didirikan di Sumatera Barat pada 5 Mei 1928, berkembang di Aceh sejak tahun 1940-an. Abuya Muda Waly merupakan tokoh pertama yang memperkenalkan PERTI di Aceh. “Abu Tgk. H. M. Hasan Krueng Kalee, Abuya Tgk. H. M. Muda Waly Al Khalidy, Tgk. H. Nyak Diwan, Tgk. H. M. Saleh Aron, dan beberapa ulama memprakarsai lahirnya Organisasi PERTI untuk wilayah Aceh.”

“Kiprah PERTI dalam membina tarbiyah umat islam Aceh sangat besar sebagai wadah organisasi yang berjuang untuk mempertahankan orisinalitas pemahaman agama islam di Aceh yang i’tikadnya  mengacu pada faham Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah dan Maturidiyyah) dan berfiqih dengan Mazhab Syafi’i. Hampir seluruh dayah di Aceh bernaung di bawah organisasi ini dan bersanad kepada Abuya Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee”.

Dalam pemilu 1955, PERTI yang menjadi Partai Islam PERTI berhasil memperoleh 465.359 suara atau 1,23% dari total suara pemilih sehingga berhasil memperoleh 7 buah kursi di Konstituante. Dari 7 kursi tadi, satu jatah kursi diberikan kepada PERTI Aceh yang diwakili oleh Tgk. H. Muhammad Hasan Krueng Kalee.

Pada 14 oktober 1957, Abuya Syeikh Muda Waly Al-Khalidy dan Abu Muhammad Hasan Krueng Kalee, serta beberapa ulama lain dari seluruh Indonesia sekitar 500 orang diundang oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno ke Istana Cipanas untuk membicarakan status Negara RI dan presidennya dalam tinjauan agama Islam, apakah sah atau tidak. Dalam pertemuan itu, itu tidak semua para ulama setuju mengangkat Soekarno menjadi pemimpin negara dikarenakan dianggap tidak memenuhi persyaratan menjadi pemimpin menurut fiqh. Namun, Abuya Muda Waly menjelaskan bahwa kepemimpinan Soekarno adalah sah, dengan merujuk kitab "Tuhfatul Muhtaj". Setelah itu maka para peserta pertemuan membaca kitab tersebut dan juga membaca beberapa kitab yang disarankan oleh Abuya selain kitab Tuhfah. Akhirnya pertemuan itu menghasilkan pengakuan bahwa apa yang diungkapkan oleh Abuya adalah benar. Saat itulah Soekarno dinobatkan sebagai Presiden Pertama RI Dan Abuya Muda Waly menyampaikan Presiden Soekarno adalah Ulil Amri adh-Dharuuriy bisy syaukah. Hasil putusan itulah yang dilaporkan oleh Menteri Agama RI KH. Masykur kepada Presiden, dan Presiden Soekarno berterimakasih kepada Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee.

Abu Muda Waly dan Abu Hasan Krueng Kalee bersama ulama-ulama kaum tua lainnya yang tergabung dalam PERTI  juga tidak mendukung dan bergabung dengan ulama-ulama kaum muda yang tergabung dalam PUSA dalam pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Aceh.

Mantan Gubernur Aceh, Alm. Prof. Ali Hasjmy menyebut Abuya Muda Waly sebagai sosok yang Nasionalis seperti dikutip dari buku Ayah Kami Abuya Syeikh Muhammad Waly Al-Khalidy: Bapak Pendidikan Aceh. Di Dayah Darussalam yang dipimpinnya, Abuya Muda Waly memformulasikan ulang sistem pendidikan pesantren di Aceh pada masa itu. Di dayah inilah pertama sekali diperkenalkan dua sistem yaitu sistem dayah tradisional dimana siswa yang mengikuti jalur ini diharuskan untuk belajar suatu kitab tertentu hingga tamat. Sistem kedua yang diterapkan di dayah ini adalah sistem madrasah, dimana para siswanya belajar dengan mengikuti pola tertentu dan menggunakan gedung yang telah ditentukan. Sistem ini juga tidak mengharuskan siswa untuk menamatkan suatu kitab tetapi harus aktif dalam diskusi-diskusi yang diselenggarakan di dalam kelas. Sehingga tidak heran jika Gubernur Aceh (2/9/2008) menggelari Abuya Muda Waly sebagai Tokoh Pendidikan Aceh.

Abu Hasan Krueng Kalee juga dikenal sebagai pembaharu sistem pendidikan di Aceh. Abu Tgk.H. M. Hasan Krueng Kalee bersama Tgk H.Hasballah Indrapuri, Tgk H.Abdul Wahab Seulimum, Tgk Muhammad Daud Beureueh, Tgk M.Hasbi Ash-Shiddiqy,Tgk. H.Trienggadeng dll mengadakan Musyawarah Pendidikan Islam di Lubuk, Aceh Besar (1-2/10/1932) yang membahas masalah pembaruan dan perbaikan pendidikan Islam. Dayah Darul Ihsan yang dipimpin Abu Hasan Krueng Kalee saat itu pun mengadopsi sistem pendidikan Islam tradisional moderat.

Abu Muda Waly dan Abu Krueng Kalee menjadi kharismatik bukan karena diagungkan oleh masyarakat Aceh pada waktu itu, melainkan pengorbanannya pada Aceh dan Indonesia yang begitu besar, sehingga ia diberi gelar “Ma’rifaullah” atau “al A’rif billah”. Gelar itu ia terima pada sebuah forum tingkat tinggi ulama se-Aceh, 5 Mei 2007, di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Pada pertemuan itu para ulama Aceh telah sepakat, selain Abu Muda Waly dan Abu Krueng Kalee, ada dua ulama lainnya yaitu Syaikh Abdurrauf Singkil (Syiah Kuala) dan Hamzah Fansuri telah sampai pada tingkat Ma’rifatullah.

“Jika melihat syarat-syarat pahlawan nasional, saya rasa tidak ada alasan untuk tidak dapat menjadikan Abu Tgk.H. Muhammad Muda Waly dan Abu Tgk. H. Muhammad Hasan Krueng Kalee menjadi pahlawan nasional Indonesia.” ujar Wakil Ketua II PD OPI Provinsi Aceh tersebut. []

© Infokom PD OPI Aceh

Selasa, 24 April 2018

Ustadz Abdul Somad Ceramah Isra' Mi'raj di Dayah Bustanul Huda

Ceramah Fantastis Ustaz Somad di Abdya, Diusung Tandu, Diguyur Hujan Hingga Dipayungi Kapolres

SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF Sabtu, 21 April 2018 20:44
Ustaz Abdul Somad diberi kehormatan, yaitu diusung dengan tandu melewati Jalan Cot Seutui atau lintasan menuju Dayah Bustanul Huda, Keude Siblah, Blangpidie, Abdya dalam acara penyambutan tabliq akbar di lokasi dayah setempat, Sabtu (21/4/2018). Tugas mengusung ustaz dilaksanakan pemuda yang tergabung dalam Ikatan Pemuda Mata Ie, Blangpidie.

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Ustaz Abdul Somad, Lc., MA. menyampaikan ceramah akbar di Kompleks Dayah Bustanul Huda, Desa Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Sabtu (21/4/2018) sore.

Tabliq akbar dimulai sekitar pukul 15.00 WIB itu sangat fantastis, karena selain jumlah warga yang hadir sangat luar biasa, sampai-sampai kompleks dayah berubah jadi lautan manusia, dan ceramah disampaikan dai kondang asal Pekan Baru, Riau yang dikenal dengan sebutan dai sejuta viewer ini berlangsung di bawah guyuran hujan.

Salam Ta'dzim Ustadz H. Abdul Somad, Lc, MA dengan Tgk. H. Muhammad Qudusi Syam Marfaly

Malah ketika melihat Ustaz Somad mulai basah disiram hujan, Kapolres Abdya, AKBP Andy Hermawan bangkit dari deretan tempat duduk Anggota Forkopimkab di atas pentas utama untuk mengambil payung warna kuning.

Kemudian memayungi Ustaz Abdul Somad sampai ceramah usai yang berlangsung sekitar 50 menit.

“Tak tanggung-tangung yang memayunngi saya ternyata Kapolres,” kata Abdul Somad ketika menoleh ke belakang untuk mengenali siapa gerangan yang memayungi dirinya diguyur hujan.

Ustaz Abdul Somad dalam ceramahnya mengupas soal isra’ mi’raj dengan susunan kata enak didengar dan diselingi humor segar sehingga sangat menarik jamaah yang memadati di lokasi.

Abu Muda Muhammad Qudusi
menyambut Ustaz Abdul Somad
di Kubah Makam
Alm. Abuya Syam Marfaly
Ustaz yang semakin terkenal di media sosial ini mengaku diperlakukan sangat mulia dan dihormati ketika berkunjung ke Dayah Bustanul Huda, Blangpidie, Abdya.       

“Sudah jauh kaki melangkah, jauh melangkah banyak dilihat dan dirasa, tapi baru kali ini, di Dayah Bustanul Huda ini, saya ditandu. Begini  rupanya cara memuliakan ulama, begini rupanya cara menghormati dan memuliakan ustaz ,” kata Abdul Somad dengan intonasi kata khasnya disambut gegap gempita para jamaah.

Sebelum tabliq akbar dari atas pentas utama di kompeks Dayah Bustanul Huda, Ustaz Abdul Somad menerima cendera mata berupa rencong Aceh, diserahkan Bupati Akmal Ibrahim.

Pimpinan Dayah,  Tgk H Muhammad Qudusi Syam Marfaly menyerahkan surban (ridak) yang sudah dipasang lambang dayah dan Ketua Panitia, Tgk Nasruddin AR  menyerahkan cendera mata berupa baju seragam panitia.


Buku "37 Masalah Populer" dan
"99 Tanya Jawab seputar Shalat"
Tulisan Ustaz Abdul Somad
Sementara Ustaz Abdul Somad memberikan sejumlah kitab yang ia ditulis sendiri kepada Pimpinan Dayah Bustanul Huda, Tgk H Muhammad Qudusi Syam Marfaly.

Dai kondang asal Pekanbaru, Riau tiba mulut Jalan Cot Seutui, lintasan menuju dayah sekitar pukul 13.30 WIB, Sabtu siang, disambut Tgk Zarkasyi (Abon), unsur pimpinan dayah dan Ketua Panitia, Tgk Nasruddin AR bersama ulama pimpinan dayah dan tokoh masyaarakat.

Ustaz Abdul Somad tiba di mulut jalan tersebut, didampingi Bupati Akmal Ibrahim, Wakil Bupati, Muslizar MT, Ketua DPRK, Zaman Akli, Dandim 0110, Letkol Arm Iwan Aprianto, Kapolres, AKBP Andy Hermawan yang sebelumnya menyambutnya di Bandara Kuala Batu, Pulau Kayu, Susoh.

Ustaz Abdul Somad dan rombongan terbang dari Bandara Kuala Namu, Medan menuju Abdya dengan pesawat Susi Air yang disewa Bupati Akmal Ibrahim.          

Rencong Hadiah untuk Ustadz Abdul Somad
Disisi Rencong Tertulis Nama Ustadz Abdul Somad

Setelah disambut di pintu masuk Jalan Cot Seutui, ustaz lulusan S2 Dar Al-Hadits Al-Hassania Institute, Kerajaan Maroko, ini mendapat kehormatan dan kemuliaan, yaitu diusung dengan tandu  menuju Dayah Bustanul Huda, jarak 300 meter dan diiringi salawat badar.

Tugas mengusung dengan sigap dilaksanakan sekitar 60 pemuda yang tergabung dalam Ikatan Pemuda Mata Ie, Blangpidie, kemudian turun di  tepat di pintu gerbang dayah, Ustaz Abdul Somad disambut Tgk Ahmad Azhar Hasan (Abati), unsur pimpinan dayah.

Lalu, masih diiringi salawat badar dan tepung tawar, Ustaz Abdul Somad berjalan melewati pengamanan pagar betis ratusan santri menuju kubah untuk ziarah makam alm M Syam Marfaly, pendiri Dayah Bustanul Huda.

Di pintu kubah, disambut Pimpinan Dayah Bustanul Huda, Tgk H Muhammad Qudusi Syam Marfaly.

Ustaz Somad usai ziarah, Ustaz Abdul Somad melakukan prosesi mengijazahkan ilmu hadist kepada ratusan santri Dayah Bustanul Huda, didampingi Tgk H Muhammad Qudusi Syam Marfaly.

Ustaz Abdul Somad bersama
Dewan Penasehat PD OPI Aceh,
Tgk.H. Muhammad Qudusi Syam Marfaly
Warga yang sudah memadati kompleks dayah sejak pagi tetap setia menunggu Ustaz Abdul Somad  menyampaikan cerah akbar dimulai setelah jamuan makan siang dan shalat duhur, meskipun cuaca panas sejak pagi. (*)
 
Ustadz Abdul Somad bersama Keluarga Besar Alm. Abuya Syaikh
Tgk. H. Muhammad Syam Marfaly / Abu Syam / Abu di Blang
(Ulama Kharismatik dan Tokoh PERTI Aceh Barat Daya)

***


Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Ceramah Fantastis Ustaz Somad di Abdya, Diusung Tandu, Diguyur Hujan Hingga Dipayungi Kapolres, 
Penulis: Zainun Yusuf    

Editor: Yusmadi

© Infokom PD OPI Aceh

Selasa, 06 Maret 2018

Tgk. H. Nashiruddin Daud; Berjuang, Belajar, Berbakti

Tgk. H. Nashiruddin Daud
  • Nama : Tgk. H. Nashiruddin Daud
  • Tempat / Tanggal Lahir : Padang Keuneuleh, Manggeng, Aceh Barat Daya / 31 Desember 1942
  • Wafat : Pancor Batu, Deli Serdang, Sumatera Utara / 25 Januari 2000
  • Agama : Islam
  • Alamat :
    1. Jl Puda 5 Kuta Alam, Banda Aceh
    2. Komplek DPR-RI Blok A6-98 Kalibata Jakarta Selatan
  • Istri : Rosniar
  • Anak :
    1. Abdul Rauf, 1974
    2. Qushairi, 1975
    3. Nuriati, 1978
    4. Husna, 1980
    5. Yusra, 1982
    6. Sahrati, 1984
    7. Muhammad Fadhil, 1989
    8. Nurbaiti, 1992
  • Pendidikan:
    1. Sekolah Rakjat, Manggeng, 1958.
    2. Ibtidaiyah Darussalam, Labuhan Haji, 1961
    3. Tsanawiyah Darussalam, Labuhan Haji, 1964
    4. Aliyah Darussalam, Labuhan Haji, 1967
    5. Aliyah Banda Aceh, 1969
  • Organisasi:
    1. 1970-1972, Pengurus Partai Islam PERTI, Aceh
    2. 1974-2000: Imam Masjid Baitul ‘Alam, Kuta Alam Banda Aceh
    3. 1980-1994-Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Alam Jaya, Kuta Alam
    4. 1981-1990, Ketua Perti Kodya Banda Aceh
    5. 1982-1987: Anggota DPRD Banda Aceh
    6. 1985-1990, Wakil ketua DPC PPP Banda Aceh
    7. 1988-1993, Wakil ketua DPD PERTI, Aceh
    8. 1990-1995, Wakil Sekretaris DPW PPP Aceh
    9. 1995-2001: Wakil ketua Inshafuddin, Aceh
    10. 1998-2001: Pimpinan Daya Inshafuddin
    11. 1999-2004: Wakil ketua DPW PPP Aceh
    12. 1999-2001: Anggota DPR/MPR-RI

A. Prolog Kehidupan 


Dikalangan pengurus dan warga Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Aceh khususnya, serta masyarakat Aceh pada umumnya, nama Tgk. H. Nashiruddin Daud sudah tidak asing lagi bagi mereka.

Dikeluarganya beliau dipanggil “Abu” oleh anak-anak dan istrinya, suatu sebutan anak terhadap orang tua. Suatu yang sudah menjadi tradisi ditengah dan dikalangan keluarga masyarakat Aceh yang banyak menyerap istilah arab dalam kehidupan, kemudian diadopsi menjadi narasi komunikatif antara anak dan orang tua. Selain panggilan Abu, padanan kata lainnya yang juga dipakai oleh masyarakat Aceh yaitu “Abon”, dsb.

Tgk. Nash dilahirkan di Padang Kelileu, Manggeng Kabupaten Aceh Selatan (sekarang kabupaten Aceh Barat Daya setelah pemekaran wilayah) pada tanggal 31 Desember 1942. Jalur pendidikannya ditempuh pada Sekolah Rakjat Manggeng pada tahun 1958. Sebagai keluarga yang masih sangat kuat menanamkan nilai-nilai ajaran Islam dan sangat mementingkan pendidikan agama, setelah menamatkan pendidikan Sekolah Ra'jat, Tgk. Nash mengenyam dan menimba ilmu-ilmu agama Islam di Pesantren Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan sejak tahun 1958-1967.

Pesantren Darussalam pada waktu itu dipimpin oleh Abuya Syeikh Haji Muhammad Muda Waly al-Khalidy, seorang ulama yang sangat masyhur, luas ilmunya dan pemahaman keagamaanya. Selama 9 (sembilan) tahun menimba ilmu di dayah Darussalam, jenjang tsanawiyah , Aliyah dan Bustanul Muhaqqiqien (setingkat perguruan tinggi).

Dikalangan teman-teman yang seangkatan dengannya di pesantren, Tgk. Nash dikenal sebagai figur santri yang cerdas dan kepiawaiannya dalam menyelesaikan dan menjawab setiap pertanyaan dari teman-teman Beliau.

Kebiasannya mengangkat-ngangkat kopiah yang melekat pada kepalannya bila beliau sedang memikirkan setiap persoalan dan permasalahan seputar pengetahuan yang berkembang dalam forum diskusi maupun ketika mempersiapkan argumentasi-argumentasi yang akan disampaikan dalam forum diskusi menjadi karakter beliau, dikalangan santri-santri dayah mengatakan hal tersebut mengindikasikan bahwa Tgk. Nash sedang berfikir serius tentang argumen, dalil-dalil apa yang akan disampaikan di diskusi (drah kitab).

Pada tahun 1971, Tgk. Nash menikah dengan Rosniar, anak dari H. Hanafiah Sanany (abang kandung Kol.H. Nukum Sanany) yang bersebelahan dengan desa tempat tinggalnya, yaitu desa Kayee Aceh, Manggeng (sekarang Kecamatan Lembah Sabil setelah pemekaran). Dari perkawinannya dengan Rosniar, mereka telah dikaruniai oleh Allah SWT 3 (tiga) orang putra dan 5 (lima) putri, yaitu Abdurrauf (1973), Qusyairi (1975), Kurniati (1977), Husna (1980), Yusra (1983), Syahrati (1985), Muhammad Fadhil (1988) dan Nurbaiti (1991).

Walaupun pendidikan beliau berlatar belakang dayah namun Tgk. Nash tidak pernah bersikap otoritarian terhadap arah pendidikan anak-anaknya. Mereka diberikan kebebasan dan keluwesan untuk memilih sekolah apa yang diinginkannya, tidak mesti harus di Dayah/pesantren dan madrasah seperti jalur pendidikan yang beliau tempuh namun beliau dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Tgk. Nash mengajarkan langsung pendidikan agama untuk anak-anaknya sejak mereka berumur 7 tahun, seperti mendidik anak-anaknya untuk bisa membaca al-Qur`an dan mengajurkan dan membiasakan shalat dengan mengajak mereka berjamaah di Mesjid. Mesjid bagi beliau adalah tempat paling pertama dan utama, tak ada yang lebih penting bagi beliau selain Mesjid. Bahkan dengan santun beliau meninggalkan tamunya bila suara azan terdengar walaupun tamu terhormat sekalipun.

Beliau adalah sosok pendidik yang luar biasa, mendidik dengan ketaladanan. Hari-hari beliau, aktifitas beliau selalu dihiasi dengan sunnah Rasul, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Taka ada malam yang terlewatkan oleh beliau kecuali dalam sujud panjangnya, tak ada senin kamis yang beliau tinggalkan selain menahan rasa haus dan lapar, tak ada dhuha yang beliau lewatkan kecuali dengan bertadarus dan menghayati ayat-ayat cinta-Nya.

Beliau juga dikenal sebagai sosok yang dermawan, walaupun hidup dengan kehidupan yang pas pas an namun tidak menyurut keinginannya untuk terus memberi dan berbagi. Jadi tak heran bila beliau rela berjalan kaki dari pasar aceh kekediaman beliau dikarenakan seluruh uangnya diberikan kepada peminta minta. Hingga akhir hayatnya beliau hanya memiliki rumah yang sangat sangat sederhana, rumah yang mungkin tak layak bagi seorang anggota DPR RI.

***

B. Hijrah Ke Banda Aceh.

Perpindahan (hijrah) dari suatu tempat, daerah dan dari suatu kondisi ke tempat dan kondisi lainnya, merupakan peristiwa yang pernah dilakukan Nabi Muhammada Saw. Makna hakiki dari proses hijarah adalah harapan untuk terwujudnya perubahan-perubahan dan cita-cita yang pada setiap manusia. Demikian juga halnya dengan sosok Tgk. Nash, pada tahun 1971 beliau hijrah ke Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh

Banda Aceh sebagai pusat kota, tentunya Tgk.Nash seringkali bersentuhan dengan nilai-nilai dan pandangan yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan dalam lembaga pendidikan dayah yang sarat dengan nilai-nilai religius. Peran dan fungsi sosial keagamaan yang pertama kali ia dapatkan adalah menjadi imam mesjid Baitul `Allam-Masjid dimana Tgk. Nash berdomisili, yaitu di desa Kuta Alam. Suatu tanggung jawab yang besar tentunya, yang tidak hanya sekedar menjadi imam ketika shalat lima waktu, namun menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan yang timbul ditengah-tengah masyarakatnya dan bagaimana membentuk karakter manusia untuk selalu patuh dan melaksanakan ajaran Islam.

Mesjid yang mempunyai fungsi ganda sebagai tempat ibadah, dan aktivitas sosial keagamaan yang lain, termasuk didalamnya aktivitas pendidikan. Momentum hijrah ini, dimanfaatkan Tgk.Nash di Mesjid untuk mentransfer pengetahuan agama yang diperolehnya itu kepada masyarakat luas. Sudah menjadi semacam tradisi dan cita-cita bagi setiap orang untuk menjadi pengajar (guru, dosen). Karena itu bagi ulama/Kiai semua manusia harus belajar menjadi guru dalam madrasah, sekolah, pesantren atau dayah, atau di lapangan, pasar, dan di jalan-jalan. Mereka yang ilmunya tinggi atau sedikit, wajib menyebarluaskan ilmu yang dimilikinya.

Halaqah sebagai pola pengajaran yang digunakannya untuk mengajarkan akan masyarakat pengetahuan agama. Mesjid Baitul `Allam menjadi basis awal bagi gerakan pendidikan yang dilakukannya. Materi-materi ajarannya (subject matter) lebih didominasi oleh corak fiqih-sufistik. Literatur yang dipakai sebagai bahan referensi adalah; untuk kajian fiqh yaitu al-Bajuri, I`anah al-thalibin, Tuhfatul muhtaj Mazahibul Arba`ah dan Bidayatul Mujtahid. Sedangkan kajian tasawuf, rujukan yang digunakan Tgk.Nash hanya Ihya `Ulumuddin, karangan Imam Al-Ghazali.

Tidak hanya masyarakat yang ada dilingkungannya yang datang untuk memperoleh ilmu darinya, tapi juga masyarakat lainnya yang berdomisili di Banda Aceh. “Ulama yang tidak memiliki dayah”, demikian sebutan yang cocok bagi Tgk.Nas. Karena memang dia tidak memiliki dan mewarisi dayah dan santri sebagaimana lazimnya ulama-ulama lainnya sekaliber Tgk. Nash. Hanya mesjid dan rumahnya digunakan untuk mengajarkan apa saja ilmu yang dia miliki. Pernah juga mahasiswa IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry asal Malaysia dan mahasiswa setempat yang belajar di rumahnya. Biasanya mahasiswa-mahasiswa itu belajar berkaitan dengan mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi tersebut. 

Tidak hanya sebagai seorang ulama yang hanya menyebarkan ilmunya melalui ceramah dan mengajar, tapi Tgk. Nash juga sebagai wartawan surat kabar Peristiwa pada tahun 1976, ilmu jurnalistik diperolehnya melalui pelatihan jurnalis yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Medan. Melalui pengalaman menulis yang diperolehnya, ia menyebarkan apa yang diketahui dan ilmunya melalui artikel di koran.

***

C. Berpolitik Praktis

Untuk bisa mewujudkan ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat Aceh, maka kita harus berada dalam sistem yang ada. Prinsip tersebut yang mendorong Tgk.Nash untuk terlibat langsung dalam dunia politik Keterlibatan dan kiprahnya dalam politik praktis berawal setelah dia bergabung dan menjadi pengurus partai Islam Perti Aceh pada tahun 1970-1972. Setelah Perti kembali pada khittahnya (tidak lagi ikut serta keterlibatan dalam politik) sebagai organisasi masyarakat yang concern pada wilayah sosial kemasyarakatan dan pengembangan pendidikan, kemudian Tgk. Nash bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan Aceh (PPP)-mewakili unsur PERTI yang berfusi ke PPP tanggal 5 Januari 1973. 

Keseriusan dan keterlibatannya di panggung politik menjadikannya sebagai salah satu politisi yang berasal dari kelompok ulama. Kehidupan politik menjadi bahagian dari kehidupannya yang tidak bisa dipisahkan dengan konsep hidupnya “amar ma`ruf nahi mungkar”. Tgk. Nash tidak hanya menerapkan strategi kultural (cuktural strategies) dalam menjalankan konsep tersebut, tapi juga strategi struktural dilakukannya. Kedua strategi itu, satu dengan lainnya bersifat saling melengkapi (komplementer), bukannya bersifat mutually exlusive.

Strategi kultural digunakannya sebagai tujuan untuk mempengaruhi perilaku sosial (cara berfikir masyarakat) kearah penerapan kehidupan keberagamaan yang lebih baik dan tertata rapi. Dakwah dan pengajian merupakan cara dari strategi kultural yang menitik beratkan penekanan pada agama sebagai moral force atau inspirational. Cara inilah yang paling sering dilakukan Tgk. Nash. Disisi lain, dia menerapkan pula strategi struktural, dimana peran politik sangat dominan. Karena itu keterlibatan langsung Tgk. Nash dalam perpolitikan merupakan kesadaran kritisnya bahwa perilaku-perilaku dan tatanan kehidupan dapat berubah kearah yang lebih baik, dapat dilakukan dengan mempengaruhi struktur politik (legislatif, eksekutif).

Amar ma`ruf nahi mungkar, sudah menjadi prinsip hidup Tgk. Nash, bahwa hidup ini harus sejalan dan didasarkan pada tatanan kehidupan Islami-agama menjadi petunjuk untuk perilaku, misalnya perilaku politik, birokrasi dan industru budaya. Prinsip tersebut kemudian diwujudkannya ketika dia terpilih sebagai wakil rakyat (DPRD Kodya Banda Aceh periode 1982-1987) pada pemilu 1982. Tgk. Nash berpandangan bahwa fungsi pemerintah memberikan jaminan layanan bagi masyarakatnya secara baik dan memuaskan quality ensure, serta bagaimana menjamin kesejahteraan mereka. 

Konsep tersebut, selama ini juga diusung dan menjadi jargon bagi gerakan-gerakan mahasiswa dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Perbedaan bahasa dan term yang menjadikannya seolah-olah berbeda antara apa yang diperjuangkan kelompok ulama dengan aktivis LSM-yang dalam setiap gerakan-gerakan mereka menggunakan tema-tema dan issu penindasan terhadap rakyat. 

Subtansi arah dan tujuan kedua kelompok masyarakat itu sebenarnya bermuara pada satu visi, yaitu sama-sama mengkritik kebijakan pemerintah yang telah kehilangan arah bagi pemihakan terhadap rakyat. Demonstrasi dan aksi-aksi di jalan merupakan media yang sangat dominan yang dilakukan oleh aktivis mahasisw dan LSM untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Sedangkan kelompok ulama memanfaatkan khutbah dan ceramah, baik di mesjid maupun tempat lainnya sebagai momentum untuk melakukan kritik-kritik berbagai persoalan kehidupan masyarkat. Kalau aktivis mahasiswa dan LSM dalam setiap gerakannya sudah terorganisir dengan baik, dan memeliki agenda secara kolektif, maka pada kelompok ulama, kritik itu sering muncul pada personal ulama yang bersangkutan.

Keprihatinanya terhadap dekandensi moral generasi muda Aceh yang disebabkan oleh faktor penanyangan film yang berbau pornografi di Bioskop dan di panggung hiburan rakyat (PHR) dan poster-poster porno. Kritik dan protes keras yang dilakukan Tgk.Nash dengan merobek poster-poster porno di PHR Puda Kuta Alam Banda Aceh (berdekatan dengan tempat tinggalnya) membuat dia ditangkap dan harus berurusan dengan pihak kepolisian karena adanya laporan keberatan dari pemilik dan pengelola PHR Puda. 

Kritik tajam terhadap kebobrokan pemerintah kerap kali disampaikannya pada setiap ada kesempatan. Ketika Tgk. Nash berkampanye untuk Partai Islam Perti tahun 1970 di kabupaten Pidie , materi kampanye yang disampaikannya membuat pemerintah Aceh tersinggung, dan beliau ditahan selama dua bulan. 

Kritik yang disampaikannya terhadap Golkar sebagai penguasa Orde Baru saat itu pada sidang-sidang di DPRD Kodya Banda Aceh (pada Tahun 1982-1987 sebagai anggota DPRD Kodya Banda Aceh), banyak pihak yang merasa kebakaran jenggot karena kritikan itu dan mengharuskan pemerintah membuat catatan-catatan khusus dan track record jelek atas diri Tgk.Nash (“tinta merah”, istilah yang biasa digunakan pemerintah Orba, ditujukan terhadap personal dan institusional yang mengkritik dan melawan kebijakan pemerintah serta orang yang dianggap ekstrem).

***

D. Fitnah Politik dan Akhir Perjalanan Hidupnya



“Politik itu kejam atawa jahat”, “tidak ada lawan yang abadi, tidak ada kawan yang sejati”, suatu kamus dan kitab suci yang sering berlaku dikalangan politisi.

Tgk. Nash sebagai salah satu dari sekian ulama di Aceh yang berkiprah dalam dunia politik praktis. Sulit memang bagi figur ulama untuk menggeluti dunia politik, karena opini dan asumsi-asumsi yang terbangun tentang politik selama ini sebagai sesuatu yang jahat. Kita tidak dapat menyalahkan pernyataan itu, karena bukti empirik telah mengindikasikannya.

Persoalan sebenarnya adalah bagaimana seseorang memposisikan dan memperlakukan politik pada dirinya. Demikian juga halnya dengan ilmuwan yang terjun dalam pilitik, dia akan terkoptasi dengan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan kelompok.

Salah satu bias-bias politik, yang secara langsung dapat dirasakan, diamati dan dibaca adalah pada saat berlangsungnya suksesi kepemimpinan daerah. Dukung mendukung merupakan fenomena yang sudah lumrah terjadi. Bila kandidat lawan yang terpilih, maka sang politikus itu akan mendapati rintangan, dan boleh jadi karir politiknya akan kandas di tengah jalan dan akan berakhir. Tahun 1986 merupakan suksesi gubernur dari kepemimpinan Teuku Hadi Thayeb untuk periode 1986-1993.

Kandidat yang muncul saat itu dan merupakan titipan pemerintah pusat melalui Golkar adalah Ibrahim Hasan. Dikalangan ulama dayah Aceh yang dimotori oleh Tgk. Nash, menginginkan Teuku Hadi Thayeb menjabat kembali sebagai gubernur Aceh untuk periode selanjutnya. Bulan Februari 1986, Tgk. Nash berinisiasi mengumpulkan tanda tangan ulama dayah yang ada di Aceh (persetujuan dalam mendukung kembali Hadi thayeb sebagai gubernur Aceh). Selanjutnya dukungan tersebut disampaikan kepada presiden Soeharto di Jakarta.

Delegasi yang hadir saat itu salah satunya Tgk. Nash, tapi mereka ditolak untuk bertemu Soeharto dan hanya diterima oleh Mensekneg-Soedharmono (Ketua Umum DPP Golkar) dan hanya menyampaikan surat yang berisi aspirasi ulama dayah Aceh tentang penolakan terhadap pencalonan Ibrahim Hasan dan mempertahankan Teuku Hadi Thayeb sebagai gubernur Aceh periode untuk kedua kalinya. Surat itu tidak pernah direspon oleh pemerintah pusat, dan bulan Mei 1986 Ibrahim Hasan terpilih sebagai Gubernur Aceh periode 1986-1993.

Menjelang pemilu 1987, beberapa bulan pasca suksesi gubernur selesai, Tgk. Nash menghadapi berbagai rintangan dalam karir politiknya di PPP. Pada saat penyusunan Calon legislatif sementara (Caleg) DPRD Tk.I Aceh, namanya dicoret dari daftar Caleg asal PPP. Alasan Panitia Pemilu saat itu, karena adanya surat dari Dinas Sosial Politik Aceh yang menyatakan bahwa Tgk. Nash terlibat salah satu dari ormas PKI. Bagi masyarakat Aceh pernyataan itu merupakan sesuatu yang tidak logis, tidak masuk akal sehat tentunya, hanya orang-orang yang sudah rusak pikirannya-tidak untuk menyatakan sudah gila, menuduh seorang ulama sebagai PKI.

Bagaimana mungkin Tgk. Nash yang idiologinya mengakui akan adanya Tuhan, kemudian dituduh PKI yang sama sekali tidak mengakui Tuhan, berideologi komunis? Suatu hal yang absurd.

Tgk. Nash sudah mulai menuai hasil dari kritik-kritik tajam dan ketidak senangannya pada pemerintah Orde Baru.-yang sedang gencar-gencarnya ingin memenangkan dan mengibarkan bendera kuning (Golkar) di Aceh. Tugas inilah yang pertama kali dipikul Ibrahim Hasan sebagai gubernur Aceh pada pemilu 1987.

Sejak pemilu 1977 dan 1982 Aceh merupakan basis dan menjadi milik Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Yang menjadi hambatan bagi kemenangan Golkar di Aceh, salah satunya adalah karena adanya fatwa dan sikap secara terang-terangan dari beberapa ulama mengharamkan Golkar untuk dipilih oleh kelompok pengikutnya.

Pada pemilu 1999, Tgk. Nash kembali lagi dalam percaturan politik setelah 12 (dua belas tahun) tidak aktif lagi. Kepercayaan rakyak memilihnya, menghantarkannya menjadi Anggota DPR/MPR-RI di senayan Jakarta (Wakil ketua Fraksi PPP DPR-RI) asal pemilihan Aceh Selatan.

Dengan berbagai amanah yang dipikulnya dan belum sempat dilaksanakannya serta diperjuangkannya, pada tanggal 25 Januari 2000 Allah Swt mentakdirkan Tgk. Nash menghadap Sang Khaliknya setelah jenazahnya ditemukan meninggal di Pancor Batu Sumatera Utara.

Tgk. Nash diculik oleh sekelompok orang yang tak dikenal di Medan pada tanggal 25 Januari 2000 setelah kembali dari tugas bersama Tim Forka di Banda Aceh. Jenazah yang sudah sempat dikuburkan di pemakaman umum Delitua itu yang sudah berumur tiga hari, pada tanggal 1 Februari 2000 digali kembali, setelah anak kandung dan kerabat almarhum serta kolega almarhum diantaranya Abdullah Saleh, SH yang datang ke Medan, memastikan bukti-bukti (antara lain baju) yang ada pada pihak rumah sakit dan polisi adalah milik Tgk Nashiruddin Daud.

Saat kondisi Aceh sedang tidak menentu, pembunuhan dan penculikan terjadi dimana-mana serta eskalasi politik Aceh yang kian memanas. Hasil visum dari rumah sakit Adam Malik Medan menunjukan bahwa dia meninggal akibat lehernya dijerat tali dan pendarahan yang serius di kepalanya akibat benturan benda tumpul.

Seperti diketahui, Tgk Nashiruddin Daud yang juga Wakil Ketua DPW-PPP Aceh termasuk Wakil Ketua Pansus Aceh DPR-RI yang independen mempertanyakan berbagai kasus yang terjadi di Aceh pada masa DOM lalu. Ketika Pansus (Panitia Khusus) DPR-RI memanggil para dan mantan jenderal yang diduga kuat terlibat dalam kasus Aceh, Tgk. Nash sempat mengintrupsi seorang purnawirawan jenderal.

Saat itu, seorang purnawirawan Jenderal sedang memaparkan berbagai masalah kerusuhan di Indonesia. Tiba-tiba Tgk Nashiruddin melakukan interupsi, karena yang dijelaskan oknum purnawirawan jenderal itu sudah keluar dari permasalahan yang sedang dipertanyakan.

“Saudara jangan ceramahi kami di sini dan tolong saudara jawab apa yang ditanyakan wakil rakyat tentang masalah Aceh yang sebenarnya.”

Saat kondisi Aceh sedang tidak menentu di tahun 2000, pembunuhan dan penculikan terjadi dimana-mana serta eskalasi politik Aceh yang kian memanas.

Disela-sela kunjungan kerjanya ke Banda Aceh (dua puluh hari sebelum meninggal), Tgk. Nash memberikan ceramah sebagai khutbah terakhirnya di Mesjid Baitul `Allam tentang kondisi dan situasi Aceh saat ini. Dalam ceramah dan khutbahnya, ia mengungkapkan bahwa nyawa manusia sekarang ini di Aceh sudah tidak berharga, tidak bernilai sama sekali, dan kita sangat gampang membunuh orang karena perbedaan dan berlainan persepsi, tanpa adanya perasaan dosa dan takut akan ancaman Allah SWT.

Apa yang disampaikan dalam khutbah terakhirnya, pun terjadi pada dirinya.Ini merupakan takdir Allah atas dirinya. “Seorang kamu tidak satupun mengetahui di bumi, daerah manakah kamu akan meninggal” Tgk. Nash terlahir di Manggeng Aceh Barat Daya, dan akhir hidupnya Allah menakdirkan di Medan Sumatera Utara. Semoga segala amal ibadah sosialnya diterima disisi Allah Swt.dan dia memperoleh pahala syahid dari kematiannya yang dizhalimi oleh orang.

Selamat jalan Abu kehidupan di alam sana jelas lebih membahagiakan dan jauh dari kepura-puraan. Kami anak-anak mu sudah mengikhlaskan kepergianmu menghadap sang Khaliq dan kami sudah menyampaikan kepada pemerintah dan IPU (Organisasi Parlemen Dunia) untuk menghentikan penyedikan kasus ini, kami yakin Allah Swt sudah memilih jalan yang terbaik untukmu Abu.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu yang mengridhai hambanya," Lahu Al-Fatihah....

**Penulis:  Qusyairi dan Syahrati (Anak almarhum Tgk Nashiruddin Daud) 

Selasa, 22 Agustus 2017

Buka Puasa Bersama PD OPI Aceh-DPD PERTI Aceh

Pengurus DPD PERTI dan PD OPI Provinsi Aceh saat Buka Puasa Bersama di Sekretariat DPD PERTI Aceh


Banda Aceh – Pengurus Daerah Organisasi Pelajar Islam (PD OPI) Provinsi Aceh menggelar buka puasa bersama pada Kamis (23/6) di sekretariat DPD PERTI Provinsi Aceh, Jalan H.Zakaria/Tanggul Krueng Aceh, Kecamatan Lhueng Bata, Kota Banda Aceh.
Ketua PD OPI Aceh, Redha Rahmatillah dalam sambutannya mengatakan bahwa Bulan Ramadhan merupakan momentum untuk mempererat ukhuwah serta konsolidasi organisasi.


Ketua PD OPI Aceh Redha Rahmatillah (Tengah)

“Semoga kegiatan ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi organisasi kita untuk terus melangkah kedepan”. Kata Reza, yang juga mantan Ketua Volunteer Peduli Sesama (VOPIS) dan ketua LSM Gempa (Generasi Muda Peduli Aceh).

Sementara itu, Ketua DPD Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Aceh, Drs.Tgk.H. Hasyim Daud, MM dalam sambutannya menyampaikan bahwa DPD PERTI mengapresiasi dan akan terus mendukung kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh OPI, maupun organisasi serumpun lainnya seperti Wanita PERTI, Pemuda Islam (PI), Kesatuan Mahasiswa Islam (KMI) dan lainnya.

Buka puasa bersama yang diisi dengan tausyiah oleh Tgk. Muhajir, Lc tersebut turut dihadiri oleh  Ketua DPD PERTI Aceh Drs. Tgk. H. M. Hasyim Daud MM, Wakil Ketua DPD PERTI Drs. Tgk. Nurdin Ubit,  Wakil Sekretaris DPD PERTI Drs. Suwardi Jamal, Ketua Wanita PERTI Dra. Hj. Nuraini Muhammad, MA dan Fendi Satria Daroesman, S.IP dari Korwil KMI Aceh. 
© Infokom PD OPI Aceh


Rabu, 16 Agustus 2017

Ulama Kharismatik Ahlussunnah wal Jama'ah Aceh, Abuya Tgk.H. Muhammad Hasan Krueng Kalee Al Haddadi Al Falaki Al Asyi: Ketua DPD PERTI Aceh Pertama, Ketua Majelis Syura DPD PERTI Aceh 1968-1973


Abu Tgk.H.M. Hasan Krueng Kalee
Ketika peristiwa DI/TII meletus di Aceh, seorang utusan Daud Beureueh (Tgk. Daud Beureueh adalah murid dari Tgk.H.M. Hasan Krueng Kalee) datang menjumpainya untuk mengajak bergabung dalam barisan DI/TII. Namun beliau menolak dengan sebuah ungkapan yang masyhur;Ta peu’ek geulayang wate na angen. (terbangkanlah layang-layang ketika angin kencang).Ungkapan ini bermakna bahwa keputusan Abu Beureu’eh dan kawan-kawan ketika itu tidak di dukung oleh situasi dan kondisi yang tepat, tidak akan membuahkan hasil, Namun justru akan menyengsarakan rakyat.

Tgk.H. Muhammad Hasan Krueng Kalee merupakan seorang ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah yang menganut Thariqat Haddadiyah, yakni thariqat yang berpangkal kepada Said Abdullah Al Haddad.

Tengku Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee agaknya adalah seorang tokoh ulama yang mampu mensuri-tauladani sirah Rasul tersebut dengan baik. Selain dikenal sebagai ulama sufi perkembangan Tarekat al-Haddadiyah di Aceh, ia juga diakui berperan aktif dalam sejumlah peristiwa politik ulama ini di Aceh sepanjang hidupnya.

Pada masa revolusi kemerdekaan, Tgk. H. M. Hasan Krueng Kalee ikut aktif berjuang menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia, para pemimpin perjuangan bukan hanya tokoh politik saja, tetapi juga dipelopori oleh ulama. Para ulama tidak bergerak sendiri-sendiri, melainkan bergabung dalam suatu organisasi seperti PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) dan lain-lain.

Siapakah Beliau ?




Keluarga Krueng Kalee

Syaikh Teungku Muhammad Hasan bin Teungku Muhammad Hanafiyyah bin Teungku Syaikh 'Abbas bin Teungku Muhammad Fadhli. Yang lebih dikenali sebagai Syaikh Hasan Krueng Kalee atau Abu Krueng Kalee adalah salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama`ah kelahiran Aceh.  Untuk pengetahuan, "teungku" adalah gelaran hormat masyarakat Aceh yang diberi kepada ulama, sebagaimana "teuku" pula diberikan kepada bangsawan atau pemimpin.

Beliau lahir pada tanggal 13 Rajab 1303 H, bertepatan dengan 18 April 1886 H. di desa Meunasah Letembu, Langgoe Kabupaten Pidie, Aceh. Ketika itu ayahnya yang bernama Tgk. Muhammad Hanafiyah yang merupakan pimpinan dayah Krueng Kalee sedang dalam pengungsian di daerah tersebut akibat perang dengan Belanda yang berkecamuk di kawaasan Aceh Besar.

Muhammad Hasan kecil dibawa kembali oleh orang tuanya ke kampong halaman mereka di Krueng Kalee. Disanalah perjalanan keilmuannya dimulai di bawah asuhan ayahanda Tgk. Muhammad Hanafiyah yang dikenal dengan panggilan Teungku Haji Muda. Selain itu ia juga belajar agama di Dayah Tgk. Chik di Keubok pada Tgk. Musannif yang menjadi guru pertama setelah ayahnya sendiri.

Ketika umurnya beranjak dewasa, ia melanjutkan pendidikan ke Negeri Yan, Keudah, Malaysia, yakni di Pesantren Tgk. Chik Muhammad Irsyad Ie Leubeu. Yang terakhir ini merupakan ulama Aceh yang turut mengungsi ke negeri Jiran akibat situasi perang.

Dari Yan, Tgk. M. Hasan bersama adik kandungnya yang bernama Tgk. Abdul Wahab berangkat ke Mekkah untuk melanjutkan pendidikan di Mesjid al-Haram, namun tidak lama setiba mereka di sana, adiknya tersebut meninggal dunia karena sakit. Hal ini tidak membuat Tgk. Hasan patah semangat, ia tetap sabar dan teguh melanjutkan pendidikannya dari para ulama besar Mesjid al-Haram hingga lebih kurang 7 tahun.

Selain belajar ilmu agama, ia juga belajar ilmu falak dari seorang pensiunan jenderal kejaaan Turki Ustmani yang menetap di Mekkah. Hal mana kemudian membuatnya alim dalam ilmu Falak dan digelar dengan sebutan “Tgk. Muhammad Hasan Al-Asyi Al-Falaky.”

Sekembalinya dari Mekkah, Abu Krueng Kalee tidak langsung pulang ke Aceh tapi terlebih dahulu singgah di Pesantren gurunya Tgk. M. Irsyad Ie Leubeu di Yan Kedah. Di pesantren ini Abu Krueng Kalee sempat mengajar beberapa tahun dan kemudian dijodohkan oleh gurunya dengan seorang gadis yatim keturunan Aceh bernama Nyak Safiah binti Husein.

Atas panggilan pamannya Tgk. Muhamad Sa’id- Pimpinan Dayah Meunasah Baro- Tgk. M. Hasan pulang untuk mengabdi dan mengajar di Dayah tersebut. Tidak lama berselang, Abu Krueng Kalee membuka lembaga pendidikannya sendiri di Meunasah Blang yang hari ini terletak di Desa Siem bersebelahan dengan Desa Krueng Kalee, Kec. Darussalam, Aceh Besar.

Di tempat terakhir ini, Abu Krueng Kalee mulai mengabdikan seluruh ilmunya dan berhasil mencetak kader ulama-ulama baru berpengaruh dan berpencar di seluruh Aceh, Di antara murid-murid beliau yang berhasil menjadi ulama adalah :


  • Tgk. Syaikh Mahmud (Syaikh Mud) Blangpidie, ulama dan pendiri Dayah Bustanul Huda Blangpidie, Aceh Selatan (Sekarang Masuk dalam Wilayah Aceh Barat Daya).
  • Teungku Yusuf Peureulak, ulama dan ketua majelis ulama Aceh Timur.
  • Teungku Mahmud Simpang Ulim, ulama dan pendiri Dayah Simpang Ulim, Aceh Timur.
  • Tgk. H. M.Muda Waly Al Khalidy Labuhan Haji, pendiri Dayah Darussalam, Aceh Selatan. 
  • Tengku Muhammad Amin Jumphoih Kembang Tanjong Pidie
  • Tengku Syeh Ibrahim Ahmad Cot Cibrek Simpang Keuramat Aceh Utara
  • Tgk. H. Idris Lamreung (Ayah Alm. Prof. Dr. Safwan Idris, Mantan Rektor IAIN Ar-Raniry )  
  • Tgk Ishak Di Iboih kembang tanjong Pidie
  • Syaikh Syihabuddin, ulama dan pendiri Dayah Darussalam Medan, Sumatera Utara.
  • Kolonel Nurdin, mantanBupati Aceh Timur.
  • Teungku Ishaq Lambaro Kaphee, ulama dan pendiri Dayah Ulee Titie.
  • Teungku Ahmad Pante, ulama dan imam Masjid Baiturrahman Banda Aceh.
  • Tgk. H. Mahmud Blang Blahdeh, Bireuen.
  • Tgk. H. Abdul Rasyid Samlako Alue Ie Puteh
  • Tgk. H. Yusuf Kruet Lintang
  • Tgk. Haji Adnan Mahmud Bakongan
  • Teungku Hasan Keubok, ulama dan qadhi Aceh Rayeuk.
  • Teungku Muhammad Saleh Lambhuk, ulama dan imam Masjid Baiturrahman Banda Aceh.
  • Teungku Abdul Jalil Bayu, ulama dan pemimpin Dayah Al-Huda Aceh Utara.
  • Teungku Sulaiman Lhoksukon, ulama dan pendiri Dayah Lhoksukon, Aceh Utara.


Pada tahun 2007, senin 7 Mei, bertepatan dengan 19 Rabiul Akhir 1438 H. Sebuah forum tingkat tinggi ulama Aceh menggelar pertemuan kedua di Mesjid Raya Baiturrahman; pada pertemuan yang menghadirkan ratusan ulama Aceh ini menyimpulkan bahwa ada empat ulama Aceh yang telah sampai pada tingkat Ma’rifatullah. Keempat ulama itu, masing-masing 

1.      Syaikh Abdurrauf As-Singkili (Syiah Kuala),
2.      Syaikh Hamzah Fansuri,
3.      Tgk Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee, dan
4.      Tgk Syaikh H.Muhammad Waly Al-Khalidy ( Abu Muda Waly )

Peran Tgk. H. M. Hasan Krueng Kalee secara khusus sangat besar artinya bagi perekembanagn dan kemajuan pendidikan agama di Aceh pada masa berikutnya. Demikian pula kiprahnya dalam bidang politik telah memberi arti vital, dukungan dan semangat bagi kelangsungan RI yang ketika itu baru seumur jagung.

Kiprah dalam Politik dan Organisasi Islam



Satu hal yang menarik dikaji pada tokoh Abu Krueng Kalee adalah kiprahnya di dunia politik. Meski Abu Krueng Kalee seorang ulama salafiyah syafi'iyah dan sufi terkemuka di Aceh yang dikenal sangat fanatik, namun hal tersebut tidak lantas membuatnya jauh dari dunia politik yang seolah dianggap tabu dan berseberangan dengan ajaran agama.

Pada masa revolusi kemerdekaan, Teungku Haji Hasan Krueng Kalee ikut aktif berjuang menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia, para pemimpin perjuangan bukan hanya tokoh politik saja, tetapi juga dipelopori oleh ulama. Para ulama tidak bergerak sendiri-sendiri, melainkan bergabung dalam suatu organisasi seperti PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) dan lain-lain. 

Pada tanggal 1-2 Oktober 1932 ketika diadakan Musyawarah Pendidikan Islam di Lubuk, Aceh Besar, Tgk. H. Hasan Kruengkalee terlibat didalamnya. Pada kegiatan ini membicarakan masalah pembaruan dan perbaikan pendidikan Islam. Ulama-ulama terkemuka hadir menjadi peserta pada kegiatan tersebut, diantaranya adalah Tgk H. Hasballah Indrapuri, Tgk H. Abdul Wahab Seulimum, Tgk Muhammad Daud Beureueh, Tgk M.Hasbi Ash-Shiddiqy, Tgk Haji Hasan Kruengkalee Tgk. H.Trienggadeng dan lain-lain sebagainya.

Keputusan-keputusan yang diambil dari musyawarah pendidikan Islam tersebut adalah :

Ø  Tiada sekali-kali terlarang dalam agama islam kita mempelajari ilmu keduniaan yang tidak berlawanan dengan syariat, malah wajib dan tidak layak ditinggalkan buat mempelajarinya.
Ø  Memasukkan pelajaran-pelajaran umum itu ke sekolah-sekolah agama memang menjadi hajat sekolah-sekolah itu.
Ø  Orang perempuan berguru kepada orang laki-laki itu tidak ada halangan dan tidak tercegah pada syara.

Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Tgk. H. Hasan Krueng Kalee menandatangi sebuah pernyataan bersama mengenai perang kemerdekaan. Bersama tiga orang ulama besar yaitu Teungku haji Jakfar Siddiq Lamjabat, Teungku Haji Hasballah indrapuri dan Teungku Muhammad Daud Beureueh. Pernyataan itu menegaskan bahwa :

Menurut keyakinan kami bahwa perjuangan ini adalah perjuangan suci yang disebut perang sabil.Maka percayalah wahai bangsaku bahwa perjuangan ini adalah   sebagai sambungan perjuangan dahulu di Aceh yang dipimpin oleh     almarhum Teungku chik Ditiro dan pahlawan-pahlawan kebangsaan yang lain. Dan sebab itu bangunlah wahai bangsaku sekalian, bersatu padu menyusun     bahu, mengangkat langkah menuju ke muka untuk mengikut jejak perjuangan   nenek kita dahulu. Tunduklah dengan patuh akan segala perintah-perintah pemimpin kita untuk keselamatan tanah air agama dan bangsa.”

Pernyataan tersebut tertanggal 15 Oktober 1945. untuk menggerakkan orang-orang dewasa dan orang-orang tua agar berjihat dalam satu barisan teratur, barisan sabil atau barisan mujahidin. Pada tanggal 25 Oktober Tgk. H. Hasan Krueng Kalee mengeluarkan sebuah seruan tersendiri yang sangat penting. Seruan ini ditulis dalam bahasa Arab kemudian dicetak oleh Markas Daerah PRI (Pemuda Republik Indonesia) dengan surat pengantar yang ditandatangani oleh ketua umumnya Ali Hasjmy tertanggal 8 November 1945 Nomor 116/1945 dan dikirim kepada para pemimpin dan ulama diseluruh Aceh. Setelah seruan penting itu tersiar luas, maka berdirilah barisan Mujahidin di seluruh Aceh yang kemudian menjadi Mujahidin Devisi Teungku Chik Ditiro.

Pada masa itu Tgk Haji Hasan Krueng Kalee merupakan salah seorang penasehat PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), yaitu salah satu organisasi yang bertujuan untuk mendidik masyarakat melalui organisasi tersebut guna meningkatkannya menjadi wadah pendidikan yang lebih berdaya guna. Tetapi pada masa hangat-hangatnya perjuangan membela tanah air, organisasi ini menjadi pelopor dalam menggerakkan pemberontakan terhadap pemerintah Belanda, seperti yang dikemukakan oleh Prof. A. Hasjmy dalam salah satu tulisannya.

Pada awal tahun 1942 PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) dan PERTI ( Persatuan Tarbiyah Islamiyah) menggerakkan sebuah pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda di Aceh, adalh hal yang logis karena para pemuda yang aktif dalam pemberontakan tersebut sebagian besar mereka yang telah ditempa iman dan semangat jihadnya dalam madrasah-madrasah, yang sistem pendidikan dan kurikulumnya telah diperbaharui.

Dapat diketahui bahwa hanya dua organisasi Islam yang tampil sebagai pelopor yang menggerakkan pemberontakan rakyat terhadap penjajahan Belanda, meskipun banyak juga organisasi-organisasi lain yang mulai tumbuh di Aceh. Dengan demikian para ulama tergabung dalam organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah maupun Perasatuan Ulama Seluruh Aceh, juga para pemuda yang telah ikut aktif dalam pemberontkan terhadap Belanda. Melalui wadah organisasi ini pula bersama-sama dengan ulama-ulama lain seperti disebutkan diatas Teungku Haji Hasan Krueng Kalee mengeluarkan fatwa tentang perlunya seluruh rakyat berperang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dengan jalan jihad fi sabilillah, hal ini terjadi pada tanggal 15 Oktober 1945.

Almarhum Teungku Haji Hasan Krueng Kalee juga telah mengeluarkan fatwa tentang seruan jihad fi sabilillah untuk melawan Belanda pada tanggal 15 Oktober 1945, dalam rangka mempertahankan Negara Republik Indonesia yang ditangani oleh beberapa ulama Aceh lainnya, diantaranya oleh Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, Teungku Haji Muhammad Daud Beureueh, Teungku Ja’far Lamjabat alias Teungku Syik Lamjabat dan Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri (Teungku Indrapuri).

Dari uraian diatas jelas bahwa Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, pada awal tahun proklamasi Republik Indonesia, beliau pernah mengeluarkan fatwa Aceh, tentang seruan jihad fisabilillah melawan Belanda dalam rangka mempertahankan Indonesia merdeka bersama-sama ulama Aceh lainnya. Meskipun pada masa setelah kemerdekaan, mulai muncul organisasi islam yang lain, namun Teungku Haji Hasan Krueng Kalee tetap menyalurkan aktifitasnya melalui organisasi PERTI.

Himbauan jihad diatas, telah menggerakkan masyarakat tampil ke medan juang di tanah Aceh untuk merebut kemerdekaan dan mempertahankannya. Mereka umumnya tergabung dibawah organisasi misalnya PERTI, PUSA, Kasyafatul Islam, Muhammadiyah, Permindo (Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia), maupun organisasi-organisasi Islam lainnya.

Kiprah politik Abu Krueng Kalee juga terlihat dalam kasus perang Cumbok antara pasukan Uleebalang (Hulubalang) Aceh pimpinan Teuku Daud Cumbok dengan pasukan pejuang Aceh yang mendukung kemerdekaan RI. Pada dasarnya tidak semua ulama setuju dengan perang ini. Abu Krueng Kalee salah seorang di antaranya. Abu Krueng Kalee lah yang di utus pihak pejuang Aceh di Kuta Raja untuk menemui Teungku Daud Cumbok agar mau berdamai. Namun ajakan itu ditolak. Atas sikapnya yang netral itu beliau diangkat oleh Komite Nasional Daerah Aceh menjadi salah seorang anggota tim penyelidikan asal-usul tragedi besar “perang saudara” yang telah merenggut sekitar 1500 nyawa rakyat Aceh dipenghujung tahun 1945 tersebut.

Ketika peristiwa DI/TII meletus di Aceh tahun 1953, seorang utusan Daud Beureueh datang menjumpainya untuk mengajak bergabung dalam barisan DI/TII. Namun beliau menolak dengan sebuah ungkapan yang masyhur; “Ta Peu’ek Geulayang Watei na Angen.” (terbangkanlah layang-layang ketika angin kencang). Ungkapan ini bermakna bahwa keputusan Abu Beureu’eh dan kawan-kawan ketika itu tidak di dukung oleh situasi dan kondisi yang tepat, tidak akan membuahkan hasil dan justru akan menyengsarakan rakyat.

***



Pada tanggal 19 Januari 1973, tepatnya malam Jum’at sekitar pukul 03.00 dini hari, Abu Krueng Kalee menghembuskan nafasnya yang terakhir. Meninggalkan tiga orang istri; Tgk. Hj. Nyak Safiah di Siem; Tgk. Nyak Aisyah di Krueng Kalee; dan Tgk. Hj. Nyak Awan di Lamseunong. Dari ketiga istri tersebut Abu Krueng Kalee Meninggalkan Tujuh belas orang putra dan putri. Salah seorangnya yaitu Tgk. H. Syech Marhaban sempat menjabat Mentri Muda Pertanian pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Tgk. H. Hasan Krueng Kalee memang telah tiada, namun dengungan suara tahlil dan shamadiyah menurut tarekat Al-Haddadiyah masih menggema dan terus terdengar di berbagai desa dan kota di Serambi Mekkah. Seiring dengan itu fatwa syahid yang beliau keluarkan masih terus relevan dan memberi motivasi sendiri bagi masyarakat Aceh dalam mengisi kemerdekaan dan pembangunan.

© Infokom PD OPI Aceh 

Postingan Populer